Home / Berita / Ekonom Bhima Yudhistira Dorong Pemerintah Turunkan ICOR ke level 4

Ekonom Bhima Yudhistira Dorong Pemerintah Turunkan ICOR ke level 4

Salah satu isu yang disasar pemerintah dalam melakukan transformasi ekonomi Indonesia ialah menurunkan incremental capital-output ratio alias ICOR yang masih cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain.

ICOR merupakan salah satu parameter yang dapat menunjukkan tingkat efisiensi investasi di suatu negara. Semakin kecil angka ICOR, biaya investasi yang harus dikeluarkan semakin efisien juga untuk menghasilkan output tertentu.

Tahun 2014, ICOR Indonesia tercatat sebesar 5.5. Angka tersebut lumayan tinggi dibandingkan Vietnam 5,2, India 4,9, Malaysia 4,6, Thailand 4,5,dan Filipina 3,7.

Namun, di saat rata-rata negara Asia Tenggara mengalami penurunan ICOR ke kisaran 3-4, Indonesia justru mencatat ICOR lebih tinggi yaitu menyentuh 6,3 pada 2018.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, tingginya ICOR menjadi masalah bagi Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. “Untuk konteks Indonesia, idealnya ICOR bisa di bawah 4,” ujar Bhima, Jumat (9/8).

Bhima berpendapat, ada beberapa hal yang menjadi kunci untuk menurunkan biaya berinvestasi di Indonesia.

Pertama, melalui pembangunan infrastruktur yang tepat sasaran untuk menurunkan biaya logistik yang umumnya masih sangat tinggi. Bhima mencatat, biaya logistik yang mencapai 24% dari PDB menjadi beban utama tingginya ICOR saat ini.

Kedua, pemerintah mesti serius memberantas korupsi, pungutan liar, dan segala bentuk inefisiensi birokrasi. Budaya birokrasi demikian, membuat proses berbisnis dan berinvestasi di Indonesia jauh lebih rumit dan mahal dibandingkan dengan negara lain.

“Ketiga, pemerintah meningkatkan koordinasi antara tingkat pusat dan daerah sehingga hambatan-hambatan investasi akibat kurang sinkronnya regulasi bisa berkurang,” lanjut Bhima.

Terakhir, pemerintah mesti mendorong realisasi investasi. Bhima mengatakan, salah satu penyebab tingginya ICOR ialah lambatnya realisasi komitmen investasi oleh para investor. Pembebasan lahan untuk pembukaan pabrik baru, misalnya, bisa memakan waktu panjang 5-10 tahun.

“Ini yang pemerintah harus bantu, dari mulai proses pembebasan lahan, sampai keluhan lain yang membuat investor masih tunda pengerjaan proyek investasinya,” ujar Bhima.

Sumber Kontan, edit koranbumn

Check Also

BNI Bukukan Transaksi Digital Meningkat 150 Persen Hingga September 2019

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. menyatakan transaksi digital melalui e-channel, khususnya mobile banking meningkat signifikan hingga September …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *