Home / Berita / Penumpang Domestik Turun , Berdampak Pendapatan AP I dan AP II

Penumpang Domestik Turun , Berdampak Pendapatan AP I dan AP II

Jumlah penumpang domestik di bandara-bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I (Persero) turun 20,7 persen pada kuartal I 2019, yakni 13,8 juta. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu jumlah penumpang domestiknya mencapai 17,4 juta.

Direktur Utama AP I Faik Fahmi mengatakan, dengan adanya penurunan ini pendapatan perusahaan tergerus cukup dalam sejak Januari hingga April 2019 dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) selama setahun ke depan dari bisnis aero. Dalam RKAP 2019, perusahaan menargetkan pendapatan Rp 10,2 triliun yang berasal dari bisnis aero dan nonaero.

“Perhitungan kita dari 4 bulan ini sekitar Rp 200-300 miliar dari target saya. Saya kan punya RKAP itu, masih kurang sekitar Rp 300 miliar,” kata Faik saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (21/5).

Meski begitu, Faik mengaku terus berusaha untuk menutupi pendapatan yang hilang ini dengan memaksimalkan lini bisnis AP I yang lain di nonaero. Salah satunya adalah dengan membangun hotel di bandara AP I yang baru. Faik menyebut pembangunan hotel bakal dibangun di 3 lokasi bandara, seperti di Balikpapan, Yogyakarta, dan Banjarmasin.

Sementara untuk mendorong peningkatan di bisnis aero, perusahaan memaksimalkan bandara yang jadi lumbung kedatangan turis luar negeri seperti di Bali. Slot yang ada bakal lebih banyak diisi oleh penerbangan internasional.

Berdasarkan data yang diperoleh kumparan, meski pada kuartal I 2019 jumlah penumpang domestik turun cukup signifikan, jumlah penumpang internasional justru naik menjadi 4,03 juta. Sebagai pembanding, jumlah penumpang internasional pada periode yang sama di 2018 yang hanya 3,58 juta penumpang. Adapun soal jumlah penumpang domestik, Faik berharap ada peningkatan seiring dengan berlalunya Pemilu dan menyambut mudik Lebaran.

“Mudah-mudahan ya. Kita coba karena Lebaran ini kan kita prediksi naik 5 persen. Permintaan extra flight ini ya kan kita operasikan 14 bandara, itu ada permintaan di 9 bandara kita. Ada 1.628 tambahan extra disamping reguler flight. Mudah-mudahan bisa sedikit recovery jumlah traffic yang ada,” jelas dia.

Tak hanya AP I saja yang kehilangan penumpang domestik karena tiket mahal, tapi juga PT Angkasa Pura II (Persero). Pada kuartal I 2019, jumlah penumpang domestik AP II turun sekitar 18,9 persen menjadi 21,8 juta dibanding periode yang sama tahun lalu 26,9 juta.

Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin mengatakan, perusahaan mencari cara untuk memaksimalkan pendapatan perusahaan akibat tergerusnya jumlah penumpang domestik dalam empat bulan terakhir dengan cara fokus pada bisnis di luar penerbangan atau nonaero.

Awal menyebut, bisnis nonaero yang dimaksud di antaranya adalah bisnis digital di bandara (airport business digital). Ada 5 usaha yang dikembangkan di lini ini yakni big data penumpang, iklan digital, e-commerce, fasilitas pembayaran digital dengan LinkAja, dan e-community.

“Tahun kemarin kita dapat Rp 76 miliar (dari bisnis ini). Jadi tahun ini bisa kita akselerasi, apalagi tahun ini sudah ada capex (belanja modal yang disediakan perusahaan) ya. Tahun lalu enggak ada (di lini bisnis yang ini). Lalu kita ada juga akuisisi bandara, kerja sama dengan pemerintah. Lalu kita masuk ke program stategic partnership,” kata dia.

Awal berharap pada Lebaran 2019 ini, jumlah penumpang domestik bisa meningkat. Sama seperti AP I, perseroan juga mencatat ada permintaan tambahan penerbangan (extra flight) hingga saat ini sebesar 1.021. Rinciannya, untuk domestik 956 penerbangan dan internasional 57 penerbangan.

Menurutnya, tambahan extra flight terjadi bukan karena harga tiket pesawat yang turun, tapi lazim terjadi jika mudik Lebaran tiba.

“Tapi itu dinamis ya, masih bergerak. Masih belum final. Sampai mulai angkutan Lebaran 29 Mei 2019 (ada tambahan extra flight 1.021). Masih bergerak lah, nanti tunggu keputusan dari Kementerian Perhubungan,” jelas dia.

Sumber Kumparan, edit koranbumn

Check Also

Siasati Ketergantungan PLTA, Kamboja Minati Pembangkit Listrik Apung Buatan PAL

¬†Kamboja tertarik pada pembangkit listrik apung buatan Indonesia untuk menyiasati ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *