Home / Berita / Pembebasan Lahan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Belum Tuntas 100 Persen

Pembebasan Lahan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Belum Tuntas 100 Persen

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan proses pembebasan lahan megaproyek kereta cepat Jakarta-Bandung hingga kini belum 100 persen. Akibatnya, pembangunan konstruksi masih terkendala di kawasan industri Karawang, Jawa Barat.

“Untuk lahan sudah 98 persen, yang belum di kawasan industri di Karawang,” ujar Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri, Jumat (2/8).

Zulfikri menargetkan progres konstruksi proyek yang sudah berjalan tiga tahun itu bisa menyentuh 40 persen hingga akhir 2019. Saat ini, kemajuan konstruksinya baru 23 persen.

Nantinya, sambung ia, ada delapan terowongan (tunnel) yang akan dilewati oleh kereta cepat Jakarta-Bandung. Proses pembangunan untuk tunnel sendiri masih terus dilanjutkan.

Selain itu, proses pembangunan stasiun juga masih berlangsung. Menurutnya, ada empat stasiun yang akan dibangun untuk dilewati kereta cepat tersebut.

“Stasiun ada empat, satu di Halim, satu di Karawang, satu di Walini dan Tegal Luar,” tuturnya.

Dari Stasiun Tegal Luar, rencananya akan dibangun akses kereta menuju Stasiun Bandung. Hal itu untuk memudahkan pengguna kereta api cepat menuju Kota Kembang.

Zulfikri menargetkan proses pembangunan seluruh proyek bisa rampung awal 2021 mendatang. Dengan demikian, masyarakat sudah bisa menggunakan kereta cepat menuju Bandung setidaknya Juni 2021.Sebelumnya, Ambassador China untuk Indonesia Xiao Qian menyatakan kereta cepat Jakarta-Bandung akan menjadi proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara yang masuk dalam program The Belt and Road Initiative atau program Jalur Sutra yang diinisiasi oleh pemerintah China. Tidak hanya sekadar proyek transportasi, ia meyakini proyek Jakarta-Bandung ini akan memicu perekonomian sepanjang dua kota besar itu.

“Kami memiliki kisah sukses serupa di China yaitu kereta cepat Beijing-Tianjin yang mirip dengan Jakarta-Bandung. Dengan kereta berkecepatan tinggi, orang-orang di Beijing pergi ke Tianjing untuk berbelanja, karena lebih murah di sana. Jadi kota-kota dan desa-desa sepanjang garis ini berkembang,” ucapnya.

Sebagai informasi, pembangunan proyek ini dimulai pada 2016 lalu di bawah pengelolaan Konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Konsorsium itu terdiri dari PT KAI (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dengan China Railways.

Sumber CNN Indonesia, edit koranbumn

Check Also

Pesan Presiden Jokowi ke Erick Thohir, “BUMN Ekspansi ke Pasar Modal”

Presiden Joko Widodo punya pesan khusus untuk menteri baru yang menangani Badan Usaha Milik Negara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *