Home / Berita / Catatan Impor Pertamina dalam Tiga Tahun Terakhir

Catatan Impor Pertamina dalam Tiga Tahun Terakhir

PT Pertamina (Persero) mencatatkan penurunan volume impor minyak mentah atau crude oil dalam tiga tahun terakhir, tetapi mengalami peningkatan volume impor produk bahan bakar minyak (BBM).

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan perkiraan volume impor produk BBM naik 5 persen, tetapi dari sisi nilai menurun 6 persen. Saat ini, Pertamina hanya mengimpor gasoline (bensin), sementara gasoil(solar dan avtur) sudah tidak lagi impor

Sejak April lalu, Pertamina sudah mencukupi kebutuhan solar dan avtur dari pasokan crude oil dalam negeri. Hanya saja, saat ini Pertamina membutuhkan minyak mentah jenis medium crude dan light crude untuk dijadikan produk bensin.

Melihat profil impor Pertamina, volume impor crude mengalami penurunan dalam kurun waktu 2016-2018 dari sebanyak 149 juta barel menjadi sekitar 113 juta barel. Kenaikan impor terjadi pada segmen produk dari sekitar 117 juta barel pada 2016 menjadi 145 juta barel pada 2018.

“Kalau dari sisi impor, impor minyak mentah kami itu sudah jauh turunnya karena ada penyerapan [dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS)]. Tapi kan ada sisi hilir, kebutuhan BBM meningkat karena memang populasi dan kebutuhan meningkat,” katanya, kepada Bisnis, baru-baru ini.

Tahun ini, Pertamina menargetkan penjualan BBM (gasolinegasoilkerosene) sebanyak 48,86 juta kiloliter (KL). Adapun hingga paruh pertama 2019, realisasi penjualan BBM sudah mencapai 25 juta KL.

Sementara itu, target penjualan BBM Pertamina untuk retail mengalami penurunan 5 persen dari 2018 dengan realisasi penjualan sebanyak 49,61 juta KL. Fajriyah menyatakan penjualan BBM bisa saja melebihi target karena terus menyesuaikan terhadap permintaan.

Untuk penjualan BBM segmen industri ditargetkan mencapai 23,12 juta KL dengan realisasi penjualan sebesar 9,35 juta KL per Mei 2019.

Berdasarkan data penjualan BBM Pertamina, tren pertumbuhan penjualan baik segmen retail maupun industri berada dalam kisaran pertumbuhan 4 persen-5 persen dalam kurun waktu 2016-2018.  Hanya saja, untuk persentase segmen retail, penjualan BBM nonpublic service obligation (PSO) berangsur-angsur mengalami penurunan.

Sumber Bisnis, edit koranbumn

Check Also

Menteri Erick Thohir Belum Bersedia Ungkap Nama Calon Dirut BUMN

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir sudah menyerahkan nama-nama calon direksi untuk tiga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *