Home / Berita / Penjelasan Hutama Karya Soal Biaya Pembangunan Tol
Print

Penjelasan Hutama Karya Soal Biaya Pembangunan Tol

Biaya pembangunan jalan tol di Indonesia oleh perusahaan BUMN sempat dikritik. Sebab, biayanya dinilai lebih mahal dibandingkan dengan proyek-proyek serupa di negara tetangga.

Menanggapi kritik tersebut, PT Hutama Karya yang merupakan salah satu BUMN pembangun jalan tol, menjelaskan biaya pembangunan jalan berbayar itu cukup bervariasi.

Direktur Keuangan PT Hutama Karya, Anis Anjayani, menjelaskan biaya pembangunan jalan tol dipengaruhi oleh kondisi medan, serta inflasi. Proyek Tol Trans Sumatera (TTS) yang digarap PT Hutama Karya misalnya, keseluruhannya diproyeksikan baru akan rampung pada 2024.

“Tentu biaya pembangunannya akan dipengaruhi inflasi sampai tahun 2024 itu. Ini beda dengan Tol Trans Jawa yang pembangunannya sudah rampung. Jadi biaya proyeknya enggak dipengaruhi inflasi lagi,” katanya dalam Diskusi “Kumpas Tuntas Tol Trans Sumatera” di Hotel Adimulia, Medan, Rabu (6/3).

Proyel Tol Trans Sumatera dari Aceh hingga Lampung yang dibangun perusahaan BUMN, memiliki total panjang 2.765 kilometer (km). Adapun total biaya yang dibutuhkan untuk membangunnya senilai Rp 475 triliun.

Anis menambahkan, kondisi tanah di lokasi proyek juga sangat menentukan biaya pembangunan per km jalan tol. Dia mencontohkan, ruas tol Indralaya di Palembang, ada sepanjang 22 km yang merupakan tanah rawa sedalam 40 meter.

Direktur Utama PT Hutama Karya, Bintang Perbowo, memaparkan biaya pembebasan lahan juga menjadi variabel lain. “Medan-Binjai itu dulu pembebasannya Rp 200 ribu per km. Sekarang proyek lanjutannya ada tanah yang sampai Rp 2 juta per km,” kata Bintang dalam acara yang sama.

Dia mengatakan, isu di pembebasan lahan sama saja, yakni makin lama, makin mahal biayanya. “Betul namanya uang ganti rugi, tapi kenyataannya sekarang sudah jadi ganti untung,” pungkas Bintang.

Sebelumnya, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi mengkritik tarif tol di Indonesia yang dinilai paling mahal di se-Asia Tenggara, karena rata-rata biaya pembangunan tol 2 lajur di Indonesia mencapai Rp 100 miliar per kilometer (km), 3 kali lebih mahal dari rata-rata di Thailand.

Akibatnya, rata-rata tarif tol di Indonesia mencapai Rp 1.300 per km. Sementara tarif tol di Malaysia Rp 492 per km, Thailand Rp 440 per km, Singapura Rp 778 per km, Vietnam Rp 1.200 per km, Filipina Rp 1.050 per km.

“Sehingga dibutuhkan teknologi inovasi. Tanah dikeraskan dulu dengan sistem vakum. Kandungan airnya disedot, lalu diberi chemical. Sudah itu dikeraskan, baru bisa konstruksi,” paparnya.

Dia mengatakan, dengan kondisi ini biaya pembangunan cukup mahal mencapai Rp 150 miliar per km. Sementara di ruas lain yakni Binjai-Helvetia, menurut Anis kondisi tanahnya sudah relatif matang. Sehingga biayanya hanya Rp 90 miliar per km.

Sumber Kumparan,edit koranbumn

Check Also

Pasar Murah Petrokimia Gresik di Gerai Pertanian Petromart

Pasar Murah Petrokimia Gresik hadir di halaman gerai pertanian Petromart milik PG di Kec. Sukapura, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *