PT Bank Syariah Nasional (BSN) mencatatkan total aset sekitar Rp76 triliun pada kuartal I/2026, menjadikannya sebagai bank syariah dengan aset terbesar kedua di Indonesia.
Wakil Direktur Utama BSN Arga M. Nugraha menyampaikan kinerja perseroan pada kuartal I/2026 ditutup dengan angka yang cukup baik.
“Kinerja BSN Alhamdulillah kemarin kami, paling tidak untuk angka yang unaudited ya,” kata Arga di sela-sela Peresmian BTN Loan Factory di Bekasi, Jawa Barat, Senin (13/4/2026).
Dari sisi aset, perseroan mencatatkan peningkatan dibandingkan posisi sebelumnya. Hingga Maret 2026, Arga mengungkapkan bahwa aset BSN mencapai sekitar Rp76 triliun.
Sebagai perbandingan, sebelum resmi berdiri sebagai bank hasil spin-off pada akhir 2025, total aset Unit Usaha Syariah (UUS) BTN mencapai Rp68,36 triliun pada kuartal III/2025, didorong oleh pertumbuhan pembiayaan dan dana pihak ketiga (DPK) pada periode tersebut.
“Dari sisi aset mungkin yang ada terbesit di kepala saya adalah untuk aset sekitar Rp76 triliun. Sudah naik lagi, Alhamdulillah,” ungkapnya.
Meski belum dapat merinci lebih jauh lantaran saat ini laporan kinerja kuartal I/2026 masih dalam proses audit, Arga mengungkapkan bahwa baik dari sisi pertumbuhan maupun kualitas, kinerja perseroan masih cukup baik untuk mendukung proses bisnis keseluruhan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN), selaku induk BSN.
Di sisi lain, perseroan terus melakukan reformasi pasca spin-off. Di antaranya, dengan melaksanakan proses-proses bisnis saat masih menjadi UUS BTN.
“Jadi, menjamin bahwa nasabah dari dulu namanya BTN Syariah masuk ke BSN tidak ada perubahan yang signifikan dari sisi experience mereka, bahkan harusnya improvement,” tuturnya.
Bersamaan dengan itu, perseroan juga melakukan proses transformasi dalam lima tahun ke depan, termasuk perbaikan dari sisi pembiayaan.
“Kami percaya bahwa kami bisa melakukan itu dengan cara membagi fokus yang sesuai antara dua-duanya dengan rasio yang baik,” pungkasnya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















