Home / Berita / Enam Beleid Bank Indonesia Genjot Konsumsi Dalam Negeri

Enam Beleid Bank Indonesia Genjot Konsumsi Dalam Negeri

Bank Indonesia (BI) memperluas kebijakan yang lebih akomodatif guna mendorong permintaan domestik. Selain mempertahankan suku bunga acuan pada level 6%, BI juga memiliki enam beleid lanjutan untuk menggenjot konsumsi dalam negeri.

Ada enam beleid lanjutan yang dikeluarkan oleh bank sentral. Pertama, meningkatkan ketersediaan likuiditas dan mendukung pendalaman pasar keuangan lewat penguatan strategi operasi moneter. Kedua, mendorong efisiensi pembayaran ritel dengan memperluas layanan Sistem Kliring Nasional BI.

Ketiga, mendorong sisi suplai transaksi Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), khususnya melalui penyederhanaan ketentuan kewajiban underlying transaksi. Keempat, mendorong implementasi penyelenggara sarana pelaksanaan transaksi di pasar uang dan pasar valas.

Kelima, mengembangkan pasar surat berharga komersial (SBK) sebagai alternatif sumber pendanaan jangka pendek oleh korporasi. Keenam, mendorong perluasan elektronifikasi bantuan sosial (bansos) non tunai, dana desa, moda transportasi, dan operasi keuangan pemerintah.

BI optimistis, pertumbuhan konsumsi rumahtangga di kuartal I-2019 tetap tinggi. Dan, dengan enam jurus itu, mereka memprediksikan, ekonomi domestik bisa tumbuh di atas 5%. “Penyaluran bansos merupakan yang mendorong konsumsi rumahtangga,” kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, Kamis (25/4).

Namun, Piter Abdullah, Ekonom Center of Reform on Economics (Core), melihat, kebijakan yang BI tempuh tersebut hanya sebagai upaya mengurangi kontraksi. “Belum sepenuhnya melakukan pelonggaran ke likuiditas. Sehingga, dampaknya ke permintaan domestik belum banyak digerakkan kebijakan moneter,” ujar dia.

Menurut Piter, yang lebih banyak mendorong permintaan domestik adalah kebijakan fiskal. Ambil contoh, kenaikan anggaran bansos, kenaikan gaji pegawai negeri, dan tunjangan hari raya (THR).

Untuk itu, pertumbuhan konsumsi pada triwulan II-2019, Piter memperkirakan, berkisar 5,2%–5,4%. “Tapi, dominasinya lebih karena Ramadan, Lebaran, kenaikan gaji, THR di saat BI melonggarkan likuiditas,” jelasnya.

Lantaran dampak kebijakan moneter belum cukup besar, Piter pun memprediksikan pertumbuhan konsumsi untuk keseluruhan tahun ini masih di kisaran 5,2%–5,3%.

Sumber Kontan, edit koranbumn

Check Also

INALUM Leadership Camp I Batch 1

INALUM kembali menunjukkan kepeduliannya dalam sektor pendidikan. Sekitar 100 mahasiswa dari 3 Perguruan Tinggi Negeri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *