Home / Berita / Pembentukan Holding Jasa Keuangan Ditarget Rampung pada Tahun 2019

Pembentukan Holding Jasa Keuangan Ditarget Rampung pada Tahun 2019

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Jasa Konsultasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara menargetkan pembentukan holding jasa keuangan, asuransi, sarana prasarana penerbangan dapat rampung pada 2019.

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Jasa Konsultasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Trihargo menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan revisi terhadap konsep holding jasa keuangan. Hal itu sejalan dengan masukan yang diterima dari Komite Stailitas Sistem Keuangan (KSSK), Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia.

Beberapa poin yang menjadi masukan, sambungnya, terkait quick win. Dengan demikian, pembentukan kelompok usaha itu ditargetkan rampung pada semester I/2019. “Target semester I/2019 [pembentukan holding jasa keuangan selesai],” ujarnya di Jakarta, Senin (22/4).

Sebagai gambaran, holding jasa keuangan akan beranggotakan himpunan bank milik negara (Himbara), PT Pegadaian (Persero), PT Permodalan Nasional Madani (Persero), hingga PT Fintek Karya Nusantara (Finarya). PT Danareksa (Persero) direncanakan akan menjadi induk holding.

Salah satu potensi bisnis dari pembentukan holding tersebut menurutnya untuk mengejar backlog rumah yang mencapai 11 juta. Pihaknya menggambarkan skema chip in dana dari induk usaha kepada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. sebanyak Rp14 triliun.

Dari suntikan dana itu, lanjut dia, Bank Tabungan Negara dapat melakukan rights issue hingga Rp22 triliun. Artinya, jumlah itu setara dengan 2,5 kali kemampuan yang ada. “Backlog-nya bisa dikurangi lebih cepat daripada sebelumnya,” imbuhnya.

Selain holding perbankan, Gatot juga menyinggung holding asuransi pelat merah yang ditargetkan rampung tahun ini. Nantinya, PT Asuransi Jiwasraya (Persero) juga akan menjadi bagian dari kelompok usaha itu.

Di sisi lain, pemerintah juga mengejar penyelesaian holding sarana dan prasarana penerbangan pada 2019. Kelompok usaha itu akan beranggotakan PT Survai Udara Penas (Persero) sebagai induk serta PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), PT Pelita Air Service, dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. sebagai anggota.

Gatot membeberkan alasan Survai Udara Penas menjadi induk holding karena ukuran perseroan yang terbilang kecil. Tahun lalu, calon induk tersebut membukukan laba Rp3 miliar. “Dari struktur [Survai Udara Penas] tidak masalah, karena kecil lebih mudah untuk re-mapping,” jelasnya.

Berdasarkan data Kementerian BUMN, saat ini terdapat enam holding sektoral pelat merah yakni Holding Migas, Holding Pertambangan, Holding Perkebunan, Holding Kehutanan, Holding Semen, serta Holding Pupuk. Beberapa pembentukan holding baru juga tengah disusun oleh pemerintah seperti holding infrastruktur serta holding perumahan dan pengembangan kawasan yang tengah dalam tahap finalisasi.

Beberapa kelompok usaha lainnya yang tengah disusun yakni pelabuhan, industri strategis, farmasi, infrastruktur, serta pengembangan perumahan dan kawasan.

Sumber Bisnis, edit koranbumn

Check Also

Mulai Oktober 2019, Penumpang Kereta Bandara Bisa Naik dari Manggarai

Stasiun Kereta Api Bandara di Manggarai, Jakarta sudah siap dioperasikan pada Oktober 2019. Dengan begitu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *