Home / Berita / Serikat Karyawan Garuda Indonesia Khawatir Ribut Internal Bikin Saham GIAA Hancur

Serikat Karyawan Garuda Indonesia Khawatir Ribut Internal Bikin Saham GIAA Hancur

Serikat Pekerja PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (Sekarga) mengatakan ingin dilibatkan dalam proses penyelesaian konflik internal perusahaan BUMN pelat merah tersebut. Sebelumnya mereka telah melayangkan surat rencana aksi mogok pada Jumat (26/4).

Ketua Umum Sekarga, Ahmad Irfan Nasution, mengungkapkan permasalahan yang ada di GI harus segera diselesaikan. Karena jika tidak, akan direspons negatif pasar. Dampaknya, harga saham GI bisa hancur.

“Perbedaan pendapatan komisaris dan pemegang saham kenapa masih ribut sebenarnya kemarin itu kita lihat keberatan mereka sampaikan (saat RUPST) ini sebenarnya berita jelek untuk pasar modal itu sebenarnya perhatian kita agar kompak lah. Kan itu (ribut) berpengaruh ke saham Garuda yang turun secara signifikan selama beberapa hari,” kata dia , Sabtu (27/4).

Maka dari itu, mereka ingin dilibatkan untuk segera menyelesaikan masalah ini bersama direksi dan komisaris.

“Kita baru mengimbau, ini kita punya pernyataan ini, panggil kita dong ini kan kita bukti cinta dengan Garuda Indonesia,” sebutnya.

Pada perdagangan Jumat (26/4), harga saham GIAA ditutup di angka Rp 470 per lembarnya atau naik 8 poin (1,73 persen). Harga saham GIAA sempat berada di level tertinggi yaitu Rp 474 per lembar dan level terendah Rp 446 per lembar.

Adapun saham GIAA pernah menembus level tertinggi yaitu Rp 630 per lembarnya pada 6 Maret 2019 lalu. Setelah itu, harga saham GIAA bergerak menurun.

Sebagai catatan, dalam RUPST Garuda Indonesia yang digelar Rabu (24/4), ada satu polemik yang terjadi. Yaitu, laporan keuangan emiten berkode GIAA tahun 2018 ditolak oleh dua komisarisnya, yakni Chairal Tanjung dan Doni Oskaria. Kedua komisaris tersebut merupakan perwakilan dari PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd yang menguasai 28,08 persen saham GIAA. Trans Airways merupakan perusahaan milik pengusaha Chairul Tanjung (CT).

Alasan keduanya menolak laporan keuangan tersebut, berhubungan dengan Perjanjian Kerjasama Penyediaan Layanan Konektivitas Dalam Penerbangan antara PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia tanggal 31 Oktober 2018 lalu beserta perubahannya.

GIAA diketahui memang menjalin kerja sama tersebut untuk menyediakan layanan wifi gratis pada sejumlah pesawat. Dari kerja sama tersebut GIAA sejatinya memang memperoleh pendapatan baru. Namun menurut Chairal yang merupakan adik CT, pendapatan GIAA dari Mahata sebesar USD 239,94 juta serta USD 28 juta yang didapatkan dari bagi hasil dengan PT Sriwijaya Air seharusnya tidak dicantumkan dalam tahun buku 2018.

“Kita hanya keberatan dengan 1 transaksi,” ungkap Chairal.

Soal keberatan tersebut, Chairal mengaku sudah membuat keterangan tertulis dan meminta keterangan tersebut dibacakan saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar siang tadi.

Sayangnya permintaan tersebut tidak disetujui oleh pimpinan rapat sehingga hanya disertakan sebagai lampiran dalam laporan tahunan. Meski demikian, Chairal mengaku dirinya tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut dari manajemen soal beda pendapat tersebut.

sumber kumparan, edit koranbumn

Check Also

INALUM Leadership Camp I Batch 1

INALUM kembali menunjukkan kepeduliannya dalam sektor pendidikan. Sekitar 100 mahasiswa dari 3 Perguruan Tinggi Negeri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *