Home / Berita / Implementasi KOMITMEN 0.15: Sasaran Baru Para Pekerja yang Kapabel

Implementasi KOMITMEN 0.15: Sasaran Baru Para Pekerja yang Kapabel

Dalam rangka menjalankan tindakan preventif Supply Loss dan Working Loss sebagai upaya menjaga kualitas operasi serah terima minyak di wilayah timur Indonesia, Chief Audit Executive (CAE) Faisal Yusra, SVP Supply, Distribution & Infrastructure Alfian Nasution serta VP Integrated Losses Control (ILC) Syaiful Rochman melakukan management walkthrough (MWT) ke di TBBM Wayame, pada (3/7/2019).

Terminal BBM Wayame merupakan salah satu terminal transit yang menyuplai BBM ke beberapa TBBM lainnya di wilayah kerja MOR VIII. Karena itu, penanggulangan Supply Loss dan Working Loss menjadi perhatian utama tim manajemen dalam pengimplementasian target supply loss 0.15.

Tim manajemen memberikan arahan perbaikan terkait Sistem Tata Kerja serah terima migas yang memenuhi aspek Option, Double Control & Consequences (ODCC) di setiap Sentra Operasi TBBM, terutama Oscilating Monitor. Selain itu, perawatan atas sarana dan fasilitas utama dan penunjang operasi harus dibuatkan program prevensinya. Monitoring investasi seperti tangki pun harus diperhatikan agar dalam memenuhi peranannya sebagai termintal transit.

Dalam kesempatan itu, tim manajemen juga memberikan pesan kepada seluruh pekerja di TBBM Wayame mengenai peran Internal Audit yang tidak terbatas pada assurance provider, namun juga sebagai problem solver, insight generator, serta trusted advisor.

Peran tersebut diwujudkan dalam penempatan Manager Internal Audit di lingkup region wilayah operasi Pertamina, sehingga Unit Bisnis/Operasi dapat secara cepat meminta konsultansi dan masukan atas pengamanan pelaksanaan proses bisnisnya di lapangan. Seluruh masukan diberikan dalam framework G-R-C (Governance, Risk, dan Control) pada aspek proses bisnis tersebut.

“Komitmen manajemen dan pekerja atas target supply loss 0.15 dibutuhkan untuk menjawab tantangan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, menjaga sustainabilitas dari kinerja operasi merupakan jawaban dari tantangan ini,” ujar Faisal Yusra.

Hal ini diperlukan dalam memenuhi peran TBBM agar mampu mengendalikan biaya dari seluruh proses serah terima minyak. “Sebagai cost driver yang senantiasa menjaga biaya operasi agar tidak membengkak harus ditunjukkan oleh insan TBBM melalui kepedulian atas lingkungan operasi maupun upaya dalam menjaga kondisi sarana fasilitas tetap prima,” imbuh Faisal.

Hal senada ditegaskan SVP Supply, Distribution & Infrastructure Alfian Nasution. “Sasaran utama dari pencapaian serah terima migas ini adalah kepedulian dan pemenuhan kompetensi dari para pekerjanya,” pungkas Alfian.

Sumber Pertamina, edit koranbumn

Check Also

Simulasi Emergency Drill, Pertamina Aktifkan Organisasi Penanggulangan Keadaan Darurat Level Satu

Pertamina langsung mengaktifkan organisasi penanggulangan keadaan darurat (PKD) level satu. Hal ini dipicu oleh ilegal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *