Home / Berita / Tujuh BUMN Akan Rilis Obligasi

Tujuh BUMN Akan Rilis Obligasi

Sebanyak tujuh emiten yang berstatus perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak usahanya berencana menerbitkan surat utang atau obligasi dalam waktu dekat. Penerbitan ini ditujukan demi memenuhi kebutuhan pendanaan untuk investasi dan ekspansi.

Emiten-emiten tersebut yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Waskita Beton Prescat (WSPP), PT PP Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya Beton Tbk, PT AnekaTambang Tbk dan PT Jasa Marga Tbk

Bank BRI akan menerbitkan obligasi berkelanjutan senilai total Rp 20 triliun. Tahap pertama ini akan diterbitkan terlebih dahulu senilai Rp 5 triliun.

“Kami masih tunggu rating oleh Pefindo dan tunggu izin OJK [Otoritas Jasa Keuangan] kurang lebih September baru keluar. Jadi bisa issue Oktober 2019,” kata Haru Koesmahargyo, Direktur Keuangan BRI beberapa waktu lalu.

Dana hasil obligasi ini akan digunakan untuk mendanai target bisnis perusahaan yang sudah tercantum dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) dan menjaga likuiditas tetap aman.

Selanjutnya, Bank BTN memilih global bond yang akan diterbitkan dalam denominasi dolar dan dicatatkan di luar negeri. BTN akan menerbitkan surat utang bertajuk junior global bondsenilai US$ 300 juta atau setara dengan Rp 4,2 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$) pada November mendatang atau paling lambat Januari 2020.

Junior global bond akan diterbitkan November atau Januari awal supaya CAR mengalami peningkatan,” kata Nikson L Napitupulu, Direktur BTN di Bursa Efek Indonesia Jakarta dalam gelaran Public Expose Live, Senin (19/8/2019).

Ekspansi instrumen juga dilakukan mengingat perseroan sudah mampu menyalurkan pembiayaan untuk 300.000 rumah, ini yang kemudian berdampak pada tergerusnya CAR perseroan menjadi 1-1,5%.

Waskita Beton Precast juga berencana menerbitkan obligasi senilai Rp 1,5 triliun pada kuartal IV-2019 sebagai bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) I yang totalnya mencapai Rp 2 triliun.

Dana ini akan digunakan perusahaan untuk pemenuhan modal kerja (working capital) dan belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan.

Direktur Utama WSBP Jarot Subana mengatakan dana yang dihimpun akan dialokasikan sebesar Rp 900 miliar untuk belanja modal. Sisanya untuk refinancing atau pembiayaan ulang utang sebagaimana juga yang dilakukan di Obligasi PUB I Tahap I.

Selain itu, PTPP juga bakal menerbitkan dua instrumen sekaligus di tahun ini atau awal tahun depan, berupa obligasi konvensional dan obligasi bunga abadi (perpetual bond).

Direktur Keuangan PP Agus Purbianto mengatakan perusahaan masih memiliki izin penerbitan perpetual dengan nilai tersebut, setelah sebelumnya diberikan izin senilai Rp 1 triliun dan baru direalisasikan sebesar Rp 150 miliar, sehingga nilai perpetual yang akan diterbitkan bisa mencapai Rp 850 miliar.

Tak hanya perpetual, PP juga akan menerbitkan obligasi biasa senilai Rp 1,5 triliun untuk membiayai kebutuhan pengembangan investasi perusahaan di bidang energi dan sistem pengelolaan air minum (SPAM).

Adapun tiga emiten lain yakni WTON dan Aneka Tambang serta Jasa Marga.

“Obligasi sudah siapkan tim untuk mencari peluang, plafon besar, tingkat bunga kompetitif di bawah 9%,” kata Direktur Keuangan Wika Beton Imam Sudiyono, Rabu (21/8/2019).

Antam juga membuka peluang untuk menerbitkan surat utang untuk mendanai pembangunan smelter nikel untuk produksi kobalt kendati belum menyebutkan besarannya.

“Dananya nanti harus melakukan beberapa cara obligasi, tapi ada dukungan juga dari Inalum, shareholders loan dan perbankan,” kata Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo, Rabu (21/8/2019).

Jasa Marga juga mengkaji rencana penerbitan obligasi korporasi dengan nilai emisi Rp 1- Rp 2 triliun seiring dengan rendahnya suku bunga.

Market sekarang cenderung turun, jadi kami tunggu waktu yang tepat karena kalau keluar sekarang dengan jangka panjang serapan belum optimum,” kata Direktur Keuangan JasaMarga Donny Arsal ,Rabu (21/8/2019).  Tingkat bunga obligasi ini diperkirakan mencapai 8%-9,5% dengan tenor jangka panjang.

Tahun ini perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 4,5 triliun. Sumber pendanaan itu 25% di antaranya bersumber dari penerbitan obligasi.

“Sebenarnya masih bisa menggunakan dana perbankan tapi kami akan ganti menjadi obligasi Rp 1 triliun – Rp 2 triliun karena lebih efisien,” pungkasnya.

Sumber CNBC, edit koranbumn

Check Also

Bio Farma Beri Edukasi 400 Santri Jawa Timur Gaya Hidup Sehat

Bio Farma kembali menggelar Road Show Santri Sehat yang dilaksanakan pada tanggal 18 – 19 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *