Home / Berita / Geoscientist Pertamina Gelar Geological Field Trip (GFT) and Class Discussion (CD), Upaya Mencari Migas Berada

Geoscientist Pertamina Gelar Geological Field Trip (GFT) and Class Discussion (CD), Upaya Mencari Migas Berada

Batuan tertua di Pulau Jawa berumur Pra-Terier, atau lebih dari 65 juta tahun lampau. Batuan tersebut dapat ditemukan di tiga daerah saja, yakni Ciletuh (Sukabumi), Karangsambung (Kebumen), dan Bayat (Klaten). Hanya di tiga lokasi itu batuan yang menjadi alas dari cekungan sedimen Tersier (terbentuk sekitar 65 – 2,5 juta tahun lalu), di Pulau Jawa dapat dipelajari.

Dalam ekplorasi minyak dan gas bumi (migas), mempelajari dan mengevaluasi tatanan geologi suatu cekungan khususnya yang berumur Tersier menjadi penting. Pasalnya, hampir seluruh lapangan migas di Indonesia ditemukan dalam cekungan sedimen berumur Tersier. Rekonstruksi cekungan sedimen Tersier, hingga kini merupakan langkah awal yang mutlak harus dilakukan oleh para eksplorasionis, pegiat upaya pencarian cadangan migas di Indonesia.

Bertolak dari fakta empiris di atas, Pertamina Upstream Technical Center (UTC) pada 1 s/d 3 Mei 2019 lalu mengadakan Geological Field Trip (GFT) and Class Discussion (CD) dengan tema: Revisit of Cretaceous Convergence of Sundaland Margin from Java to Sulawesi and Yogyakarta Sub-Basin. Daerah-daerah yang dikunjungi meliputi Karangsambung (Kebumen), Bayat (Klaten), dan Gunung Kidul (Yogyakarta). Kegiatan tersebut diikuti oleh 31 orang geoscientist terdiri atas wakil-wakil dari UTC, Fungsi Eksplorasi Pertamina Hulu, Pertamina EP (PEP), Pertamina Hulu Energi (PHE), Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Pertamina Internasional EP (PIEP), Pertamina Riset & Technology Center (RTC), dan Universitas Pertamina (UP).

Pakar geologi regional dari SKK Migas, Awang H. Satyana bersama Dr. C. Prasetyadi (UPN Yogyakarta) ditunjuk selaku narasumber (instruktur) dan field trip leader. Di samping itu, Doddy Priambodo (Mantan SVP Eksplorasi Pertamina Hulu) yang juga ikut selaku peserta, turut memperkaya diskusi baik di lapangan maupun pada sesi dalam kelas lewat paparan tambahan berikut komentar-komentarnya.

Field trip ini dimaksudkan, untuk menyegarkan kembali pengetahuan dan mengasah kemampuan para ahli kebumian Pertamina dalam pengamatan geologi lapangan. Selain itu, semua peserta juga diharapkan memahami rekonstruksi baru tektonik proses pertemuan Paparan Sunda (Sundaland) Bagian Selatan dan Tenggara dengan Mikrokontinen Gondwana yang berlangsung kala Cretaceous (Kapur), sekitar 145 – 65 juta tahun lalu,” ucap Awang meneruskan pesan dari manajemen UTC kepada peserta.

Lebih jauh Awang menambahkan, lewat field trip ini manajemen UTC juga menaruh asa kepada seluruh peserta, supaya memperluas pemahaman tentang tatanan geologi regional serta proses geotektonik Pulau Jawa Bagian Tengah dan Selatan, perkembangan cekungan dan kondisi batuan dasar (basement) yang mendukung petroleum system, mengetahui struktur geologi serta urutan stratigrafi wilayah tengah dan selatan P. Jawa, berikut implikasinya terhadap keberadaan minyak dan gas bumi. “Di balik semua itu, kepada peserta diharapkan agar mampu meningkatkan kapabilitas dan profesionalismenya, dalam memberikan rekomendasi strategi eksplorasi untuk kawasan tengah dan selatan Pulau Jawa,” ujar Awang.

Lokasi pengamatan

Titik tuju pengamatan awal adalah singkapan batuan Pra-Tersier yang berada di daerah Lok Ulo, Karangsambung (Kebumen), sekitar 20 km dari kota Kebumen lewat jalur selatan, atau 25 km dari Banjarnegara di utaranya. Lokasi pertama yang disambangi berada di Jalan Raya Desa Totogan, Karangsambung (Kebumen). Di lokasi ini, peserta mendapat penjelasan dari C. Prasetyadi selaku narasumber tentang morfologi bentang alam lembah Totogan. “Bentang alam di sini menunjukkan keragaman kondisi geologi daerah Karangsambung,” ucap Prasetyadi mengawali keterangannya. Kemudian ia menambahkan, perbukitan sebelah kiri merupakan perbukitan irreguler yang disusun oleh bebatuan Pra-Tersier Komplek Melange Luk Ulo, berumur Kapur Bawah Bagian Atas – Kapur Atas (sekitar 125 – 67 juta tahun lalu). Sementara bagian sebelah kanan memperlihatkan morfologi punggungan yang dibangun oleh batuan breksi Formasi Waturanda, berumur Oligosen Atas – Miosen Bawah (sekitar 28 – 16 juta tahun lampau). “Kalau topografi lembah di bagian tengah disusun oleh satuan batulempung Formasi Totogan yang berumur Oligosen, atau sekitar 34 – 23 juta tahun silam,” terang Prasetyadi.

Selanjutnya, peserta dibawa menyusuri Kali Muncar hingga Watukelir, (Karangsambung). Dalam penyusuran lokasi ini peserta mengamati Komplek Melange Luk Ulo berupa singkapan batuan bancuh (melance) dengan boulder-boulder batuan beku (gabro dan diabas), batuan ubahan atau metamorf (sekis, serpentinit, eklogit), serta batuan sedimen laut dalam (rijang dan kalsilutit). Di Watukelir peserta mengamati singkapan batugamping radiolarit dengan boulder rijang yang kontak langsung dengan lava (berstruktur) bantal (pillow lava). “Batuan bancuh di sini merupakan bagian dari komplek prisma akrasi Zona Tumbukan (Subduksi) Kapur Atas Meratus – Karangsambung. Kehadiran lava bantal, batugamping radiolarit, dan rijang menjadi bukti daerah ini dulunya merupakan kawasan lantai samudera,” papar Prasetyadi di lokasi pengamatan.

Selepas dari Kali Muncar peserta menuju lokasi ketiga di tepi sungai Luk Ulo, desa Pucangan (Karangsambung). Di sini tersingkap batuan breksi polimik dari Formasi Totogan dengan fragmen-fragmen berbagai jenis batuan, antara lain sekis, basalt, rijang, serpentinit, dan filit. “Variasi jenis batuan yang menjadi fragmen singkapan tersebut menunjukkan sumbernya berasal dari bebatuan basement Komplek Melange Luk Ulo,” ucap Prasetyadi. Formasi Totogan secara stratigrafi terletak tidak selaras di atas Formasi Karangsambung yang berumur Eosen, atau sekitar 56 – 34 juta tahun silam. Formasi Karangsambung sendiri diendapkan tidak selaras di atas Komplek Melange Luk Ulo.

Stasiun pengamatan berikutnya yang dikunjungi pada hari pertama adalah singkapan batuan konglomerat yang terletak di belakang pasar Karangsambung. “Batuan konglomerat dijumpai sebagai blok-blok dalam Formasi Karangsambug. Komponen polimiknya terdiri atas berbagai fragmen batuan lebih tua yang berasal dari satuan Komplek Melange Luk Ulo. Sebagai konglomerat dasar batuan ini menunjukkan hasil erosi dari pengangkatan Komplek Melange Lok Ulo,” jelas Prasetyadi menutup diskusi di lokasi terakhir hari pertama

Pada hari kedua para peserta melakukan pengamatan di daerah Bayat (Klaten). Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Desa Sekarbolo di wilayah perbukitan Jiwo Barat. Di lokasi ini peserta mengamati dan mendiskusikan singkapan batugamping yang kaya fosil Nummulites. “Kehadiran fosil Nummulites menunjukkan formasi batugamping ini berumur Eosen,” ungkap Prasetyadi. Di lokasi ini juga peserta mengamati kontak batuan sedimen Eosen (batugamping Numulites) dengan basement metamorf jenis filit. Berikutnya, lokasi kedua, masih di daerah Jiwo Barat peserta mengamati singkapan konglomerat dengan fragmen kuarsit, filit, dan batuan basement lainnya. Kedua jenis batuan tersebut masuk dalam Formasi Wungkal yang berumur Eosen Tengah (sekitar 49 – 37 juta tahun lalu) dan diendapkan secara tidak selaras di atas batuan dasar metamorf (filit).

“Selanjutnya, kita akan ke perbukitan Jiwo Timur,” ucap Prasetyadi. Lokasi yang dituju adalah singkapan batuan di Gunung Gajah (Jiwo Timur). Di lokasi ini peserta mengamati kontak antara basement berupa batuan filit (Pra Tersier) dengan sedimen Tersier (Eosen), yaitu serpih. Selepas dari Gunung Gajah, peserta dibawa ke Watu Perahu masih di wilayah perbukitan Jiwo Timur.

Di Watu Perahu, peserta mengamati singkapan batugamping numulites. “Selain itu, di sini juga dapat diamati kontak batuan dasar (filit) dengan batuan sedimen Eosen, berupa konglomerat dengan fragmen-fragmen kwarsit,” ujar Prasetyadi. Pengamatan hari kedua ini, berakhir di lokasi singkapan batuan sebelah tenggara Watu Perahu, yakni singkapan batulanau dan serpih. Seluruh fasies batuan sedimen di wilayah perbukitan Jiwo Timur masuk dalam Formasi Wungkal.

Hari ketiga atau hari terakhir fied trip, peserta mengamati singkapan batuan di Jalan Raya Prambanan – Ngoro-oro, Pathuk (Gunung Kidul). Batuan yang tersingkap di lokasi ini didominasi oleh serpih karbonan, batupasir tufaan dengan sisipan tuff dari Formasi Semilir, berusia Miosen Bawah, atau sekitar 20 – 16 juta tahun silam. Selanjutnya peserta melakukan pengamatan singakapan batugamping Wonosari di Kecamatan Ponjong (Gunung Kidul). “Di lokasi ini para peserta dapat mengamati fasies batuan karbonat (batugamping) Formasi Wonosari, berumur Miosen Tengah – Pliosen, atau sekitar 15 – 1,8 juta tahun lalu,” kata Awang di lokasi pengamatan.

Diskusi Dalam Kelas

Selama GFT, dilakukan 3 kali sesi diskusi dalam kelas yakni pada 31/4/2019, malam di Kebumen (Hotel Mexolie); di Kampus Geologi Lapangan Karangsambung (1/5/2019, siang); dan di Rumah Makan Kurnia Village (Handayani,Yogyakarta), 3/5/2019, malam. Pada sesi pertama, Prasetyadi selaku narasumber memaparkan tentang tatanan geologi Karangsambung yang merupakan salah satu daerah, di mana batuan Pra Tersier tersingkap secara luas dibandingkan dengan dua lokasi lainnya, baik di Ciletuh (Sukabumi, Jawa Barat) maupun di Bayat (Klaten, Jawa Tengah). Selanjutnya, dalam sesi kedua di Kampus Geologi Karangsambung, tampil Awang selaku narasumber. Pada kesempatan ini Awang memaparkan tinjauan baru konvergensi Paparan Sunda (Sundaland) bagian tenggara dan selatan pada era Kapur (sekitar 145 – 65 juta tahun lampau), serta implikasinya terhadap prospek hidrokarbon untuk Pre-Tersier Exploration Play Concept di Wilayah Indonesia Barat meliputi batuan induk, proses pematangan, jalur migrasi, maupun reservoir dan pemerangkapannya.

Lebih lanjut, Awang juga mengangkat pandangan mutakhirnya berkaitan dengan eksistensi batuan Pra Tersier Bayat, karena secara origin berbeda dengan Luk Ulo dan Ciletuh. Bayat merupakan bagian dari mikrokontinen Jawa Timur Selatan, yang berasal dari utara Australia, bukan bagian dari anggota Zona Subduksi Paparan Sunda Era Kapur. Menurutnya ada 5 ciri Zona Subduksi Kapur yang tidak dijumpai di Bayat, yaitu: (1) tidak ditemukan melange di Bayat, (2) tidak ada kelompok batuan ofiolit, (3) tidak ada batuan metamorf khas yang terbentuk di zona subduksi (high-very high pressured metamorphics), (4) tidak ada sedimen laut dalam baik rijang, serpih silikaan, maupun batugamping silikaan yang mengandung radiolaria, (5) endapan sedimen di atas batuan tua di Bayat bukan endapan longsoran di lereng palung. “Data-data tersebut, merupakan bukti signifikan bahwa Bayat tidak termasuk dalam Zona Subduksi Kapur,” simpul Awang.

Dalam sesi ketiga diskusi kelas, Awang menjelaskan sejarah eksplorasi migas dan potensi carbonate build up Formasi Wonosari sebagai batuan resevoir di daerah Jawa Tengah Selatan. “Pada awal 1970-an, Java Shell melakukan pengeboran eksplorasi di lepas pantai Jawa Tengah Selatan, sumur Alveolina – 1 dan Borelis -1. Sumur Alveolina – 1 menembus carbonate build up Formasi Wonosari dengan porositas bagus. Sumur ini kosong karena tidak ada pengisian hidrokarbon kedalam reservoir. Sementara di sumur Borelis – 1 tidak dijumpai carbonate build up seperti di lokasi Alviolina – 1, fasies yang berkembang lebih basinal,” pungkas Awang menutup pemaparannya.

Sumber Pertamina, edit koranbumn

Check Also

Sinopsis Buku Berjudul Djedjak Langkah

Sinopsis Djedjak Langkah karya Bakri Siregar Mawar tak ada di rumah, sejak makan malam tadi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *