Home / Berita / Bulog Optimistis Masih Bisa Serap Beras dengan Harga Pembelian Pemerintah

Bulog Optimistis Masih Bisa Serap Beras dengan Harga Pembelian Pemerintah

Perum Bulog optimistis masih bisa menyerap beras dengan harga pembelian pemerintah (HPP) yang saat ini masih Rp4.030 per kg. Padahal, serapan beras oleh perseroan itu masih minim.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar mengatakan bahwa sejauh ini perseroan masih bisa menyerap gabah sesuai dengan harga acuan atau HPP fleksibilitas 10%, yakni Rp4.030 per kg dan beras Rp8.060 per kg.

Menurutnya, perseroan dapat menyerap gabah antara 10.000 ton—13.000 ton per hari.

“HPP memang belum dinaikkan, masih dijajaki sampai sekarang. Namun, kami pun sebenarnya masih bisa menyerap beras nyatanya minimal per hari 10.000 ton lebih. Pemerintah pun memutuskan sejauh ini pakai fleksibilitas [HPP] 10%,” katanya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Bachtiar menambahkan, kendati harga gabah terus naik menjelang panen gadu, penyerapan Bulog tidak akan terganggu. Pasalnya, perusahaan pelat merah itu diberikan amunisi lain berupa penyerapan beras dan gabah dengan skema komersial, yaitu mengikuti harga pasar.

Beras akan diserap sebagai kategori premium, tetapi seandainya dilepas sebagai cadangan beras pemerintah (CBP) akan digantikan selisih harganya.

“Misalkan situasi harga naik terus kami bisa beli komersial, tetapi lebih kepada buy to sell [beli untuk dijual] pengadaannya. Itu pun sudah berjalan. Beras premium kami kan komersial,” katanya.

Dengan skema pembelian beras dan gabah secara komersial, ada kemungkinan stok beras komersial Bulog akan membesar. Namun, ketika dikonfirmasi hal tersebut, Bachtiar menjawab kemungkinan selalu ada, tetapi itu tergantung situasi serta permintaan konsumen.

Stok beras Perum Bulog sejauh ini sebanyak 2,1 juta ton. Di mana 1,8 juta di antaranya adalah sisa impor tahun lalu yang belum dimanfaatkan. Sementara itu, pengadaan gabah setara beras tahun ini telah mencapai 430.024 ton.

Target pengadaan sampai dengan akhir Mei 2019 dipatok sebesar 1,6 juta ton. Meskipun penyerapan masih lemah yakni 24% per 15 Mei 2019, Bachtiar tetap meyakinkan bahwa target optimistis tercapai tanpa ada hambatan berarti.

“Jumlah serapan itu tidak rendah karena kami efektif menyerap baru 2 bulan. Antara Januari—Februari kosong [tidak ada panen]. Lagipula stok kami sekarang 2,1 juta ton, itu pun tidak melambatkan penyerapan, karena tetap kami serap,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, stok yang banyak di gudang tidak menyurutkan penyerapan.

sumber Bisnis, edit koranbumn

Check Also

Hingga Kuartal III/2019, Total Pelanggan PLN Berjumlah 74,16 Juta

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus gencar menambah jumlah pelanggan. Hingga kuartal III 2019, jumlah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *