Home / Berita / AP II Rilis Perkiraan Pertumbuhan Pendapatan pada Semester I/2019

AP II Rilis Perkiraan Pertumbuhan Pendapatan pada Semester I/2019

PT Angkasa Pura II (Persero) merilis perkiraan pertumbuhan pendapatan pada semester I/2019 seiring dengan penurunan jumlah penumpang maksimal hanya sebesar 5%.

Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin mengatakan, pihaknya akan menggenjot bisnis inorganik baik dari struktur core business maupun adjacent business. Bisnis inorganik tidak dibatasi dengan regulasi seperti bisnis organik.

Revenue masih tumbuh, tetapi sudah di bawah 5%. Mungkin akan diumumkan [realisasinya] pada semester I,” kata Awaluddin, Selasa (21/5/2019).

Berdasarkan data AP II, sepanjang kuartal I/2019 jumlah penumpang hanya mencapai 21,8 juta orang. Realisasi tersebut lebih rendah 18,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni 26,9 juta orang.

Pihaknya mengakui penurunan jumlah penumpang tersebut mempengaruhi pendapatan. Namun, pendapatan sepanjang kuartal I/2019 masih tumbuh sekitar 1%.

Pertumbuhan tersebut diakui jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu yang dapat bisa mencapai dua digit. Namun, pendapatan AP II masih tumbuh karena dikompensasi dari adjacent business.

“Asumsi akan ada perhitungan ulang terhadap target basisnya semester I. Alternatif kompensasi kami berharap beberapa transaksi inorganik bisa maksimal. Sekarang belum bisa diomongin karena transaksi inorganik sifatnya tertutup,” tuturnya.

Pihaknya menjelaskan struktur pendapatan perseroan terdiri dari core business dan adjacent business. Keduanya dibagi menjadi organik dengan pertumbuhan normal dan inorganik yang bisa diakselerasi.

Core business merupakan lini usaha yang sudah dijalankan selama puluhan tahun yang terdiri atas pendapatan aeronautika, nonaeronautika, dan bisnis kargo. Bisnis nonaeronautika pada core business ini lebih pada usaha konvensional, seperti penyewaan gerai untuk ritel.

Di sisi lain, adjacent business secara organik tidak dibatasi regulasi. AP II mengerjakan airport digital business yang terdiri atas airport big data, airport e-advertising, airport e-commerce, airport e-payment, dan airport community.

“Ini yang akan dikembangkan terus. Tahun lalu kami bisa dapat Rp76 miliar, dan ruang pertumbuhan masih sangat luas karena tidak dibatasi regulasi,” ujarnya.

Selanjutnya, core business inorganik seperti akuisisi bandara melalui kerja sama pemanfaatan. Adapun, adjacent inorganik contohnya seperti program strategic partnership dengan pihak lain.

Sumber Bisnis,edit koranbumn

Check Also

4 Pembangkit Energi Baru untuk Papua

Perusahaan Lisrik Negara menetapkan empat pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) untuk Provinsi Papua dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *