Home / Berita / BKI Jadi Induk Perusahaan, Holding BUMN Survei Terbentuk Desember 2019

BKI Jadi Induk Perusahaan, Holding BUMN Survei Terbentuk Desember 2019

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan holding jasa survei terbentuk pada akhir tahun ini.

Kelak, PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) bakal menjadi induk perusahaan yang beranggotakan PT Surveyor Indonesia dan PT Sucofindo.

Rudiyanto, Direktur Utama BKI yang sekaligus menjadi koordinator pembentukan holding jasa survei BUMN, mengungkapkan, pihaknya memproyeksikan proses pembentukan holding bisa rampung pada Desember 2019.

Memang skema holding sudah rampung sejak Oktober 2018 lalu. Tapi pembentukannya masih memerlukan waktu.

“Ada sejumlah persiapan yang harus diselesaikan, seperti prosedur legal, administrasi, dan juga dari sisi kesiapan operasional yang harus ditelaah kembali,” katanya, Jumat (23/8).

Sejumlah pembahasan masih dibutuhkan karena BKI, Surveyor Indonesia, dan Sucofindo memiliki penugasan masing-masing dari sejumlah kementerian, terkait dengan jasa survei, inspeksi, pengujian dan sertifikasi.

Yang terpenting, kata Rudiyanto, pihaknya sudah mengantongi persetujuan prinsip dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Alhasil, tinggal menuntaskan proses harmonisasi di tingkat kementerian, sembari memantapkan integrasi teknis dan administratif dari tiga BUMN tersebut.

Ia pun berharap dengan pembentukan holding tersebut, pangsa pasar BUMN di sektor ini semakin lebar, karena masing-masing anggota hoding memiliki segmentasi tersendiri.

“Secara agregat, pangsa pasar dari ketiga BUMN jasa survei sekarang ini baru mencapai sekitar 36%. Targetnya lebih dari 50% secara gradual dalam tiga sampai lima tahun,” ujar dia.

Menguntungkan buat BUMN

Direktur Komersial II PT Sucofindo M Haris Witjaksono memastikan pembentukan holding ini tidak akan mengganggu kinerja bisnis dan operasional perusahaan anggota holding.

Malah, kata dia, holding ini akan menguntungkan bagi ketiga BUMN tersebut. “Justru dengan holding ini beberapa opportunity seperti proyek skala besar yang tidak bisa kita kerjakan sendiri, bisa dikerjakan bersama,” jelasnya.

Dengan begitu, secara keseluruhan kapasitas utilisasi aset perusahaan juga bisa menjadi lebih baik.

“Kebetulan kan, cabang kita paling banyak. Jadi, jika yang lain ada pekerjaan di tempat Sucofindo beroperasi bisa menggunakan (infrastruktur) kita, begitu sebaliknya,” ujarnya.

Haris menambahkan, tuntutan pasar dalam jasa survei, standar, kualitas, dan sertifikasi akan semakin besar. Sebab itu, penguatan manajemen, operasional, dan aset melalui holding bisa menjawab perkembangan pasar tersebut.

Sebagai salah satu pengguna jasa survei, Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) menyambut positif pembentukan holding ini.

Tjahjono Roesdianto, Anggota Dewan Penasehat Iperindo, berharap, holding bisa memperkuat pelayanan BUMN sektor jasa survei kepada pelanggan.

Kendati begitu, Tjahjono memberikan catatan dan menekankan agar holding BUMN jasa survei harus tetap kompetitif.

“Jadi setelah menjadi holding jangan merasa besar, lalu tidak mendatangi market. Karena sudah integrasi, harus lebih customer oriented,” tukasnya.

Sumber Bisnis, edit koranbumn

Check Also

5 Prioritas Presiden Jokowi, Masa Lima Tahun ke Depan

Presiden Joko Widodo menyampaikan lima aspek yang menjadi prioritas dalam periode kedua pemerintahannya sepanjang 2019 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *