Home / Berita / Swasta akan Jadi Sumber Pemacu Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Semester II/2019

Swasta akan Jadi Sumber Pemacu Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Semester II/2019

Swasta akan menjadi sumber pemacu pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester kedua setelah momentum pertumbuhan kuartal II/2019 yang diperkirakan melandai akibat buruknya performa ekspor.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan pihaknya melihat keterlibatan swasta sebagai motor pertumbuhan akan lebih kuat pada kuartal III dan kuartal IV tahun ini.

“Jadi beberapa langkah dapat dilakukan mendorong pertumbuhan ekonomi disamping BI melakukan stimulasi, baik dari sisi moneter dan makroprudensial,” kata Perry, Jumat (21/05/2019).

Pertama, mendorong ekspor dalam arti di antara hubungan dagang AS dan China, ada peluang manfaatkan pasar AS.

Selama ini, pasar AS dipasok oleh China. Menurut Perry, celah pasar ini bisa diisi oleh Indonesia. Namun, kesempatan tersebut harus diidentifikasi melalui pembicaraan bilateral antar pemerintah.

“Mengenai garmen, elektronik ,furniture, besi baja dan kimia itu peluangnya bisa digunakan dengan mengirim misi dagang kesana [AS],” papar Perry.

Tidak hanya mencari celah ekspor, Indonesia juga harus membeli barang yang dibutuhkan dari AS. Oleh sebab itu, strategi pendekatan ke AS harus bilateral.

“Tidak bisa dorong ekspor ke AS tanpa beli sejumlah barang ke AS.”

Jika ini dilakukan ekonomi akan tumbuh sebab ekspor akan meningkat dan kebutuhan impor dalam negeri bisa dipenuhi.

Kedua, Sinergi pemerintah, BI, OJK, dunia usaha dan perbankan perlu diperkuat untuk meningkatkan investasi swasta.

Sinergi ini menjadi penting karena akan memperkuat hasil dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah mendorong manufaktur, pariwisata, UMKM serta oembangunan infrastruktur berkelanjutan.

“Kami masih optimis ekonomi di semester kedua dan tahun depan akan membaik dan kita akan melakukan stimulasi ekonomi,” tegas Perry.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juni, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2019 cenderung stagnan dipicu oleh penurunan kegiatan ekspor dan impor.

Perkiraan BI, pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua ini akan cenderung tidak berubah dari pertumbuhan kuartal I/2019 yang mencapai 5,07%.

“Kami melihat triwulan II/2019, memang ekspor masih terjadi penurunan, tapi dengan penurunan ekspor, impor juga turun,” kata Perry, Kamis (20/09/2019).

Dari penurunan ekspor dan impor, BI melihat investasi nonbangunan ikut terdampak. Perry menuturkan investasi nonbangunan belum menunjukkan pertumbuhan.

Seperti diketahui, puncak momentum pertumbuhan ekonomi domestik selalu terjadi pada kuartal II/2019, karena adanya faktor Ramadan dan Lebaran yang memicu peningkatan konsumsi.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2019 hanya akan mencapai 5%-5,1%.

“Ini kelihatan dari kredit konsumsi yang juga rendah sekali dan investasi yang ditahan karena Pemilu,” ujar Bhima.

BI mencatat pertumbuhan kredit konsumsi pada kuartal I /2019 sebesar 8,9%, melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu ketika kredit konsumsi tumbuh 11,4%.

Terkait dengan momentum pertumbuhan, Kepala Ekonom PT Bank Nasional Indonesia Tbk. Ryan Kiryanto mengungkapkan perkiraan bank sentral mengenai geliat ekonomi dari sektor swasta memang diharapkan segera terjadi

“Dengan private investment yang diharapkan segera rebound pasca Pemilu sehingga bisa menggerek pertumbuhan ekonomi di kuartal III dan kuartal IV,” ungkapnya.

Ketua Kadin Indonesia Rosan P. Roeslani menuturkan sektor swasta memang masih menunggu susunan kabinet. Pasalnya, susunan kabinet ini akan membantu keyakinan pihak swata.

“Dunia usaha juga ingin mendengar arahan kebijakan pemerintah lima tahun ke depan sehingga bisa makin bersinergi dengan dunia usaha,” kata Rosan kepada Bisnis.

Kepala Ekonom Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro melihat pemerintah yang masih menunjukkan komitmen kuat untuk melakukan reformasi akan memicu prospek cerah bagi ekonomi Indonesia di periode kedua masa pemerintahan Joko Widodo.

Insentif fiskal yang ditetapkan hanya bagian awal dari pendorong reformasi untuk mengundang FDI masuk dan mengenjot ekspor manufaktur.

“Kami melihat probabilitas yang besar untuk lahirnya kebijakan pro-growth yang lebih banyak,” ujar Satria.

Adapun reformasi ekonomi yang akan dijalankan pemerintah a.l. insentif bagi kawasan industri yang berorientasi ekspor, insentif bagi sektor pariwisata dan perusahaan rintisan digital serta kebijakan yang terkait dengan produktivitas SDM.

Sumber Bisnis, edit koranbumn

Check Also

Pupuk Indonesia Bersama KPK Gelar Roadshow Internalisasi Budaya Anti Gratifikasi

Menggalakkan kampanye Anti Gratifikasi di lingkungan perusahaan dan anak perusahaan, PT Pupuk Indonesia (Persero) bersama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *