Home / Berita / BRI Kembangkan Inovasi Digital Lewat BRI Agroniaga sebagai Digital Attacker.

BRI Kembangkan Inovasi Digital Lewat BRI Agroniaga sebagai Digital Attacker.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mengembangkan inovasi digital lewat anak usaha. PT BRI Agroniaga Tbk. ditunjuk menjadi digital attacker.

“BRI Agro punya peran baru yaitu diposisikan sebagai digital attacker bank,” kata Direktur Teknologi dan Operasi BRI Indra Utoyo kepada Bisni, belum lama ini.

Indra menambahkan bahwa selain lewat anak usaha, BRI sendiri telah berkerja sama dengan 8 perusahaan finansial terbasis teknologi (tekfin). Hal ini diharapkan membantu BRI untuk semakin mendigitalisasi layanan keuangan.

Indra melanjutkan bahwa fungsi kantor cabang fisik lambat laun akan bergeser hanya untuk konsultasi atau peran perbankan yang tidak bisa dilakukan tanpa tatap muka secara langsung. Layanan transaksi hampir dipastikan seluruhnya pindah ke ponsel pintar.

Namun, hal itu tentu akan cepat diadaptasi oleh segmen nasabah yang paling banyak terkena paparan teknologi. “Kota besar pasti cepat. Daerah-daerah terpencil mungkin akan lebih lama untuk adaptasi,” ujar Indra.

Selain fokus pada penerapan bank digital, BRI juga tengah mendigitalisasi layanan perbankan tradisional. Sebanyak 34.000 gawai yang telah distandarisasi dibagikan kepada account officer untuk mempercepat proses pencairan kredit. Hal itu telah berimbas pada produktivitas. BRI mengklaim proses kredit bisa dipercepat hingga 1 hari.

Dengan demikian saat ini BRI memiliki dua core banking. “Sekarang dipisah. Ada yang tradisional itu kami digitize, ada yang benar-benar baru itu digital,” jelas Indra.

Direktur Konsumer BRI Handayani juga menjelaskan hal serupa. BRI sebagai perusahaan induk saat ini memiliki aplikasi My BRI yang nantinya akan terus dikembangkan menjadi layanan keuangan digital komprehensif. “Tapi untuk saat ini kami bergerak melalui anak usaha untuk bersaing,” jelasnya.

Seperti diketahui BRI Agro telah meluncurkan pinjaman kredit dalam jaringan bernama Pinang. Pinjaman melalui ponsel pintar yang diluncurkan pada akhir Februari itu memiliki plafon setara dengan layanan pembiayaan (peer to peer/P2P) milik perusahaan tekfin. Layanan ini diklaim akan menjangkau kebutuhan pinjaman yang sebelumnya tidak masuk dalam rentang kredit mikro perbankan.

“Induk juga akan masuk ke sana. Kami harus ikut tren di pasar,” kata Handayani .

Sementara itu BRI Agro menargetkan portofolio kredit tanpa agunan (KTA) sebesar Rp750 miliar atau tumbuh 30% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada tahun ini. Layanan pinjaman dalam jaringan atua Pinang akan berperan penting.

Direktur BRI Agroniaga Agus Noorsanto mengatakan bahwa lebih kurang 40% dari total KTA akan berasal dari Pinang, layanan pinjaman dalam jaringan. “Target tahun ini penyaluran pinjaman Pinang itu 75.000 peminjam dengan nilai Rp300 miliar lebih,” katanya.

Suku bunga Pinang dipatok sebesar 1,24% per bulan dengan plafon mulai dari Rp500.000 hingga Rp20 juta. Tenor yang ditawarkan 1 bulan hingga 12 bulan.

Namun tidak seperti tekfin, layanan Pinang baru bisa dinikmati oleh nasabah payrollBRI Agro dan induk. Hal ini merupakan satu strategi mitigasi risiko perseroan.

Pada tahap awal, BRI Agro telah bekerja sama dengan PT Sri Rejeki Isman (Sritex) dengan menargetkan 17.000 pekerja bisa melakukan pinjaman melalui Pinang. Perseroan berharap pada 2020 Pinang dapat menjangkau non nasabah.

Sumber BRI, edit koranbumn

Check Also

Komitmen Telkom Indonesia Hadirkan Konektivitas dan Digitalisasi Hingga Wilayah 3T, Indihome Kini Hadir di Pulau Rote

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) berkomitmen untuk selalu ada dan berkontribusi menghadirkan konektivitas di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *