Home / Berita / Saham-saham BUMN yang Menjanjikan dan Layak Koleksi Pasca Pemilu 2019

Saham-saham BUMN yang Menjanjikan dan Layak Koleksi Pasca Pemilu 2019

Pemilihan Umum 2019 masih menyisakan euforia termasuk pada pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau naik 1,58 persen ke level 6.507 dari 6.405 pada penutupan pekan lalu.

Selain itu, euforia ini juga disebut-sebut memberikan sentimen positif terhadap sejumlah saham.

Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan mengatakan, ada beberapa saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diprediksi bakal cuan dalam beberapa waktu ke depan.

“Iya bisa (dikoleksi). Saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. (PT PP), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR),” ungkap Dennies, Sabtu (20/4).

Dennies juga merekomendasikan saham-saham BUMN perbankan seperti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Dennies tidak menampik bahwa prediksi ini erat kaitannya dengan hasil quick count dari sejumlah lembaga survei yang menyatakan pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul atas Prabowo-Sandi.

Pembangunan infrastruktur yang masif pada pemerintahan Jokowi turut mengerek saham-saham konstruksi dan infrastruktur.

”Konstruksi dan infrastruktur selalu jadi fokus Pak Jokowi,” ujarnya.

Selain itu, saham perbankan pun juga dinilai punya peluang yang baik. Saham-saham BUMN tersebut mencatatkan kinerja yang cukup positif sepanjang 2018.

Berikut kumparan merangkum kinerja keuangan saham-saham BUMN yang layak dikoleksi pekan depan:

WIKA

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mengantongi pendapatan Rp 31,15 triliun pada 2018. Jumlah itu naik 19,03 persen dari Rp 26,17 triliun pada 2017. Beban pokok pendapatan tercatat senilai Rp 27,55 triliun pada 2018. Nilai tersebut naik 18,25 persen dari Rp 23,30 triliun pada 2017.

Dari situ, laba kotor perseroan tercatat senilai Rp 3,60 triliun per akhir tahun lalu. Terjadi pertumbuhan 25,33 persen dari Rp 2,87 triliun pada 2017. Dengan demikian, emiten berkode saham WIKA itu mengamankan laba bersih Rp 1,73 triliun per akhir 2018. Realisasi tersebut tumbuh 43,94 persen dari Rp 1,20 triliun pada 2017.

WSKT

Sepanjang 2018, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mencatat laba bersih sebesar Rp 3,96 triliun. Angka ini naik 2,08 persen dari laba bersih perseroan pada 2017 yang tercatat sebesar Rp 3,88 triliun. Perseroan mengantongi pendapatan sepanjang 2018 senilai Rp 48,78 triliun, naik 7,90 persen dari pendapatan di periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 45,21 triliun.

PTPP

PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) sepanjang 2018 memperoleh laba bersih sebesar Rp 1,5 triliun. Capaian tersebut naik 3,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 1,45 triliun. Pertumbuhan laba bersih PT PP pada 2018 terutama didorong oleh pertumbuhan pendapatan usahanya yang mencapai 16,79 persen menjadi Rp 25,11 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 21,5 triliun.

ADHI

PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) membukukan laba bersih senilai Rp 644,15 miliar pada 2018 atau lebih tinggi 24,98 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 515,41 miliar. Secara keseluruhan, perusahaan pelat merah itu mengantongi pendapatan sebesar Rp 15,65 triliun pada 2018, naik 3,29 persen dari Rp 15,15 triliun pada tahun sebelumnya.

JSMR

PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) membukukan laba bersih senilai Rp 2,202 triliun pada 2018. Pencapaian itu naik 0,11 persen dari laba bersih 2017 sebesar Rp 2,200 triliun. Laba bersih tersebut didorong dari pendapatan Jasa Marga pada tol dan usaha lainnya sebesar Rp 9,78 triliun sepanjang 2018. Selanjutnya, pendapatan konstruksi tercatat Rp 27,18 triliun. Total pendapatan yang dikantongi JSMR senilai Rp 36,97 triliun pada 2018. Realisasi itu tumbuh 5,36 persen dari Rp35,09 triliun pada 2017.

BBNI

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat laba bersih sepanjang 2018 sebesar Rp 15,02 triliun. Nilai tersebut meningkat 10,3 persen dari tahun sebelumnya. BNI berhasil menyalurkan kredit hingga Rp 512 triliun sepanjang 2018 atau meningkat 16,2 persen dari 2017 yang hanya sebesar Rp 441 triliun. Pertumbuhan kredit BNI tersebut menciptakan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) yang tumbuh 11,0 persen yaitu dari Rp 31,94 triliun pada akhir 2017 menjadi Rp 35,45 triliun pada akhir 2018. NII tersebut menjadi sumber pertumbuhan laba bersih BNI yang utama.

BBRI

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat laba bersih sebesar Rp 32,4 triliun pada 2018. Laba bersih ini naik 11,6 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 29 triliun. Laba bersih ini didorong oleh pertumbuhan fee based income yang naik 22,7 persen yoy menjadi Rp 23,4 triliun dibanding tahun 2017 yang sebesar Rp 19,1 triliun.

Sumber Kumparan, edit koranbumn

Check Also

Komitmen Telkom Indonesia Hadirkan Konektivitas dan Digitalisasi Hingga Wilayah 3T, Indihome Kini Hadir di Pulau Rote

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) berkomitmen untuk selalu ada dan berkontribusi menghadirkan konektivitas di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *