Home / Anak Perusahaan / Digitalisasi Pembangkit Jawa Bali

Digitalisasi Pembangkit Jawa Bali

Era industri 4.0 kini sudah merambah ke semua lini, dari sektor keuangan sampai pembangkit listrik. Persaingan antar perusahaan semakin ketat dan menuntut efisiensi operasional harus dilakukan.

Salah satu industri ketenagalistrikan di Indonesia yang sudah mulai menerapkan digitalisasi adalah PT Pembangkit Jawa Bali atau PJB. Anak usaha PTPLN (Persero) ini menerapkan digitalisasi dalam proses pemantauan pembangkit listrik.

PJB memiliki sistem REMDO (Remote Engineering, Monitoring, Diagnostic, and Optimization). Sistem tersebut tersambung secara online dan real time ke seluruh pembangkit listrik yang dikelola PJB.

“Sistem REMDO ini kami design untuk menghadapi era revolusi industri 4.0. Dengan sistem ini kami bisa memantau secara real time kondisi pembangkit dari jarak jauh,” kata Direktur Operasi PJB, Sugiyanto, dalam media Gathering PJB di Surabaya, akhir pekan lalu.

Saat mengunjungi ruangan REMDO yang berada di kantor pusat PJB di Surabaya, Jawa Timur, terlihat banyak monitor dan beberapa pekerja tengah memantau sistem pergerakan pembangkit listrik. Dengan adanya monitoring secara online tersebut, bisa segera dilakukan langkah preventif untuk mengantisipasi kendala.

Sugiyanto mengatakan, dengan sistem REMDO, para teknisi PJB dapat mengawasi 15 pembangkit yang dikelola perusahaan dari engineering center yang terletak di kantor pusat di Surabaya, Jawa Timur.

Dari engineering center tersebut, para teknisi PJB bisa memberikan saran ke teknisi di masing-masing pembangkit untuk mengatasi masalah yang terjadi di lapangan sehingga keandalan pembangkit meningkat.

Dengan adanya sistem tersebut, PJB mengklaim bisa melakukan efisiensi di beberapa pembangkit yang menjadi proyek percontohan. Adapun sebelum diterapkan sistem advance analysis, REMDO menggunakan sistem manual analisis terlebih dahulu untuk memasukkan data-data.

Menurut Sugiyanto, dengan sistem tersebut PJB mampu bersaing dengan pembangkit baru yang lebih canggih dan efisien. Sebab, selain efisiensi dari sisi biaya operasional, keandalan mesin juga bisa terus dijaga. Menurut dia, efisiensi bisa mencapai puluhan juta rupiah setiap pekannya setelah diterapkan sistem tersebut.

Tak hanya PJB, anak usaha PLN lainnya, PT Indonesia Power, juga menerapkan sistem online di Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Grati di Pasuruan, Jawa Timur, juga menerapkan hal serupa.

Pembangkit yang memiliki tiga blok dengan kapasitas 3 x 450 megawatt (mw), ini juga menerapkan sistem digital dalam pemantauan kinerja pembangkit. Ada ruangan khusus yang bisa memonitor seluruh pergerakan pembangkit di PLTGU Grati.

“PLTGU Grati saat ini standby untuk cadangan pasokan listrik. Kami terapkan digitalisasi untuk tetap mampu menjaga keandalan pembangkit,” kata General Manager PLTGU Grati, Mulyadi.

Dengan diterapkannya sistem online tersebut, Mulyadi mengatakan seluruh unit pembangkit terkoneksi dan bisa dipantau secara digital oleh unit monitoring. Dengan demikian, kata dia, langkah preventif untuk menjaga keandalan mesin bisa dilakukan secara maksimal.

“Era industri 4.0 ini menuntut untuk dilakukan terobosan demi menjaga efisiensi pasokan listrik dari pembangkit,” ujarnya.

Sumber Kumparan, edit koranbumn

Check Also

Dirut Bintang Perbowo Berikan Materi kepada Karyawan MT HK 2019

Untuk menyambut segenap MT Hutama Karya, pada hari Selasa yang lalu, tepatnya 9 Juli 2019 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *