Home / Berita / PLN Alokasikan Anggaran Rp2,8 Miliar untuk Jaringan Listrik di Dusun Gayung Bersambut

PLN Alokasikan Anggaran Rp2,8 Miliar untuk Jaringan Listrik di Dusun Gayung Bersambut

PT PLN (Persero) terus menyalurkan listrik hingga ke pelosok daerah. Setrum dari perusahaan listrik plat merah itu akan tersalur juga ke Dusun Gayung Bersambut, Desa Selakau Tua, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar).

General Manager PLN Unit Induk Wilayah Kalbar, Agung Murdifi mengatakan, proses pembangunan jaringan kelistrikan di Dusun Gayung Bersambut hampir rampung. Pada September 2019 nanti, warga di wilayah tersebut sudah bisa merasakan manfaat listrik.

Agung mengatakan bahwa kendala terberat penyaluran jaringan listrik Dusun Gayung Bersambut adalah akses yang sulit dijangkau. “Jalan yang sempit dan jembatan yang ada tidak bisa dilalui oleh kendaraan yang memasukkan material seperti tiang, trafo dan kabel listrik,” kata Agung dalam siaran pers, kemarin.

PT PLN (Persero) terus menyalurkan listrik hingga ke pelosok daerah. Setrum dari perusahaan listrik plat merah itu akan tersalur juga ke Dusun Gayung Bersambut, Desa Selakau Tua, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar).

General Manager PLN Unit Induk Wilayah Kalbar, Agung Murdifi mengatakan, proses pembangunan jaringan kelistrikan di Dusun Gayung Bersambut hampir rampung. Pada September 2019 nanti, warga di wilayah tersebut sudah bisa merasakan manfaat listrik.

Agung mengatakan bahwa kendala terberat penyaluran jaringan listrik Dusun Gayung Bersambut adalah akses yang sulit dijangkau. “Jalan yang sempit dan jembatan yang ada tidak bisa dilalui oleh kendaraan yang memasukkan material seperti tiang, trafo dan kabel listrik,” kata Agung dalam siaran pers, kemarin.

Ia juga mengatakan, warga di Dusun Gayung Bersambut sangat antusias dengan listrik desa ini. Hadi menggambarkan, warga rela bergotong-royong untuk mengangkut material juga rela pohon sawitnya harus ditebang karena dilalui jaringan listrik.

Hadi bilang, ada sekitar 60 batang sawit miliknya, dan ada sekitar 500-an batang sawit milik warga yang ditebang. Menurut Hadi, tidak ada tuntutan ganti rugi dari warga atas pohon sawit tersebut.

Padahal, sawit yang ada mayoritas sudah berproduksi atau sudah berumur sekitar 6 tahun hingga 8 tahun. Jika dikonversikan untuk ganti rugi, diperkirakan mencapai Rp 800.000 – Rp 1 juta per batang. “Kami tidak mau ganti rugi, demi kepentingan bersama dan asal listrik masuk, kami ikhlas pohon sawit, karet dan lainnya ditebang tanpa ganti rugi,” ungkapnya.

Sumber Bisnis, edit koranbumn

Check Also

LMAN Bayar Dana Pembebasan Lahan Tol Semarang – Demak Sebesar Rp66 Miliar

Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) melakukan pembayaran sebesar Rp66 miliar untuk pembebasan lahan pembangunan jalan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *