Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir 31 Maret 2026, emiten berkode saham ANTM ini mencatatkan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan senilai Rp29,32 triliun. Realisasi itu meningkat 12,12% secara tahunan (yoy) dari sebelumnya Rp26,15 triliun.
Adapun, beban pokok penjualan hanya naik 5,29% yoy menjadi Rp23,70 triliun dari sebelumnya Rp22,51 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba kotor Antam pun tercatat Rp5,61 triliun atau melesat 54,45% yoy dari sebelumnya Rp3,63 triliun. Berikutnya jumlah beban usaha dibukukan Rp1,11 triliun atau naik 17,84% yoy dari sebelumnya Rp945 miliar.
Laba usaha tercatat naik lebih dari dua kali lipat menjadi Rp4,50 triliun dari sebelumnya Rp2,69 triliun. Selanjutnya penghasilan lain-lain juga mampu dikerek sebesar 14,75% yoy menjadi Rp279 miliar.
Antam mencatatkan laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp4,78 triliun pada akhir kuartal I/2026 atau naik 62,95% yoy dari sebelumnya Rp2,93 triliun.
Di sisi bottom line, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mengalami kenaikan 59,85% yoy menjadi Rp3,40 triliun dari sebelumnya Rp2,13 triliun.
Dilihat dari total aset, ANTM membukukan total aset Rp63,29 triliun atau naik 20,49% sejak awal tahun (year-to-date/ytd). Perinciannya, total ekuitas naik 10,39% ytd menjadi Rp40,40 triliun. Sedangkan liabilitas tumbuh 43,68% yoy menjadi Rp22,88 triliun.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn












