Home / Berita / Desa Wisata di Sekitar Candi Borobudur yang Layak di Kunjungi

Desa Wisata di Sekitar Candi Borobudur yang Layak di Kunjungi

Desa-desa di sekitar Candi Borobudur saat ini telah ditata menjadi desa wisata yang layak anda kunjungi. Tidak hanya berkeliling, anda juga bisa turun dan menikmati berbagai fasilitas wisata edukatif ala desa yang menarik. Mulai dari kuliner, kerajinan, hingga seni menjadi menu yang layak anda coba.

Candi Borobudur saat ini masih dikunjungi 245 ribu wisman per tahun. Menteri Pariwisata Arief Yahya berupaya mempopulerkan Candi Borobudur kepada dunia dan membangun infrastruktur agar wisman bisa mencapai candi Buddha terbesar dengan mudah.

Arief Yahya menargetkan Borobudur dikunjungi tujuh juta orang per tahun pada 2019. Rincinya, dua juga wisman dan lima juta wisnus. Jika target itu terpenuhi, desa-desa wisata di sekeliling Candi Borobudur akan semakin makmur.

Alternatif transportasi untuk berkeliling desa pun beragam. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun dengan tour yang tersedia di Candi Borobudur sendiri seperti sepeda yang disewakan, andong atau kereta kuda, hingga gajah safari.

Beberapa desa sudah terkenal di berbagai media sosial. Salah satunya adalah Desa Wanurejo. Desa wisata yang paling popular ini terletak sangat dekat dengan Borobudur dan telah lama menjadi tujuan wisatawan mancanegara dan nusantara. Atraksi menarik di desa ini adalah kuliner seperti keripik tempe dan kue clorot. Ada juga batik tulis khas Magelang, bumi perkemahan, atraksi kesenian dan kerajinan tangan.

Ada juga Desa Tanjungsari. Di desa ini, anda bisa melihat proses pengambilan madu. Jika ingin mengetahui informasi seputar saja madu asli, datang ke Desa Tanjungsari. Anda juga bisa mencoba ikutan beternak lebah madu. Desa berlatar Bukit Menoreh ini terletak 3 km dari Candi Borobudur dan menawarkan atraksi kerajinan ornamen, kesenian, dan lainnya. Jika ingin bermalam di desa ini, banyak homestay murah meriah.

Sedangkan Desa Candirejo anda dapat merasakan kembali suasana desa yang dikelilingi lanskap pertanian. Sekujur desa terlihat alami dan hanya sedikit tersentuh modernisasi. Di desa ini juga ada upacara Nyadran, mengirim doa tahunan untuk para leluhur desa di bulan Ruwah atau menjelang Ramadhan. Upacara besar lainnya adalah Saparan dan Perti Desa (Bersih Desa/Sedekah Bumi) setiap tanggal 15 bulan Sapar (kalender Jawa). Kesenian tradisionalnya adalah karawitan, wayang dan Tarian Gatholoco/Wulangsunu. Anda bisa mendapatkan cinderamata khas desa ini, yakni kerajinan bambu dan pandan.

Check Also

Dirut Bintang Perbowo Berikan Materi kepada Karyawan MT HK 2019

Untuk menyambut segenap MT Hutama Karya, pada hari Selasa yang lalu, tepatnya 9 Juli 2019 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *