Home / Berita / Daily Economic Review: Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Tumbuh Signifikan pada 2Q19

Daily Economic Review: Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Tumbuh Signifikan pada 2Q19

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) pada 2Q19 tumbuh agresif sebesar 20,7%.

Pencapaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun 2018, yaitu sebesar 6,5% ataupun pada kuartal I-2019 yang sebesar 19,0%. Pertumbuhan industri TPT yang tinggi pada kuartal II ini disebabkan adanya momentum Ramadan dan Lebaran. Pertumbuhan Pertumbuhan yang tinggi tersebut dapat mendorong kontribusi ekspor nasional terutama produk tekstil atau garmen.

Ekspor garmen Indonesia pada 2Q19 tumbuh pesat sebesar 25,6% dibandingkan periode sebelumnya yaitu 6,6%.

Kami memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekspor garmen pada akhir tahun 2019, 2020 dan 2021 akan mencapai 13,7%, 15,5% dan 18,0%. Tim riset Office of Chief Economist mengestimasikan total ekspor garmen pada akhir tahun 2019 akan mencapai USD9,9 milliar. Pertumbuhan yang tinggi pada industri TPT sebagian besar diperoleh dari kontribusi ekspor garmen, bukan tekstil.

Indonesia menduduki peringkat 5 terbesar impor garmen Amerika Serikat.

Impor garmen Amerika Serikat terus tumbuh positif. Pada 1Q19, pertumbuhan impor garmen Amerika Serikat adalah sebesar 5,6%, meningkat dari periode sebelumnya, yaitu 2%. Peningkatan impor garmen Amerika Serikat tidak terlepas dari ekspor garmen Indonesia. Lima terbesar impor garmen Amerika Serikat berasal dari Tiongkok, Vietnam, India, Bangladesh dan Indonesia dengan market share pada 1Q19 berturut-turut sebesar 32,7%, 13,3%, 7,4%, 6,5% dan 5%.

Walaupun pertumbuhannya tinggi, industri TPT memiliki banyak tantangan.

Saat ini tarif bea impor untuk produk bahan baku tekstil tidak merata. Impor benang dan serat kain dikenakan bea masuk sebesar 15%-20%, sementara impor kain tidak dikenakan bea impor. Hal ini membuat pelaku industri TPT untuk membeli kain impor dari luar negeri yang harganya lebih murah jika dibandingkan menenun benang dari awal. Hal ini memicu adanya disharmonisasi tarif.

Kementerian Perindustrian berjanji untuk lebih fokus terhadap pengembangan industri TPT.

Hal ini dibuktikan dengan menetapkan industri TPT menjadi satu dari lima sektor manufaktur yang sedang diprioritaskan pengembangannya sebagai sektor pionir sesuai dengan peta jalan Indonesia dalam kerangka Industri 4.0 dan akan segera melakukan harmonisasi tarif. Target pemerintah dalam kurun waktu tahun 2030, industri TPT dapat masuk ke dalam lima produsen tekstil terbesar di dunia. Pemerintah juga yakin bahwa industri TPT nasional dapat semakin kompetitif di pasar global, terutama garmen yang telah memiliki daya saing yang tinggi, hal ini dikarenakan sistem integrasi dari hulu ke hilir dan produknya memiliki kualitas yang baik di pasar internasional. 

Sumber Bank Mandiri, edit koranbumn

 

Check Also

Pesan Presiden Jokowi ke Erick Thohir, “BUMN Ekspansi ke Pasar Modal”

Presiden Joko Widodo punya pesan khusus untuk menteri baru yang menangani Badan Usaha Milik Negara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *