Home / Berita / Evaluasi dari Kementerian PUPR Terkait Rest AreaTidak Di Tepi Jalan Tol Bakal Rugikan Pengelola Tempat Istirahat

Evaluasi dari Kementerian PUPR Terkait Rest AreaTidak Di Tepi Jalan Tol Bakal Rugikan Pengelola Tempat Istirahat

Evaluasi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terkait pengembangan area tempat istirahat di jalan tol yang dibuat jauh dari jalan tol guna menghindari macet dikhawatirkan membuat rest area itu rugi.

Direktur Utama PT Waskita Toll Road, Herwidiakto menuturkan bahwa apabila rest area dibuat jauh dari jalan maka akan merugikan pengelola tempat istirahat.

“Kejadian ramai kan setahun 2 kali, kalau hari biasa kasihan pengelola rest area sepi apalagi kalau parkiran jauh masuk apa tidak tambah sepi kalau hari biasa?,” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Selain itu, Herwi menuturkan bahwa untuk merombak tempat istirahat yang sudah jadi memerlukan biaya yang banyak dan pasti akan memberatkan pengelola. “Biayanya yang terlalu berat, test area itu marginnya tipis banget.”

Menurut Herwi, daripada merombak, akan lebih baik saat event besar seperti lebaran atau tahun baru harus bisa menyiasati atau melakukan rehabilitasi dengan biaya yang tidak terlalu mahal.

Chief Astra Infra Solution yang juga menjabat sebagai Sekjen Asosiasi Jalan Tol Indonesia, Krist Ade Sudiyono menuturkan bahwa pihaknya menyambut baik upaya penataan untuk perbaikan termasuk wacana melakukan evaluasi desain.

“Evaluasi ulang desain ini tentunya bukan hanya menyangkut tata letak dan redesain fasilitas fasilitas yang ada di rest area, tetapi seyogyanya juga disesuaikan dengan dinamika tujuan, model, dan juga kegiatan ekonomi yang dimungkinkan di rest area tersebut,” ujarnya.

Menurut Kris, salah satu dinamika yang bisa dijadikan referensi adalah konsep ‘motorway service area’ dimana selain digunakan untuk tempat berisitirahat, refueling/recharge kendaraan, makan minum, juga bisa digunakan untuk meeting point, bus stop, pusat belanja dan tinggal baik dalam waktu tertentu maupun overnight.

Untuk bisa mengembangkan konsep ini, rest area ini perlu terintegrasi dan mendapatkan multiple access. Penggunanya harus variatif dan terintegrasi dengan jaringan moda transportasi lain.

Konsep ini akhirnya akan mendorong ke arah pengembangan transit oriented development dimana jalan tol merupakan bagian dari jaringan moda transportasi dari TOD tersebut.

“Mungkin isu yang akan muncul adalah kebutuhan luasan tanah yang tersedia di eksisting rest area maupun rest area baru. Dibeberapa tempat membutuhkan tambahan tanah,” katanya.

Dalam perspektif ini, Kris mengatakan jelas evaluasi dan redesain rest area yang diwacanakan oleh Kementrian PUPR, seyogyanya bukan hanya berfokus pada isu-isu teknikal, tetapi juga harus meng-cover isu konseptual, bisnis model, dan services dari rest area maupun jalan tol itu sendiri.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan melihat dari arus mudik dan arus balik tahun ini, kedepannya pihaknya akan membangun tempat istirahat dengan dua kondisi.

“Orang kita ini kan malas, bukannya apa mungkin sudah capek jadi misalnya mau ke toilet, turun mobil maunya depannya toilet malas jalan,itu akan coba kita evaluasi misalnya parkirnya agak jauh seperti di supermarket itu,” ujarnya.

Selain itu, Basuki menambahkan ke depan pihaknya juga akan mengevaluasi letak tempat istirahat agar tidak persis di pinggir jalan tol agar tidak menghambat kendaraan yang melintas. Sebagai percontohan adalah tempat istirahat yang terletak di Ungaran.

Sumber Bisnis, edit koranbumn

Check Also

Pupuk Indonesia Bersama KPK Gelar Roadshow Internalisasi Budaya Anti Gratifikasi

Menggalakkan kampanye Anti Gratifikasi di lingkungan perusahaan dan anak perusahaan, PT Pupuk Indonesia (Persero) bersama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *