Home / Anak Perusahaan / JICT Setor Pajak dan Keuntungan kepada Pelindo II Senilai Rp15,4 Triliun Selama 20 Tahun Beroperasi

JICT Setor Pajak dan Keuntungan kepada Pelindo II Senilai Rp15,4 Triliun Selama 20 Tahun Beroperasi

PT Jakarta International Container Terminal (JICT) menyetor pajak kepada negara dan keuntungan kepada Pelindo II senilai Rp15,4 triliun selama 20 tahun beroperasi.

Selama dua dekade pula, perusahaan patungan Pelindo II dengan Hutchison Ports itu telah melayani bongkar muat peti kemas 37,3 juta TEUs dan menjadi salah satu terminal kontainer terbaik di Asia.

Direktur Utama JICT Gunta Prabawa mengatakan, sejak berkolaborasi dengan Hutchsion Ports Holding (HPH) mulai 1999, JICT telah berkembang menjadi terminal peti kemas yang didukung dengan teknologi, sumber daya manusia, dan sistem tata kelola terminal kontainer yang modern. Berbagai inisiatif dan inovasi dilakukan JICT untuk meningkatkan standard kualitas layanan dan menaikkan kapasitas bongkar muat.

Misalnya pada 2000, JICT merupakan pionir penggunaan twin lift technology di Tanjung Priok. Kemudian pada 2003, JICT sudah menerapkan web online services a.l. untuk pelayanan tracking container, invoice tracking, dan vessel schedule. Sejak 2015, seluruh transaksi di terminal JICT telah menerapkan sistem cashless payment. Berkat inovasi dan investasi yang dilakukan, volume bongkar muat JICT naik dari semula 1,4 juta TEUs pada 1999 menjadi lebih dari 2,4 juta TEUs setahun.

“Investasi yang dilakukan JICT fokus pada peningkatan kualitas layanan yang mendorong terciptanya bisnis proses yang efisien dan memberikan manfaat optimal bagi pelaku usaha. Sampai saat ini, JICT adalah pionir untuk digitalisasi, otomatisasi, dan pelabuhan berbasis lingkungan [go green] di Indonesia,” kata Gunta dalam siaran pers, Senin (1/4/2019).

Wakil Direktur JICT Riza Erivan menambahkan, manajemen juga menambah jumlah kapal yang singgah di JICT sebagai bagian dari upaya peningkatan layanan. Pada  1999, tercatat empat kapal bisa bersandar di dermaga barat JICT. Saat ini, dermaga utara JICT mampu melayani tujuh kapal yang bersamaan dengan produktivitas tinggi.

Kapal-kapal yang singgah di JICT merupakan pelaku usaha pelayaran dunia dengan rute langsung (direct call) ke negara utama, misalnya kapal MV CMA CGM Tage berkapasitas 10.000 TEUs dan berbobot 95.263 gros ton yang melayani rutin rute Tanjung Priok ke West Coast (Los Angeles dan Oakland) Amerika Serikat.

Kapal di JICT juga menjadi feeder dan intra Asia services yang dilayani oleh kapal KMTC, YML, Wan Hai, Cosco, MSC, Sinokor, Gold Star, HMM, CMA CGM Group, SITC, Heung A, CK Line.

Domestic transshipment dilayani oleh IFL, TMS, CTP, Meratus, Icon Line, JM Line, Multi Line, LKA, SPIL, Tanto Line, dan SSS.

“Jaringan pelayaran menjadi salah satu kunci di industri terminal petikemas dunia. Semakin banyak jalur pelayaran langsung ke negara-negara tujuan, maka akan mendorong kinerja terminal peti kemas semakin maksimal. Itulah yang terus dilakukan JICT dengan dukungan penuh dari pemegang saham,” ujar Riza.

Ke depan, manajemen optimistis atas kinerja dan kontribusi JICT terhadap kemajuan Indonesia, salah satunya dengan mengadakan peralatan terbaru sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.

“JICT juga akan terus melakukan inovasi dan investasi agar dapat bersaing dengan terminal di kawasan Asia, apalagi saat ini JICT sudah melayani transshipment kargo internasional yang memungkinkan layanan barang langsung ke Indonesia.”

Sumber Bisnis , edit koranbumn

Check Also

Komitmen Telkom Indonesia Hadirkan Konektivitas dan Digitalisasi Hingga Wilayah 3T, Indihome Kini Hadir di Pulau Rote

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) berkomitmen untuk selalu ada dan berkontribusi menghadirkan konektivitas di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *