Home / Berita / Tol Trans Jawa Diharapkan Menbuka Harapan Baru Terbukanya Pasar UKM

Tol Trans Jawa Diharapkan Menbuka Harapan Baru Terbukanya Pasar UKM

Kehadiran jaringan jalan tol Trans Jawa membuka harapan baru bagi pelaku UKM di sepanjang koridor jalan bebas hambatan tersebut. Terbukanya akses jalan tol menjadi pintu masuk bagi para UKM untuk memperluas pasar.

Para pengrajin bonggol jati di Banjarrejo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, ikut mengambil peluang dari kehadiran jalan tol Trans Jawa. Mereka telah berkomunikasi dengan pemda setempat. Hasilnya, pemda siap mengusulkan untuk membuka exit toll di Kecamatan Widodaren. Tujuannya tentu memudahkan akses jalan para pengunjung sekaligus mengundang para pembeli datang langsung.

Desa Banjarrejo berada di antara ruas jalan utama Ngawi-Blora. Hamparan kebun jati menjadi teman perjalanan sampai menuju lokasi. Kondisi jalanan dari jalan raya sampai ke desa beraspal mulus dan dapat dilalui kendaraan berukuran besar.

Setidaknya ada 50-an pengrajin bonggol jati di Desa Banjarrejo. Suwarno, salah satu pengrajin menyebutkan, jika akses jalan tol sudah menembus sentra bonggol jati, maka pasar produk aneka hiasan dinding dan furnitur mereka akan semakin meluas.

Selama ini produk buatan Suwarno dan para pengrajin mulai dilirik pembeli dari Yogyakarta, Klaten, Bandung dan Solo. Rata-rata, produk yang dipesan akan masuk galeri furnitur di Eropa, Amerika, Jepang, dan negara lainnya.

Harapan serupa juga membuncah dari sentra Sentra produksi tambak udang vaname yang berlokasi di Kecamatan Degayu, Pekalongan, Jawa Tengah. Sentra ini paling besar merasakan manfaat atas terbukanya akses tol Trans Jawa.

Saiful Adit, salah satu pengelola tambak udang vaname mengaku, keberadaan tol Trans Jawa memudahkan jalur transportasi. Misalnya, pengiriman benih udang dari Anyer Banten ke Pekalongan hanya membutuhkan waktu sekitar enam jam.

Artinya, benih udang bisa datang enam jam lebih cepat dari waktu tempuh sebelum Trans Jawa tersambung, yakni selama 12 jam. “Kualitas benih udang tidak akan menurun tajam akibat terlalu lama di jalan,” ungkap dia kepada KONTAN, beberapa waktu lalu.

Uniknya, pengelola tambak harus meminta langsung ke para supir agar menggunakan jalur tol Trans Jawa jika ingin barang cepat sampai. Bukan hanya itu, mereka juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengganti uang masuk tol sebesar Rp 187.000 per satu kali jalan. Saiful mengaku tidak keberatan menambah ongkos pengiriman barang, asalkan benih udang bisa cepat sampai. “Benih yang fit akan mempengaruhi daya tahan hidup dan kualitas udang saat panen,” kata dia.

Pengelola tambak udang lainnya, Heru Wijaya juga mengungkapkan hal senada. Dia senang atas terbukanya akses tol Trans Jawa karena membuat waktu pengiriman benih udang menjadi lebih cepat. “Saat dibawa berpergian, benih udang punya batas waktu. Jika terlalu lama, bisa stres,” jelas dia. Artinya, semakin cepat benih sampai, maka menurunkan risiko benih stres dan hasil panen pun dapat maksimal.

Sentra tambak udang vaname sudah ada sejak 2013 silam. Sebelumnya, lokasi tambak berfungsi sebagai lahan persawahan padi. Namun kawasan ini kerap terkena banjir rob, sehingga padi milik warga hampir selalu gagal panen. Untuk menutupi kerugian, pemerintah daerah mulai mengubah lahan tersebut menjadi tambak udang.

Sumber Kontan, edit koranbumn

Check Also

Penjelasan Staf Erick Thohir Terkait Moratorium Pendirian Anak Usaha BUMN

Terbitnya Keputusan Menteri yang mengatur tentang penataan anak perusahaan atau perusahaan patungan di lingkungan perusahaan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *