Home / Berita / Rekayasa Lalu Lintas One Way Arus Mudik dan Balik yang Aman, Terpanjang dan Terlama

Rekayasa Lalu Lintas One Way Arus Mudik dan Balik yang Aman, Terpanjang dan Terlama

PT Jasa Marga (Persero) Tbk bekerja sama dengan berbagai instansi terkait berhasil mewujudkan rekayasa lalu lintas one way terpanjang dan terlama yang berlaku di Indonesia pada periode arus mudik dan balik Lebaran 2019 lalu. Penerapan one way tersebut menjadi salah satu catatan penting evaluasi mudik dan balik Lebaran 2019.

Hal ini disampaikan oleh Operation Management Group Head Jasa Marga Fitri Wiyanti dalam Closing Ceremony Tim Satgas JM Siaga Operasional Lebaran 2019 yang berlangsung Senin (24/05) petang.

Turut hadir dalam acara Closing Ceremony Tim Satgas JM Siaga Operasional Lebaran 2019, perwakilan berbagai instansi terkait yang mendukung penyelenggaraan angkutan Lebaran 2019, di antaranya adalah Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi, Kepala Korlantas Polri Irjen Pol Refdi Andri, Direktur Jalan Bebas Hambatan dan Perkotaan Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hedy Rahadian serta Anggota Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Koentjahjo Pamboedi.

Dari sisi rekayasa lalu lintas yang merupakan diskresi dan bekerja sama dengan Kepolisian, Fitri lebih lanjut menjelaskan Jasa Marga juga mencatat hal-hal sebagai berikut:
• Adanya perubahan titik akhir pemberlakuan one way arus mudik dari KM 262 (Brebes Barat) menjadi di KM 414 (Kalikangkung)
• Perubahan titik awal one way arus balik semula KM 262 (Brebes Barat) menjadi KM 442 (Bawen) dan titik akhir one way semula KM 70 (Cikampek) menjadi KM 29
• Adanya perpanjangan waktu pemberlakuan one way arus mudik yang semula direncanakan selama 4 hari (30 Mei s.d. 2 Juni) menjadi selama 5 hari (30 Mei s.d. 3 Juni) dan one way arus balik yang semula 4 hari (7 Juni s.d. 10 Juni) menjadi 5 hari (7 Juni s.d. 11 Juni)

Pada kesempatan sama, Irjen Pol Refdi Andri memaparkan, terwujudnya penerapan one way terpanjang dan terlama tersebut tak terlepas dari sinergitas yang terjalin baik di antara pihak-pihak terkait.

Sinergitas ini, misalnya, terlihat saat penerapan one way dengan panjang maksimum mencapai 413 Km saat arus balik. Bahkan, pada hari-hari terakhir penerapannya saat arus balik, ujar Irjen Pol Refdi Andri, durasi pemberlakukan one way bahkan berlangsung selama 42 jam non stop.

Beberapa catatan penting lainnya selama penyelanggaraan arus mudik dan balik Lebaran 2019, lanjut Fitri, antara lain puncak arus mudik terjadi pada tanggal 1 Juni 2019 (H-4) dengan catatan total volume lalu lintas mudik (meninggalkan Jakarta) pada periode H-7 s.d. H-1 Lebaran 2019 adalah sebesar 1,2 juta kendaraan, naik 1,6% dari Tahun 2018 atau naik 27% dari Lalulintas Harian Rata-rata (LHR) normal.

Namun, yang berbeda dari tahun lalu, Jasa Marga melihat pola perjalanan pemudik yang berbeda pada tahun ini, di mana pada hari pertama dan kedua Hari Raya Lebaran 2019 (5-6 Juni 2019) masih menunjukan kecenderungan mudik ke arah Timur. Sehingga jika H+1 dan H+2 masih dianggap sebagai lalu lintas mudik, maka total volume lalu lintas mudik (meninggalkan Jakarta) H-7 s.d. H+2 adalah sebesar 1,6 juta kendaraan, naik 4% dari tahun 2018 atau naik 33% dari Lalulintas Harian Rata-rata (LHR) normal.

Selain itu, Jasa Marga mencatat volume lalu lintas arus balik Lebaran 2019 pada periode H+1 s.d. H+7 adalah sebesar 1,4 juta kendaraan. Angka ini naik 6,8% dari Tahun 2018 atau naik 52% dari Lalulintas Harian Rata-rata (LHR) normal.

Mayoritas tujuan yang menggambarkan wilayah favorit para pemudik adalah Jawa Tengah/Surakarta (baik dari Timur ke Barat maupun sebaliknya). Hal ini dapat dilihat dari pergerakan lalu lintas dari Barat ke Timur yang melewati GT Banyumanik adalah sebesar 67% dari lalu lintas GT Cikampek Utama dan pergerakan lalu lintas dari Timur ke Barat adalah sebesar 88,7% dari lalu lintas GT Waru Gunung.

Sementara itu, angka kecelakaan di jalan tol yang dikelola oleh Jasa Marga selama arus mudik hingga balik lebaran 2019 (H-1 s.d H+7) turun sebesar 35% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Turunnya angka kecelakaan tersebut menjadi salah satu catatan penting evaluasi mudik dan balik Lebaran 2019.

“Jumlah kecelakaan pada periode H-7 sampai H+7 adalah sebesar 52 kejadian, turun 35% dari tahun 2018. Wilayah Jabodetabek-Jabar 24 kecelakaan, turun 14% dari tahun 2018 dan wilayah Trans Jawa 28 kejadian atau turun 46% dari tahun 2018,” ujar Fitri.

Fitri juga turut melaporkan titik-titik kepadatan yang menjadi perhatian pada arus mudik dan balik Lebaran 2019, di antaranya adalah pertemuan arus lalu lintas di Km 68 s.d KM 66 Jalan Tol Jakarta-Cikampek pada periode arus balik serta jelangrest area.

“Titik menjelang rest area masih menjadi titik yang berpotensi menimbulkan kepadatan di lajur. Di antaranya adalah titik-titik menjelang rest area Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Jalan Tol Palikanci, Jalan Tol Batang-Semarang, serta Jalan Tol Semarang-Solo,” tambah Fitri.

Masih di kesempatan yang sama, Direktur Utama Jasa Marga Desi Arryani menyampaikan, evaluasi dan prediksi lalu lintas di jalan tol jelang periode mudik dan balik Lebaran 2019 dilakukan pihaknya sejak jauh-jauh hari. Tepatnya, sejak diresmikannya Tol Trans Jawa akhir tahun kemarin. Hasil evaluasi Jasa Marga tersebut turut didukung dari sumber informasi lain, misalnya survei Balitbang Kementerian Perhubungan. Kesimpulan evaluasi tersebut memprediksi animo masyarakat untuk menggunakan jalan tol Trans Jawa saat mudik dan balik Lebaran 2019 terbilang tinggi.

“Sejak mulai dioperasikannya Tol Trans Jawa, kita sudah evaluasi. Kita mengevaluasi kapasitas-kapasitas gerbang. Kita mengevaluasi jumlah lalu lintas. Kita memprediksi semua data bersama. Kemudian kebutuhan lajur-lajur juga kita prediksi dan yang paling penting adalah kita memindahkan Gerbang Tol Cikarang Utama. Itu memang yang paling vital,” paparnya.

Masih di acara yang sama, Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengungkapkan, “Di tahun 2020, yang kita lihat satu tahun lagi, tantangan kita akan makin berat. Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat kita mulai dari sekarang untuk persiapan tahun 2020”.

Check Also

Hingga Kuartal III/2019, Total Pelanggan PLN Berjumlah 74,16 Juta

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus gencar menambah jumlah pelanggan. Hingga kuartal III 2019, jumlah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *