Home / Berita / RNI Fokus Revitalisasi Pabrik Gula di Jatim

RNI Fokus Revitalisasi Pabrik Gula di Jatim

PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI) menunda program revitalisasi pabrik gula di Jawa Barat dan memilih fokus di Jawa Timur.

Direktur Utama PT RNI Didi Prasetyo mengatakan program revitalisasi pabrik gula tahun ini lebih banyak dilakukan pihaknya di sejumlah pabrik gula dan sentra tebu Jawa Timur ketimbang Jawa Barat.

“Kalau di Jawa Barat hanya perawatan saja,” katanya di Gedung Sate, Bandung, Kamis (18/4).

Menurutnya pihaknya menahan diri untuk tidak melakukan revitalisasi di Jabar mengingat kondisi lahan tebu saat ini makin menyusut.

Di kawasan Cirebon, Indramayu dan Majalengka saat ini lahan tebu milik BUMN tersebut tercatat tinggal 600 hektar.

“Rencana revitalisasi kami di Jabar hanya mempertahankan kehandalan pabrik saja,” ujarnya.

Hal ini berbeda dengan sentra RNI di Madiun dan Malang yang ditopang kesadaran petani menanam tebu yang masih tinggi. Karena itu revitalisasi akan diarahkan guna mendongkrak kapasitas produksi.

“Di Madiun coba pemantapan kapasitas, biasanya kapasitas 6.000 ton yang terpakai kemarin hanya 5.000 ton,” tuturnya.

PT RNI sendiri tahun ini menargetkan mampu menproduksi gula sebanyak 32000 ton turun dari produksi tahun lalu yang bisa mencapai 27100  ton. Penambahan dilakukan mengingat pihaknya melihat sejumlah persoalan yang muncul pada tahun lalu sudah mulai teratasi.

“Karena apa? Tahun kemarin ada persoalan gangguan lahan semoga tahun ini kita bisa atasi. Kedua harga gula cukup rendah, yang menyebabkan minat petani kurang,” papar Didi.

Meski tidak ada rencana revitalisasi pihaknya mengaku tetap mendorong agar penambahan lahan tebu di wilayah Jawa Barat masih bisa terus dilakukan lewat Gerakan Menanam Tebu.

“Kita canangkan dan inginnya [bertambah] seluas-luasnya, jadi diharapkan produksi bertambah,” ujarnya.

RNI sendiri saat ini menguasai sekitar 50.000 hektar lahan tebu gabungan dari aset perusahaan dan tebu rakyat. Namun perluasan dan penambahan produksi menurutnya tetap bergantung pada kondisi pasar yang masih belum kondusif bagi industri gula.

“Gula sekarang di angka Rp9.500/kilo, ini tergantung policy pemerintah,” katanya.

Menurutnya kebijakan pemerintah paling mempengaruhi industri gula dalam negeri salah satunya adalah kebijakan impor gula yang cukup besar pada tahun lalu.

“Harapannya impor tetap ada tapi sesuai kebutuhan,” katanya.

Didi menuturkan baru-baru ini Kementerian Pertanian mengusulakn agar harga produksi di tingkat petani mencapai Rp10.500.

Namun pihaknya melihat hal ini harus disesuaikan dengan kondisi konsumen. “Karena pemerintah mematok harga gula itu Rp12.500 [ per kilogram],” katanya.

Sementara Pengamat bisnis perkebunan di Jabar Iyus Supriyatna mengatakan saat ini produktivitas tebu di Jabar cenderung rendah akibat tidak melakukan pola kepras pada tanaman.

Oleh karena itu, lanjutnya, para petani harus melakukan peremajaan tebu dengan benih unggul yang direkomendasikan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balitri).

“Setiap kali tanam, petani hanya boleh memeliharan tanaman dua hingga dua kali tebang. Sementara saat ini tanaman yang sudah ditebang lebih dari tiga kali masih dipelihara,” ujarnya.

Di samping itu juga, semua pabrik gula yang sudah kuno harus segera diganti dengan pabrik yang modern agar rendemen gulanya bisa maksimal.

Sumber Bisnis, edit koranbumn

 

Check Also

Mulai Oktober 2019, Penumpang Kereta Bandara Bisa Naik dari Manggarai

Stasiun Kereta Api Bandara di Manggarai, Jakarta sudah siap dioperasikan pada Oktober 2019. Dengan begitu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *