Home / Anak Perusahaan / Tambah Kapasitas Engine Shop Jadi 150 Unit, GMF Butuh Mitra Baru

Tambah Kapasitas Engine Shop Jadi 150 Unit, GMF Butuh Mitra Baru

PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia Tbk. masih membutuhkan mitra strategis untuk dapat meningkatkan kapasitas perawatan mesin (engine shop) pesawat menjadi 150 unit per tahun.

Direktur Utama GMF AeroAsia Tazar M. Kurniawan mengatakan investasi yang dilakukan saat ini, baik dari sisi gedung, tata ruang, maupun peralatan, hanya mampu menampung perawatan hingga 100 unit mesin. Angka tersebut berdasarkan perhitungan profitabilitas yang maksimal.

“Hal yang dilakukan supaya tetap bisa merawat 150 unit mesin, selanjutnya kami akan mencari partner untuk bisa mengembangkan engine shop lebih lanjut,” kata Tazar, Kamis (29/8/2019).

Dia menambahkan dalam menuju kapasitas 150 unit per tahun, perusahaan memerlukan investasi tambahan untuk melengkapi fasilitas dengan alat uji mesin. Hal tersebut memerlukan investasi yang tidak sedikit.

Akan tetapi, emiten berkode GMFI ini sudah memutuskan untuk tidak akan tambah belanja modal (capital expenditure) untuk fasilitas perawatan mesin. Investasi akan dialihkan pada fasilitas perawatan besar (airframe maintenance) yang memiliki profitabilitas tinggi.

Menurutnya, pada 2021, akan banyak pesawat yang waktunya turun mesin. Kapasitas terpasang perusahaan perawatan pesawat (maintenance repair overhaul/MRO) di dunia belum tentu cukup untuk menampungnya.

Di sisi lain, perusahaan MRO, khususnya di Eropa dan Amerika Serikat tidak mungkin membangun fasilitas baru lagi. Selain investasi mahal, biaya SDM di wilayah tersebut juga sudah tinggi.

“Makanya, untuk menangkap kesempatan ini kami tetap mengupayakan penambahan kapasitas engine shop dengan mengundang partner lain,” ujarnya.

Sebelumnya, GMF memiliki kapasitas terpasang engine shop sebanyak 50 unit per tahun. Adapun, langkah yang dipersiapkan untuk penambahan kapasitas adalah membeli alat pembersih mesin otomatis dan memasang alat gantung mesin menggunakan sistem roda berjalan pada Oktober 2019.

Keduanya diyakini bisa menambah tingkat efisiensi kerja perawatan engine, sehingga kapasitas bertambah.

Pihaknya menjelaskan sejak 2015, pekerjaan line maintenance berkontribusi banyak terhadap pendapatan perusahaan hingga 31%. Namun, porsi tersebut semakin berkurang seiring dengan penurunan kapasitas operasional pesawat yang digunakan maskapai nasional, yang menjadi pasar utama GMF.

Adapun, lanjutnya, pekerjaan line maintenance contohnya adalah pengisian bahan bakar, serta pengecekan oli mesin dan hidrolik ketika pesawat akan terbang. Pekerjaan dilakukan saat pesawat usai beroperasi pada malam hari atau sedang beroperasi di bandara transit.

Sumber Bisnis, edit koranbumn

Check Also

5 Prioritas Presiden Jokowi, Masa Lima Tahun ke Depan

Presiden Joko Widodo menyampaikan lima aspek yang menjadi prioritas dalam periode kedua pemerintahannya sepanjang 2019 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *