Home / Berita / TIMAH Siapkan Belanja Modal Rp2,58 Triliun

TIMAH Siapkan Belanja Modal Rp2,58 Triliun

PT Timah Tbk (TINS) menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini sebesar Rp 2,58 triliun. Belanja modal ini untuk TINS dan anak perusahaan. Belanja modal tersebut meningkat tahun 2018.

Tahun lalu, realisasi capex TINS mencapai Rp 1,18 triliun dari total anggaran capex sebesar Rp 2,3 triliun.

TINS akan menggunakan belanja modal tahun ini untuk peningkatan kapasitas, produktivitas, efektivitas, dan efisiensi produksi. BUMN tambang ini akan melanjutkan pembangunan smelter. Perlu diketahui, smelter ini disokong dengan teknologi Fuming yang dapat memproses kembali tin slag (non valued material) yang saat ini tidak bisa diambil dengan menggunakan tanur yang ada, serta teknologi Ausmelt untuk memproses kadar bijih timah antara 40%-60%.

Direktur Utama TINS M. Riza Pahlevi Tabrani memproyeksikan, tahun ini produksi TINS bisa tumbuh 20%-30%. Per 2018, produksi biji timah TINS mencapai 44.514 ton atau tumbuh 43% secara tahunan. Sementara volume penjualan logam timah mencapai 33.818 metrik ton atau naik 13% year on year (yoy).

“Kalau ditanya target produksi pada 2019 memang kami sedang ada tren kenaikan volume produksi yang signifikan. Kami sedang melihat tiga bulan pertama ini berapa produksi timah. Ini akan kami pakai sebagai pedoman realisasi produksi 2019 akan seperti apa,” kata Riza di Jakarta, Selasa (23/4).

Mengutip pemberitaan Kontan.co.id, Minggu (21/4), per kuartal I-2019 produksi biji timah TINS mencapai sekitar 21.600 ton atau tumbuh 389% yoy. Sementara itu, logam timahnya mencapai 16.300 metrik ton atau meningkat 304% yoy.

Perusahaan pelat merah ini juga tengah menjalankan eksplorasi dengan pengusaha lokal di Nigeria untuk penambangan timah di negara tersebut. Kerja sama ini berbentuk joint venture dengan sana kepemilikan masing-masing 50%. Direktur Keuangan TINS Emil Ermindra mengatakan, TINS telah berinvestasi sebesar Rp 70 miliar dalam kerja sama tersebut.

Menurut dia, kerja sama ini bertujuan memperluas penguasaan cadangan timah TINS. Per Oktober 2018, total cadangan aluvial TINS sebesar 415.358 ton atau masih bisa bertahan sampai sepuluh tahun ke depan. “Kami juga masih mengkaji negara-negara lain seperti Myanmar. Mau investasi di sana atau jual biji timah. Nanti kami perhatikan dulu aturannya,” ucap Emil.

TINS juga tengah mengkaji rencana kerja sama dalam pemanfaatan logam tanah jarang. Sebagai informasi, logam tanah jarang mengandung 14 unsur mineral. Untuk itu, perusahaan ini berencana membangun fasilitas yang dapat memisahkan mineral tanah jarang yang menempel pada biji timah.

Menurut Riza, mineral olahan tersebut memiliki nilai komersial yang lebih bagus dibanding timah sendiri. Tahun ini, pengembangan tersebut masih dalam proses studi kelayakan, baik secara teknikal maupun nilai ekonominya. “Tahun depan mulai bangun fasilitas pemisahan atau pengolahan mineral tanah jarang tersebut dan mulai bisa proses,” kata dia.

Sumber Kontan, edit koranbumn

Check Also

Bank Indonesia Proyeksikan Ekonomi Digital Sebagai Masa Depan Indonesia

Bank Indonesia (BI) menganggap ekonomi digital sebagai masa depan Indonesia. Selain itu, ekonomi digital juga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *