Home / Berita / Mulai Awal Tahun Bulog Telah Serap Gabah dan Beras Sebanyak 405.000 ton

Mulai Awal Tahun Bulog Telah Serap Gabah dan Beras Sebanyak 405.000 ton

Mulai awal tahun hingga Jumat (10/5), Perum Bulog telah menyerap gabah dan beras petani sebanyak 405.000 Ton. Rata-rata serapan beras Bulog pada Mei ini sekitar 9.000 ton per hari.

Kepala Bagian Humas dan Kelembagaan Bulog Firmansyah mengatakan, serapan gabah dan beras tersebut sesuai dengan harga dan kualitas yang diatur dalam Inpres No. 5 tahun 2015 dengan fleksibilitas harga sebesar 10%.

Dengan serapan beras tersebut, Bulog mengaku stok beras Bulog masih aman. “Stok aman, masih di angka 2,1 juta ton,” ujar Firmansyah kepada Kontan.co.id, Minggu (12/5).

Firmansyah mengakui, Bulog masih menghadapi kendala dalam menyerap gabah/beras petani, khususnya dalam hal harga. Menurutnya, harga gabah/beras di tingkat petani masih lebih tinggi dibandingkan harga pembelian pemerintah (HPP).

“Namun, Bulog punya solusi dengan menyerap dengan mekanisme komersial, tetapi jumlahnya tidak besar,” lanjut Firmansyah.

Menurut Firmansyah, beras yang diserap oleh Bulog termasuk beras komersial sebesar 5%. Dia mengatakan, persentase beras komersial masih kecil lantaran pasar komersial Bulog yang masih kecil pula.

Dia mengatakan, bila Bulog ditugaskan pemerintah sebagai pemasok beras untuk Bantuan Pangan Non Tunai, Bulog optimistis penyerapan gabah/beras petani akan semakin tinggi dan petani akan semakin diuntungkan karena harga pembelian berada di atas HPP.

Firmansyah tak menampik bila serapan Bulog yang masih berkisar 9.000 ton per hari disebabkan penyaluran beras Bulog yang terbatas.

“Secara tidak langsung akan berdampak. Dengan stok yang tinggi hingga 2 juta ton dan target pengadaan 1,8 juta ton, Bila tidak ada penyaluran beras, gudang akan semakin penuh beras,” katanya.

Pengamat Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas menilai serapan beras Bulog yang sebesar 9.000 ton pada Mei ini tergolong kecil bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Tahun sebelumnya, dengan serapan per tahun sekitar 2 juta ton, maka biasanya hingga Mei serapan beras Bulog bisa mencapai 1,2 juta hingga 1,4 juta.

Hal ini pun mengingat adanya musim panen pertama, sehingga 60% serapan beras Bulog akan terjadi di Maret hingga Mei.

Meski begitu, Dwi tak menampik bila serapan yang rendah ini disebabkan oleh penyalurannya yang tak kecil.

“Bulog ini perusahaan, dia harus berhitung betul kalau mau menyerap. Karena kalau menyerap besar tak ada penyaluran, akan sangat berisiko. Artinya, serapan beras Bulog ini murni perhitungan bisnis,” tutur Dwi.

Sumber Kontan, edit koranbumn

Check Also

Siasati Ketergantungan PLTA, Kamboja Minati Pembangkit Listrik Apung Buatan PAL

¬†Kamboja tertarik pada pembangkit listrik apung buatan Indonesia untuk menyiasati ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *