Home / Berita / Garuda Indonesia Optimis Capai Laba Bersih US$7 juta sesuai RKAP 2019

Garuda Indonesia Optimis Capai Laba Bersih US$7 juta sesuai RKAP 2019

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. mengklaim optimistis dapat mencapai target profit atau laba bersih US$7 juta yang dibidik perseroan dalam RKAP 2019 meski harus menurunkan harga tiket 20% untuk rute domestik.

Rencana Manajemen Garuda Indonesia Group menurunkan 20% harga tiket pesawat rute domestik langsung direspons oleh pasar modal. Saham emiten berkode GIAA itu tergelincir ke zona merah atau mengalami koreksi 7,14% pada sesi perdagangan, Kamis (14/2).

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham GIAA tersungkur 34 poin ke level Rp442. Koreksi yang dialami perseroan pada sesi perdagangan tersebut paling dalam dibandingkan dengan 19 emiten induk BUMN lainnya.

Padahal, laju saham GIAA terbilang moncer awal tahun ini. Sepanjang periode berjalan 2019, pergerakan tercatat menghasilkan return positif atau menguat 48,32%.

Akan tetapi, penguatan yang terjadi pada periode berjalan tahun ini belum mampu melewati harga penawaran umum perdana saham (IPO) GIAA. Pada 2011, maskapai pelat merah itu melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan harga perdana Rp750.

Saat dikonformasi Bisnis.com, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia Fuad  Rizal menjelaskan bahwa perseroan selalu mencari keseimbangan. Artinya, diharapkan penurunan harga dapat mengerek jumlah penumpang untuk rute penerbangan domestik.

Fuad mengatakan di tengah rencana penurunan harga tiket 20% untuk harga tiket domestik tetap optimistis dapat mencetak keuntungan pada 2019. Perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mencapai target tahun ini.

Dia mengatakan kargo akan menjadi pendapatan terbesar kedua setelah tiket pesawat. Tingkat isian menurutnya juga masih dapat dikembangkan.

Selanjutnya, Fuad menyebut GIAA juga sedang melakukan negoisasi dengan beberapa lessor. Hal itu untuk menurunkan harga sewa pesawat perseroan.

Dia mengharapkan penurunan harga tiket pesawat untuk rute domestik akan seimbang dengan rencana turunnya harga avtur. Akan tetapi, pihaknya masih menunggu kepastian terkait kebijakan tersebut.

“Guidence profit tahun ini US$7 juta. Dengan dilakukannya efisiensi atas biaya sewa pesawat dan penurunan avtur, diharapkan masih bisa tercapai target RKAP,” ujarnya.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2018, Garuda Indonesia membukukan pendapatan usaha US$3,21 miliar. Jumlah tersebut naik dari US$3,11 miliar pada kuartal III/2017.

Pada periode tersebut, GIAA melaporkan terjadi kenaikan beban bahan bakar sebesar 17,4% secara tahunan. Pengeluaran bahan bakar perseroan naik dari US$863,3 juta pada kuartal III/2017 menjadi US$1,01 miliar pada kuartal III/2018.

Di sisi lain, biaya sewa pesawat juga tercatat naik 1,5% secara tahunan. Pengeluaran perseroan naik dari US$799 juta pada kuartal III/2017 menjadi US$811 juta pada kuartal III/2018.

Secara keseluruhan, beban pokok penjualan dan pendapatan tercatat naik dari US$2,75 miliar pada kuartal III/2017 menjadi US$2,94 miliar pada kuartal III/2018. Dengan demikian, laba bruto yang dibukukan US$271,77 juta per 30 September 2018.

Dari situ, Garuda Indonesia membukukan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$114,08 juta pada 30 September 2018, atau turun 48,62% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Sementara itu, berdasarkan data historikal operasional yang dilansir dari laman resmi perseroan, jumlah penumpang rute domestik perseroan mencapai 19,17 juta pada 2017. Sementara itu, jumlah penumpang rute internasional sebesar 4,79 juta.

Akan tetapi, terjadi penurunan untuk jumlah penumpang rute domestik secara tahunan pada 2017. Tercatat, total penumpang rute domestik turun 1,59% dari 19,48 juta pada 2016.

Sebaliknya, jumlah penumpang untuk rute internasional mengalami pertumbuhan 8,12% dari 4,43 juta pada 2016.

Secara terpisah, Managing Director Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LM FE UI) Toto Pranoto menilai kebijakan penurunan harga tiket untuk rute domestik yang ditempuh GIAA akibat dari tekanan eksternar. Menurutnya, secara internal, tekanan harga bahan bakar memang membuat perseroan harus menaikkan harga.

“Kebijakan turun atau naik harga tiket karena tekanan eksternal ini punya dampak negatif terhadap kepercayaan dari investor. Bisa timbul persepsi GIAA tidak terlalu independen dalam membuat kebijakan sehingga dianggap bisa merugikan investor,” jelasnya.

Terkait pergerakan harga saham, Frederik Rasali, Vice President Research Artha Sekuritas menilai penurunan harga saham yang terjadi pada perdagangan hari ini menjadi cerminan respons atas berita penurunan harga tiket 20% untuk rute domestik. Menurutnya, para investor mempertimbangkan proyeksi kinerja keuangan GIAA ke depan.

“Dari revenue [karena penurunan harga tiket 20%] ada kemungkinan turun, assuming volume penjualan tidak naik signifikan,” ujarnya saat, Kamis (14/2).

Frederik menyebut apabila penurunan harga 20% dapat dikompensasi oleh peningkatan volume penjualan tiket maka tidak akan merugikan perseroan. Akan tetapi, penurunan harga tiket tidak serta merta meningkatkan penjualan tiket secara langsung sehingga lebih condong menjadi sentimen negatif.

sumber Bisnis,edit koranbumn

Check Also

Tahun Depan, BRI Syariah Targetkan Penyaluran KUR Sebesari Rp 3 Triliun

BRI Syariah menargetkan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) syariah pada tahun 2020 mencapai Rp 3 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *