Home / Berita / Dirut Budi Noviantoro Tanda Tangani Pembangunan Jaringan Kereta Senilai Rp9 Triliun di Laos

Dirut Budi Noviantoro Tanda Tangani Pembangunan Jaringan Kereta Senilai Rp9 Triliun di Laos

Konsorsium Kerja Sama Pembangunan Kereta Indonesia (IDRC) akan membangun jalur kereta sepanjang 195 kilometer (km) dari Laos hingga kawasan pelabuhan di Vietnam. Proyek senilai Rp 9 triliun ini akan menopang ekspor batu bara Indonesia ke Laos dan impor potasium Laos ke Indonesia.

Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan jaringan kereta dilakukan Direktur Utama PT Inka (Persero) Budi Noviantoro dan Chairman PetroTrade Laos Chantone Sitthixay. Ikut menyaksikan acara penandatanganan tersebut Menteri Badan Urusan Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno, Duta Besar Indonesia Pratito Soeharyo, serta Wakil Menteri Perencanaan dan Investasi Laos Kikeo Chanthaboury.

Seluruhnya ada empat nota kesepahaman yang ditandatangani di Hotel Landmark, Vientiane, Laos, Selasa malam, 25 Juni 2019. Nota kesepahaman kedua dilakukan antara PetroTrade dengan PT Timah (Persero) dan PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk penambangan potasium di Laos.

Kemudian antara PetroTrade dengan PT Bukit Asam untuk penjualan batu bara ke Laos. Serta terakhir antara perusahaan ekspor-impor Laos Phaiboun dengan PT Perkebunan Nusantara Holding, Bulog, dan PT Indonesia.

Menteri Rini menyampaikan penandatanganan nota kesepahaman ini barulah langkah awal dari kerja sama di antara BUMN kedua negara. Tantangan yang lebih berat adalah bagaimana merealisasikannya dan menjadikan kerja sama ini benar-benar memberikan manfaat bagi kedua bangsa.

“Saya meminta terutama kepada jajaran BUMN Indonesia untuk bersungguh-sungguh menindaklanjuti nota kesepahaman ini. Seperti harapan Presiden Joko Widodo, kerja sama ini harus memberikan manfaat yang nyata bagi peningkatan kerja sama di antara kedua bangsa,” tegas Rini.

Dirut PT Inka berjanji untuk bisa segera merealisasikan nota kesepahaman ini. Apalagi pembangunan jaringan kereta dari Laos hingga wilayah Vietnam akan menjadi andalan untuk merealisasikan kesepakatan ekspor batubara Indonesia ke Laos dan impor potasium bagi kebutuhan pabrik pupuk di Indonesia.

“Pembangunan jaringan kereta ini akan menopang ekspor batu bara Indonesia ke Laos sekitar 6,5 juta ton per tahun. Sementara kita membutuhkan impor potasium sampai satu juta ton per tahun,” kata Budi. Dirut Inka berharap pihak PetroTrade cepat melakukan survei lapangan untuk mengetahui jalur yang akan dilewati dan kondisi tanahnya. Apabila survei telah dilakukan, maka pembangunan jalur kereta akan bisa diselesaikan dalam waktu 2,5 tahun.

“Kami menawarkan teknologi yang tidak umum dipakai dalam industri kereta api. Ini jenis kereta ringan yang bisa menghemat biaya pembangunan. Apabila perusahaan Korea menawarkan investasi sampai USD2,5 miliar, investasi yang kami tawarkan hanya sekitar Rp9 triliun,” papar Dirut Inka.

Sementara PT Perkebunan Nusantara Dolly Pulungan akan menjajaki kemungkinan untuk bisa memasarkan produk minyak kelapa sawit ke Laos. Di samping itu jika peraturan di Laos memungkinkan, PTPN berniat untuk membangun perkebunan seperti perkebunan tebu.

“Kami akan melihat berbagai kemungkinan yang bisa dikerjasamakan di bidang perkebunan,” kata Dolly.

Sumber INKA, edit koranbumn

Check Also

Holding Pelindo Jadi Solusi Tingkatkan Standarisasi Pelabuhan RI

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, Elvyn G Masassya menyebutkan saat ini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *