Home / Berita / BRI Siap Garap Peluang Potensi Supply Chain Financing yang Mencapai Rp39 Triliun

BRI Siap Garap Peluang Potensi Supply Chain Financing yang Mencapai Rp39 Triliun

PT Bank Rakyat Indonesia BRI (Persero) Tbk. menyatakan terdapat potensi penyaluran pembiayaan rantai pasok atau supply chain financinghingga Rp39 triliun kepada mitra-mitra korporasi dari perseroan.

Direktur Ritel dan Menengah PT Bank Rakyat Indonesia BRI (Persero) Tbk. Supari menjelaskan, pembiayaan rantai pasok masih kerap belum terpenetrasi dengan baik di beberapa negara, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut dinilai sebagai peluang yang dapat digarap BRI, sembari menambah portofolio pinjamannya di skala regional.

Supari menjelaskan, pihaknya kemudian menghitung potensi penyaluran pembiayaan rantai pasok yang dapat digarap oleh bank dengan aset terbesar di Indonesia tersebut. Ditemukan bahwa terdapat potensi hingga Rp39 triliun dari 20 lebih mitra korporasi BRI yang termasuk dalam kategori platinum.

“Mereka punya basis supply chain yang sangat besar. Itu kami cascading, kira-kira kalau kami memberikan pembiayaan kepada mereka bisa sampai Rp39 triliun potensinya. Kalau 1 tahun [menyalurkan] Rp1 triliun saja hidup kami masih bisa 39 tahun lagi,” ujar Supari pada Senin (26/8/2019).

Dia menjabarkan, meskipun terdapat potensi besar, perbankan masih terkendala untuk menyentuh rantai pasok di level bawah. Menurut Supari, pembiayaan yang disalurkan perbankan saat ini masih cenderung berada di rantai pasok level atas.

Salah satu langkah untuk mengoptimalkan potensi tersebut menurutnya adalah dengan menggaet perusahaan teknologi finansial (tekfin) peer-to-peer (P2P) lending.Supari menjelaskan, layanan tekfin yang sepenuhnya terdigitalisasi dapat dengan mudah menyentuh rantai pasok di level bawah sehingga seluruh potensi dapat dioptimalkan.

Selain itu, menurut Supari, penyaluran pembiayaan melalui tekfin pun berpotensi memberikan return yang lebih besar dibandingkan dengan penyaluran secara konvensional. Dia mencontohkan, dalam kerja sama penyaluran pendanaan untuk pinjaman dengan PT Investree Radhika Jaya, BRI bisa mendapatkan return di atas 13%.

“Sudah return-nya lebih tinggi, kemudian kami lebih efisien karena kan tidak menggunakan overhead yang lebih besar dibandingkan dengan [penyaluran pinjaman] cara-cara konvensional,” ujar dia.

Supari pun menjelaskan bahwa BRI akan menggarap potensi pembiayaan rantai pasok tersebut melalui platform Investree. Co-Founder & CEO Investree Adrian Gunadi menjelaskan, pihaknya akan menghubungkan seluruh bagian rantai pasok, seperti vendor, reseller, hingga sub distributor.

Adrian menjabarkan, potensi pembiayaan rantai pasok di Indonesia sangat besar. Namun, potensi tersebut baru dapat dioptimalkan jika perusahaan memiliki strategi yang tepat.

“Kalau bicara mengenai potensi pembiayaan UMKM saja di Indonesia, total yang masuk ke segmen supply chain financing itu kalau tidak salah sekitar US$20–30 miliar. Itu potential size-nya, salah satu tolak ukur lah,” ujar Adrian pada Senin (26/8/2019).

Dia menjelaskan, kerja sama perusahaan tekfin dengan perbankan dapat menjadi cara untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Bank bertugas menggarap rantai pasok level atas sedangkan tekfin menyebar ke rantai pasok level bawah

Sumber Bisnis, edit koranbumn

Check Also

5 Prioritas Presiden Jokowi, Masa Lima Tahun ke Depan

Presiden Joko Widodo menyampaikan lima aspek yang menjadi prioritas dalam periode kedua pemerintahannya sepanjang 2019 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *