Home / Berita / Penjelasan ESDM Mengenai Kemungkinan Tarif Listrik Naik di 2020

Penjelasan ESDM Mengenai Kemungkinan Tarif Listrik Naik di 2020

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan adanya penurunan subsidi listrik pada tahun anggaran 2020. Dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan subsidi listrik di 2020 diusulkan sebesar Rp 58,62 triliun. Sebelumnya, dalam APBN tahun ini subsidi listrik dipatok Rp 59,32 triliun.

Subsidi listrik bisa turun sekitar Rp 6 triliun lagi jika penyesuaian tarif diberlakukan untuk pelanggan listrik nonsubsidi. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 41 Tahun 2017, yang menyebutkan apabila terjadi perubahan terhadap asumsi makro ekonomi meliputi kurs dolar AS, Indonesian Crude Price (ICP), dan inflasi yang dihitung secara triwulanan, maka akan dilakukan penyesuaian terhadap tarif tenaga listrik (tariff adjustment).

Sejak 2017 lalu, tarif listrik nonsubsidi tak naik meski ada perubahan harga energi fosil, nilai tukar dolar AS, dan inflasi. Pemerintah menahan kenaikan tarif listrik nonsubsidi dengan alasan menjaga daya beli masyarakat.

Meski demikian, Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana menjelaskan bahwa adanya tariff adjustment tidak berarti serta merta tarif listrik bakal naik.

Bahkan bisa saja turun, tergantung harga energi fosil seperti batu bara hingga minyak yang menjadi patokan dalam biaya produksi listrik. Jika harga energi fosil dan kurs dolar AS melemah, tarif listrik nonsubsidi pun ikut turun.

Perubahan berupa kenaikan atau penurunan tarif pun dilakukan setiap 3 bulan sekali, tidak serta merta langsung naik atau turun mengikuti mekanisme pasar. Tariff adjustment juga hanya diterapkan untuk pelanggan listrik nonsubsidi. Untuk pelanggan listrik 450 VA dan 900 VA yang tidak mampu, tarif listrik tetap disubsidi dan tidak akan naik.

“Sudah ada formulanya itu. Dan tolong digarisbawahi, namanya adjustment, (tarifnya) bisa naik bisa turun. Kalaupun naik sepertinya enggak bakal sekaligus, bertahap, 3 bulanan,” ungkap Rida di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (21/6).

Menurut Rida, penerapan tariff adjustment pada 2020 tersebut tentunya sudah mempertimbangkan banyak faktor. Termasuk situasi politik dan kesiapan masyarakat. Pun misalnya tariff adjustment tak jadi diterapkan, Kementerian ESDM masih memiliki cukup anggaran untuk memberikan subsidi. Yaitu subsidi listrik yang diusulkan sebesar Rp 58,62 triliun.

“Iya, kalau dibolehkan belum juga tentu dipakai. Makanya saya bilang kita punya uang spare-nya lebar. Karena ini bisa on, bisa enggak,” ujarnya.

sumber Kumparan,edit koranbumn

Check Also

MA Lantik Lima Calon Anggota BPK Periode 2019-2024

Mahkamah Agung (MA) akan melantik lima anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang sebelumnya telah menjalani serangkaian …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *