Home / Berita / Menteri Sri Mulyani TugaskanReview Laporan Keuangan Garuda Tahun 2018 yang Dinilai Janggal

Menteri Sri Mulyani TugaskanReview Laporan Keuangan Garuda Tahun 2018 yang Dinilai Janggal

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menugaskan Sekretaris Jenderal‎ Kementerian Keuangan, Hadiyanto, untuk mereview laporan keuangan Garuda Indonesia tahun 2018 yang dinilai janggal.

Hal itu dilakukan untuk melihat sajian laporan keuangan Garuda Indonesia dari standar akuntansi yang berlaku. Adapun seluruh Kantor Akuntan Publik (KAP) yang membuka jasa di Indonesia berada di bawah pengawasan Kemenkeu.

“Saya sudah minta ke Pak Sekjen (Kemenkeu) untuk melihat (laporan keuangan) yang disampaikan mereka,” kata Sri Mulyani saat ditemui di Gedung Ditjen Pajak, Jakarta, Selasa (30/4).

Saat disinggung mengenai sanksi yang akan dikenakan ke KAP yang mengaudit Garuda Indonesia jika terbukti melanggar aturan akuntansi yang berlaku, dia enggan menjawab. Sebab sejauh ini, dirinya belum menelisik lebih jauh.

“Aku belum bisa ngomong apa-apa, biar nanti dilihat saja kasusnya,” beber Sri Mulyani.

Pada hari ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga melakukan klarifikasi ke manajemen Garuda Indonesia dan auditornya mengenai laporan keuangan ‎yang dinilai janggal. Namun hasil dari klarifikasi tersebut belum diumumkan kepada masyarakat.

Menanggapi hal itu, Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo tak mempermasalahkan pemanggilan itu. Sebab pihak yang memanggil tersebut memang memiliki kewenangan mengawasi.

Sebelumnya diberitakan, Komisaris Garuda indonesia, Chairal Tanjung dan Doni Oskaria menolak laporan keuangan GIAA, karena menilai janggal Perjanjian Kerjasama Penyediaan Layanan Konektivitas dalam Penerbangan antara PT Mahata Aero Teknologi dengan PT Citilink Indonesia tertanggal 31 Oktober 2018.

GIAA diketahui memang menjalin kerja sama untuk menyediakan layanan wifi gratis pada sejumlah pesawat. Dari kerja sama itu, Garuda sejatinya memang memperoleh pendapatan baru sebesar USD 239,94 juta dan USD 28 juta yang didapatkan dari bagi hasil dengan Sriwijaya Air.

Namun seharusnya transaksi itu sudah diakui sebagai pendapatan di laporan keuangan 2018 meski uangnya belum diterima. “Kita hanya keberatan dengan 1 transaksi,” beber Chairal Tanjung di Jakarta, Rabu (24/4).

Sumber Kumparan, edit koranbumn

Check Also

Peruri Gelar Best Employee & Innovation Award 2019

Peruri menyelenggarakan malam penganugerahan/awarding night kepada penerima penghargaan dan pemenang Best Employee & Innovation Award …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *