Home / Berita / LPEI Biayai Proyek Perumahan Wika di Aljazair, Berupa Kredit Modal Kerja Ekspor

LPEI Biayai Proyek Perumahan Wika di Aljazair, Berupa Kredit Modal Kerja Ekspor

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/ Indonesia Eximbank memberikan pembiayaan berupa Kredit Modal Kerja Ekspor (KMKE) kepada PT Wijaya Karya (Persero), Tbk (Wika) melalui skema National Interest Account (NIA). Pembiayaan ini diberikan untuk proyek pembangunan perumahan bersubsidi di Aljazair dengan nilai Rp 187,7 miliar.

Bantuan tersebut mencakup sekitar 13 persen dari total nilai proyek yang mencapai 100 juta dolar AS atau Rp 1,4 triliun. Direktur LPEI Sinthya Roesly menyampaikan, pembiayaan ekspor melalui skema NIA ini merupakan bentuk dukungan nyata untuk meningkatkan volume nilai ekspor Indonesia.

Selain itu, untuk menciptakan dan meningkatkan transaksi perdagangan kedua negara di bidang infrastruktur dan konstruksi. “Khususnya untuk negara tujuan ekspor non tradisional,” ucapnya ketika ditemui di kantor LPEI, Jakarta, Rabu (27/3).

Wika sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang engineering, procurement, dan construction (EPC), mendapatkan kepercayaan dari pemerintah Aljazair untuk dua proyek pembangunan. Yakni, sebanyak 1.700 unit rumah bersubsidi (logement) di Baraki dan El-Harrach wilayah Algier serta 2.250 unit Ain Defla dan Khemis Miliana di wilayah Blida.

Sebagai lembaga negara yang memiliki mandat untuk meningkatkan nilai ekspor Indonesia, LPEI tidak hanya memberikan pembiayaan ekspor kepada debitur. LPEI juga menjadi intermediary tools antara debitur dengan pelaku ekspor.

Salah satu bentuk upaya yang dilakukan adalah dengan menggandeng PT Integra Indocabinet Tbk. Nantinya, Sinthya menjelaskan, mereka akan mendukung Wika dari segi pengadaan furniture untuk proyek-proyek Wika di mancanegara.

Sinthya mengatakan, proyek pembangunan rumah bersubsidi (Iogement) di Aljazair yang dilaksanakan oleh Wika secara langsung maupun tidak Iangsung memberikan multiplier effect bagi negara dan masyarakat Indonesia. “Misalnya,  mendorong strategi peningkatan ekspor ke negara non tradisional serta membuka lapangan dan kesempatan kerja langsung bagi 1.343 tenaga kerja Indonesia,” katanya.

Manfaat lainnya berupa peningkatan nilai ekspor serta daya saing produk dan jasa Indonesia khususnya jasa konstruksi di pasar internasional, penetrasi pasar ke kawasan Afrika, serta meningkatkan nilai perdagangan bilateral Indonesia.

Sesuai dengan mandat dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2009, pembentukan LPEI bertujuan untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk Indonesia. Selain itu, guna mendukung pertumbuhan industri dalam negeri, serta menggali potensi pasar non tradisional yang prospektif.

NIA atau penugasan khusus yang diberikan pemerintah kepada LPEI berfungsi untuk menyediakan pembiayaan, penjaminan, dan asuransi ekspor atas transaksi atau proyek yang secara komersial sulit dilaksanakan, namun dianggap perlu oleh pemerintah.

Selanjutnya, sebagai upaya dalam meningkatkan ekspor khususnya ke negara non tradisional Kementerian Keuangan menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 1/KMK.08/2019 tentang Penugasan Khusus kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia untuk mendorong ekspor ke negara kawasan Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah.

Penandatangan KMKE melalui skema NIA dilakukan seiring dengan komitmen WIKA yang kini aktif melakukan ekspansi bisnis konstruksi di pasar internasional khususnya Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah.

Direktur Wika Destiawan Soewardjono menilai, pengerjaan proyek ini tidak terlepas dari peran LPEI. Mereka menunjukkan dukungannya sehingga meminimalisir risiko finansial yang dihadapi ketika masuk di negara-negara baru.

“Di sisi lain, juga memudahkan upaya Perseroan untuk memperkuat posisinya di pasar yang telah dimasuki,” ujarnya.

Dia menambahkan, dukungan LPEI dalam pembiayaan modal kerja ekspor merupakan bentuk kerja sama yang menunjukkan nilai strategis berupa dukungan pemerintah kepada sektor jasa konstruksi nasional. Tujuannya, meningkatkan daya saing pada pembangunan proyek-proyek infrastruktur di luar negeri.

Selain itu, Destiawan mengatakan, kerja sama ini merupakan langkah konkrit untuk meningkatkan ekspor dan investasi ke negara non tradisional melalui pemanfaatan dana NIA. “Termasuk melalui pemanfaatan peluang bisnis turunan,” ucapnya.

Sumber Republika, edit koranbumn

Check Also

Home Made IT Service, Bangun Kemandirian Teknologi Pelindo III

Perkembangan Revolusi Industri 4.0 menjadi perhatian Direktur Utama Pelindo III Doso Agung dalam pengelolaan pelabuhan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *