Home / Berita / Quick Count, Exit Poll dan Real Count

Quick Count, Exit Poll dan Real Count

Tentu banyak orang pernah mendengar istilah bagai pinang di belah dua. Artinya kurang lebih dua orang yang berwajah mirip. Tentu, kita tak bisa memaksa untuk memirip-miripkan sesuatu agar disebut bagai pinang dibelah dua.

Dalam hal perbandingan, di masa kini dikenal istilah apple to apple alias melakukan perbandingan untuk dua hal yang sepadan atau setara.

Lantas apa hubungannya pinang dan apel? Tentu saja secara langsung tidak ada hubungannya.

Namun, belakangan ini terkait data Pilpres 2019, publik di tanah air mendapati wacana soal quick count, real count, dan exit poll. Apakah semuanya bisa diibaratkan pinang yang dibelah sama, ataukah bagai buah apel yang disandingkan dengan sesama apel? Bisakah hasil quick count, exit poll maupun survei diperbandingkan?

Peneliti Indo Barometer Asep Saepudin menyebutkan tidak seimbang membandingkan data hasil quick count dengan data dari hasil exit poll maupun survei.

Menurut Asep, ada perbedaan mendasar dan fundamental di antara ketiganya yang membuat metode statistika tersebut tidak bisa disandingkan satu sama lain.

Asep menjelaskan bahwa metode exit poll dan survei itu dilakukan dengan meminta pendapat dan jawaban dari responden yang telah tertentu yang telah dipilih. Asep melanjutkan bahwa motede tersebut memang populis tetapi lebih sarat dengan bias.

Sementara, quick count mengambil data pasti dari perhitungan di TPS yang telah dijadikan sampel. Adapun, penetapan jumlah TPS sampel dan pemilihan TPS-nya dilakukan dengan berbagai cara ilmiah yang ada dalam ilmu statistik.

Selain itu, metode survei bisa saja dilakukan sebelum hari pelaksanaan yang dalam konteks ini adalah pemilihan umum. Sementara, exit poll dan quick count pasti dilakukan ketika hari pelaksanaan pemilu. Bedanya, sekali lagi bahwa exit poll didapatkan dari orang setelah memilih dan quick count didapat dari data TPS.

“Jadi menurut saya quick count ini tidak bisa di apple-to-apple kan dengan exit poll atau survei. Saya bisa bilang randomisasi yang ada di quick count itu lah kunci yang bisa merepresentasikan hasil secara umum,” kata Asep dalam acara Expose Data Quick Count Pemilu 2019 di Jakarta, Sabtu (20/4/2019).

Di luar itu Asep optimistis bahwa hasil yang dikeluarkan Indo Barometer telah menggambarkan secara umum hasil dari pemilu tahun ini dan dia siap mempertanggungjawabkan temuan yang didapatkan dan dipublikasikannya ke publik.

Hasil hitung cepat untuk pemilihan presiden versi Indo Barometer hingga saat ini telah terkumpul 99% data sampel dari TPS dengan hasil 54,35% untuk pasangan Jokowi-Maruf dan 45,65% untuk pasangan Prabowo-Sandi.

Perkara quick count belakangan menghangar dengan munculnya tudingan bahwa lembaga surve tidak netral dan partisan. Tak hanya itu, sejumlah lembaga survei yang menyelenggarakan quick count juga dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri dengan tuduhan membuat kegaduhan di masyarakat.

Sementara itu pihak kepolisian memastikan tidak bisa langsung mengurus perkara pengaduan ini selama tidak ada rekomendasi dari Bawaslu.

Tentu, rekomendasi dimaksud bukan soal pinang dan apel atau tentang cara membelahnya, tapi terkaitkepastian bahwa lembaga survei telah melakukan pelanggaran.

Pihak lembaga survei penyelenggaran quick count yang tergabung dalam Persepi pun tak tinggal diam.  Mereka, Sabtu (20/4/2019) membeberkan bagaimana cara kerjanya selama ini. Tak cukup hanya itu, mereka pun balik menantang pihak yang curiga agar saling buka-bukaan soal data, bahkan juga dana.

Sumber Bisnis,edit koranbumn

Check Also

Bank Indonesia Proyeksikan Ekonomi Digital Sebagai Masa Depan Indonesia

Bank Indonesia (BI) menganggap ekonomi digital sebagai masa depan Indonesia. Selain itu, ekonomi digital juga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *