Home / Berita / Pupuk Kaltim Menyatakan Sudah Realisasikan Pupuk Bersubsidi Sebesar10 %

Pupuk Kaltim Menyatakan Sudah Realisasikan Pupuk Bersubsidi Sebesar10 %

PT Pupuk Kaltim (Persero) menyatakan perseroan sudah melakukan realisasi pupuk bersubsidi Provinsi Kalimantan Timur tahun ini untuk pupuk urea mencapai 10,9%, sementara untuk pupuk NPK bersubsidi sudah mencapai 10,3%.

Account Executive PT Pupuk Kaltim (Persero) Dede Sulistiawan menyatakan total alokasi pupuk urea bersubsidi di Kalimantan Timur tahun ini adalah 17.934 ton.

Tercatat sampai dengan 15 Februari 2019 lalu, kata Dede, Pupuk Kaltim telah mengirimkan hasil produksi pupuk urea bersubsidi kepada distributor dan kios di Kalimantan Timur sebesar 1.953,55 ton.

Sementara untuk penyaluran, yakni dari kios kepada petani yang masuk dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK) sebagai penerima subsidi baru sebesar 1.117,7 ton sampai dengan 31 Januari 2019.

“Sementara angka RDKK 2019 untuk penerima subsidi pupuk urea mencapai 36.519,3 ton,” ujar Dede di Hotel Grand Jatra, Selasa (26/2/2019).

Untuk total alokasi pupuk NPK pada 2019 di Kaltim kata Dede mencapai 36.699 ton. Dede menyebut, Pupuk Kaltim telah mengirimkan hasil produksi pupuk NPK bersubsidi kepada distributor dan kios di Kaltim sevesar 3.781,85 ton.

Terkait penyaluran, yakni dari kios kepada petani yang masuk dalam RDKK  sebagai penerima subsidi baru sebesar 1.840,95 ton. Adapun total kebutuhan dari RDKK untuk pupuk NPK tercatat 53.257,81 ton.

“Ini memang terkesan alokasi dari pemerintah masih kecil dari kebutuhan RDKK. Namun sebenarnya juga perlu menjadi catatan untuk menginvetarisasi ulang data RDKK, agar penerima bantuan subsidi tepat sasaran dan mencapai upaya ketahanan pangan,” kata Dede.

Bisnis mencatat, berdasarkan data yang diberikan Pupuk Kaltim, pada 2019 ini secara total dari 9 kota dan kabupaten di Kalimantan Timur, ada 78 kecamatan penerima RDKK dari total 85 kecamatan.

Adapun total RDKK terintegrasi dari jumlah kelompok tani di Kaltim ada 3.341, jumlah anggota kelompok 75.532 orang. Total luas lahan yang terdaftar di Kaltim ada 139.907 hektare dari 9 kabupaten atau kota.

“Jumlah kelompok anggota kelompok petani terbanyak itu di Kabupaten Kutai Kertanegara sebagai pusat pertanian Kaltim, ada 30.725 orang dan luas lahan terluas yakni 61.450 hektare. Sehingga kebutuhan urea subsidinya meningkat jadi 13.632,12 ton dan NPK subsidi menjadi 17.518,38 ton,” terang Dede.

Dede menegaskan pihaknya hanya akan mendistribusikan pupuk subsidi kepada RDKK tercatat. Adapun dari lima jenis pupuk subsidi yang ditetapkan pemerintah, Pupuk Kaltim bertugas memproduksi dua jenis yakni pupuk urea dengan harga Rp1.800 per kilogram, sedangkan untuk pupuk NPK bersubsidi seharga Rp2.300 per kilogram.

Berkaca dari tahun sebelumnya, pada 2018 realisasi penyaluran pupuk urea bersubsidi kepada petani mencapai 17.563,35 ton turun dari 2017 yang mencapai 17.789,75 ton. Sebaliknya untuk realisasi pupuk NPK bersubsidi pada 2018 meningkat sebesar 34.002 ton dari tahun 2017 sebesar 30.150,85 ton. Beberapa kendala penurunan ini menurut Dede disebabkan oleh cuaca dan juga distribusi.

“Produksi ini juga dipengaruhi semangat petani dan juga cuaca. Tahun lalu kasus petani sawit, akhir 2018 harga sawit anjlok, keinginan petani memupuk kebun sawit menurun, pada akhir bulan larena harga yang turun. Sekarang, apabila cuaca ini agak lumayan karena harga sawit sudah mulai membaik bisa lebih baik,” kata Dede.

TARGET EKSPOR

Staf Pelayanan dan Komunikasi Produksi PT Pupuk Kaltim, Ajang Christrianto mengatakan ekspor urea tahun ini akan sangat terpengaruh pada volume ekspor pupuk urea, amonia, dan NPK. Hal ini dikarenakan harga bahan baku juga terkena imbas kenaikan. Meski begitu Pupuk Kaltim tetap akan melakukan produksi dan ekspor sesuai kapasitas.

“Tahun ini tetap total target produksi 3,6 juta urea ton, lalu amonia 2,7 juta ton, dan NPK 350.000 ton,” kata Ajang.

Ajang menyebut pada 2018 ekspor Pupuk Kaltim tercatat mencapai 785.999 ton. Ajang menyatakan ada beberapa lokasi penyaluran ekspor pupuk urea dari perusahaan pelat merah ini.

Sekitar 4% dari penjualan ekspor pupuk urea itu dikirim ke Australia, 67% di negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, 13% di negara Asia Selatan seperti India, 4% ke negara Asia Timur seperti Jepang, lalu Cina, ada 4% diekspor ke Meksiko, terakhir ada 4% pupuk urea ini juga diekspor ke Amerika Latin dan Amerika Serikat.

“Untuk ekspor urea, pada 2018 kita mengekspor 785,999 ton ini urea. Karena di wilayah Asia Tenggara, Asia Selatan, sampai Amerika Latin dan Australia. Kita adalah  produsen urea terbesar di Asia,” kata Ajang.

Selain pupuk urea, Ajang mengaku Pupuk Kaltim juga mengekspor pupuk amonia dan pupuk NPK bersubsidi. Ajang mengatakan Pupuk Kaltim selama ini juga memproduksi pupuk NPK dengan kapasitas terpasang sekitar 350.000 ton.

Secara keseluruhan pada 2018 Pupuk Kaltim mengekspor pupuk amonia hingga 798.944 ton. Adapun sasaran ekspor pupuk amonia di antara lain ke Thailand sebesar 99.138 ton, lalu di Taiwan sebesar 32.699 ton, Filipina sebesar 2.747 ton, Vietnam sebesar 7.007 ton, Cina sebesar 108.788 ton pupuk amonia, Jepang sebesar 155.510 ton, Korea Selatan sebesar 23.705 ton, dan India sebesar 54.443 ton.

“Produksi terbanyak tetapi untuk kebutuhan pupuk amonia di Indonesia, yakni mencapai 267.600 ton,” ujar Ajang.

Dihubungi secara terpisah, Corporate Communication Pupuk Indonesia, Wijaya Laksana mengatakan sebagai induk dari perusahaan agrokimia mengatakan target ekspor pupuk urea tahun ini mencapai 1,2 juta ton. Sementara untuk pupuk NPK diperkirakan sekitar 200,000 ton.

“Target ekspor urea sekitar 1,2 juta ton. Kalau NPK targetnya ada meski tak besar, yakni sekitar 200.000 ton,” ujar Wijaya.

Sumber Bisnis, edit koranbumn

Check Also

Pertamina EP Lakukan Tanggap Darurat Karhutla

PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) sekaligus kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *