Home / Berita / Empat BUMN Pelabuhan Siapkan Belanja Modal Rp32 triliun di Tahun Ini, Sebagian Besar untuk Garap Proyek Strategis Nasional.
sumber: pelindo.co.id

Empat BUMN Pelabuhan Siapkan Belanja Modal Rp32 triliun di Tahun Ini, Sebagian Besar untuk Garap Proyek Strategis Nasional.

Empat BUMN pelabuhan telah menyiapkan belanja modal Rp32 triliun pada tahun ini yang sebagian besar digunakan untuk mengembangkan pelabuhan dan menggarap proyek strategis nasional.

Keempat BUMN tersebut memiliki visi dan misi yang sama dalam rangka meningkatkan layanan kepelabuhanan agar menjadi pelabuhan berkelas dan berstandar internasional. Kendati memiliki tujuan yang sama, dalam hal belanja modal, keempat perusahan pelat merah ini mengalokasikan jumlah belanja modal yang besarannya berbeda-beda.

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II/IPC menjadi BUMN di sektor kepelabuhanan yang mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) terbesar pada 2019 yaitu sekitar Rp11 triliun.

Dengan adanya belanja modal yang besar untuk pembenahan sistem dan layanan pelabuhan, langkah besar ini diharapkan juga dapat memangkas inefisiensi di sektor logistik nasional yang hingga saat ini diprediksi masih sangat besar, atau di atas 20% dari PDB.

Lantas, bagaimana detail rencana pengembangan pelabuhan dari setiap perusahaan tersebut dan bagaimana masing-masing korporasi mendapatkan sumber pendanaan mereka? Simak saja detailnya berikut ini:

Pelindo I

Khusus untuk PT Pelindo I, yang mengelola pelabuhan di sebagian besar wilayah barat Indonesia, mengalokasikan belanja modal pada 2019 sebesar Rp8 triliun.

Direktur Keuangan PT Pelindo I Mohamad Nur Sodiq mengatakan capex 2019 nilai naik dua kali lipat dari investasi tahun lalu untuk pengembangan kawasan industri dan revitalisasi pelabuhan.

Menurutnya, kawasan industri Kuala Tanjung menjadi sasaran investasi pada 2019 dengan alokasi belanja Rp2 triliun.

“Untuk tahun ini kami targetkan 400 hektare sudah kami bebaskan dan juga pembangunan infrastruktur dasar, seperti jalan dan listrik,” katanya saat berkunjung ke Wisma Bisnis Indonesia, Rabu (20/3/2019).

Kawasan industri dengan luas hingga 3.000 hektare itu akan menjadi daerah asal barang Pelabuhan Kuala Tanjung yang digadang-gadang pemerintah menjadi hubinternasional di dekat Selat Malaka.

Belanja modal Pelindo I juga akan dialokasikan untuk pengembangan Pelabuhan Belawan fase 1, penguatan digitalisasi untuk meningkatkan layanan, dan penguatan anak perusahaan.

Sodiq memaparkan pendanaan belanja modal berasal dari sumber yang beragam, mulai dari kas internal, pinjaman perbankan, hingga joint investment. Perseroan sedang mengkaji kemungkinan penerbitan medium term notes (MTN).

Pada 2018, Pelindo I merealisasikan belanja modal Rp4,5 triliun yang 60% bersumber dari pinjaman bank dan 40% dari emisi MTN. Dana itu sebagian besar dipakai untuk pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung.

Investasi Pelindo I melesat sekitar 1.300% dalam 5 tahun terakhir. Belanja modal pada 2014 hanya Rp308 miliar. Sodiq menuturkan alokasi belanja modal yang besar, bahkan lebih besar dari omzet, merupakan upaya perseroan menciptakan pendapatan di kemudian hari. “[Pada] 2023 pendapatan kami akan jump dari hasil investasi selama 2016-2017,” ujarnya.

Pelindo II

Sementara itu, Direktur Teknik PT Pelindo II/IPC Dani Rusli Utama mengatakan bahwa sebagian besar capex senilai Rp11 triliun bersumber dari kas internal.

Dia memaparkan Rp1 triliun dialokasikan untuk operasional 12 cabang, Rp4 triliun untuk proyek strategis nasional Rp4 triliun untuk anak perusahaan, dan Rp2 triliun untuk tambahan modal anak perusahaan. “[Proyek pelabuhan] Kijing, CT 2 [New Priok Container Terminal/NPCT 2], dan CT 3 [NPCT 3] jumlahnya Rp3,5 triliun,” jelasnya.

Dani menjelaskan bahwa Pelabuhan Kijing di Mempawah, Kalimantan Barat, sedang memasuki tahap konstruksi. Di lapangan, kini berlangsung kegiatan pemancangan untuk trestle sepanjang 3,5 km, pematangan lahan, pekerjaan instrumen geoteknik, pekerjaan timbunan stock yard, land clearing sisi pantai, dan pemancangan sistem drainase buatan vertikal (PVD).

Demikian pula dengan NPCT 2 dan NPCT 3 yang sedang dalam tahap pematangan lahan setelah direklamasi.

Pada proyek Cikarang-Bekasi Laut Jawa/CBL, IPC masih menyelesaikan pola operasi terminal, memproses izin tata ruang dan berkoordinasi dengan instansi pendukung, seperti Kementerian PUPR. “Pelindo II sedang mengajukan agar ditunjuk menjadi salah satu operator. Izin terkait tata guna lahan dan rencana induk pelabuhan juga sedang diproses,” kata Dani.

Sebagian belanja modal IPC pada tahun ini juga dialokasikan untuk penyertaan modal pengembangan Pelabuhan Patimban, pembelian sebagian saham PT Krakatau Bandar Samudera, dan pembangunan Jalan Tol Cibitung—Cilincing.

Pelindo III

Direktur Utama PT Pelindo III Doso Agung mengakui bahwa pihaknya juga telah menyiapkan investasi Rp6,4 triliun untuk membiayai sejumlah pekerjaan tahun jamak maupun proyek baru.

Dia menegaskan sekitar 84% atau Rp5,4 triliun akan dialokasikan untuk proyek multiyears, sedangkan 16% atau sekitar Rp1 triliun untuk membiayai proyek baru. Sumber pendanaan masih menggunakan kas internal perusahaan dan hasil emisi global bond pada 2018 yang senilai US$500 juta.

“Pekerjaan kami masih fokus pada penyelesaian pembangunan infrastruktur pelabuhan dan pendukungnya, seperti akses jalan layang yang menghubungan Terminal Teluk Lamong dengan jalan tol dan pembangunan Terminal Gilimas di Lombok Barat,” kata Doso.

Dia menjelaskan bahwa pembangunan jalan layang Terminal Teluk Lamong akan mengurai kemacetan yang kerap terjadi di jalan akses menuju Terminal Teluk Lamong.

Untuk Terminal Gilimas membuat kapal pesiar dapat langsung bersandar dan menurunkan wisatawan di terminal pelabuhan. Terminal itu juga akan mendukung Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Nusa Tenggara Barat.

Pelindo IV

Direktur Utama PT Pelindo IV Farid Padang menyebutkan bahwa belanja modal senilai Rp6,4 triliun dari pihaknya di antaranya akan dialokasikan untuk proyek kerja sama dengan Pertamina, Rp2 triliun untuk menggarap Proyek Strategis Nasional alias PSN yang ditangani perseroan, dan Rp3 triliun untuk pengembangan fasilitas dan pengadaan peralatan.

Direktur Keuangan Pelindo IV Yon Irawan menjelaskan bahwa perusahaan akan bekerja sama dalam kegiatan pemanduan dan penundaan kapal-kapal Pertamina serta pembangunan terminal minyak dan gas BUMN migas itu. “Jika diperlukan tambahan kapal tunda, tentu saja akan ditambah,” jelasnya.

Pelindo IV juga akan melanjutkan pembangunan PSN yang meliputi Makassar New Port, Terminal Peti Kemas Bitung, Kendari New Port, dan penambahan kapasitas Pelabuhan Pantoloan di Palu.

Sumber dana senilai Rp2 triliun untuk membiayai proyek-proyek ini berasal dari emisi obligasi lanjutan. Sebelumnya, operator pelabuhan dengan wilayah kerja 50% luas Indonesia itu sudah menerbitkan obligasi Rp3 triliun dari total nilai yang disetujui Kementerian BUMN Rp5 triliun.

Pelindo IV juga mengalokasikan belanja modal untuk memperbaiki fasilitas dan menambah peralatan bongkar muat peti kemas untuk meningkatkan kapasitas layanan dan produktivitas terminal di kawasan Indonesia timur. “Dengan harapan menurunkan biaya logistik di sektor pelabuhan,” ujar Yon.

Selain dibiayai oleh penerbitan surat utang domestik, capex Pelindo IV bersumber dari kas internal, pinjaman komersial, dan skema kerja sama dengan mitra.

Sumber : Bisnis Indonesia, edit koranbumn

Check Also

Bank Indonesia Proyeksikan Ekonomi Digital Sebagai Masa Depan Indonesia

Bank Indonesia (BI) menganggap ekonomi digital sebagai masa depan Indonesia. Selain itu, ekonomi digital juga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *