Home / Berita / Komisaris Independen Roy Edison Maningkas Mundur dari Jajaran Dewan Komisaris Krakatau Steel

Komisaris Independen Roy Edison Maningkas Mundur dari Jajaran Dewan Komisaris Krakatau Steel

Komisaris Independen PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Roy Edison Maningkas mengajukan pengunduran diri dari jajaran Dewan Komisaris perseroan.

“Saya [pada] 11 Juli 2019, mengajukan pengunduran diri, langsung bawa ke Deputi dan Menteri [BUMN],” ujarnya di Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Roy mengatakan mengajukan surat kepada Kementerian BUMN dengan dissenting opinion proyek blast furnace dan sekaligus mengajukan pengunduran diri sebagai komisaris independen.

Menurutnya, langkah itu dilakukan untuk mendapat perhatian dari Kementerian BUMN agar negara tidak dirugikan dengan proyek blast furnace. Tetapi, pihaknya mengklaim dissenting opinion itu mendapat respons negatif dari Kementerian BUMN.

“Saya sudah kirimkan surat kepada Kementerian BUMN 3-4 kali untuk mengingatkan terkait proyek blast furnace. Anda punya proyek, saya ditugaskan mengawasi, saya kasih tahu ada begini-begini kok malah saya dimarahin?” papar Roy.

Dia menjelaskan bahwa proyek blast furnace sudah terlambat 72 bulan. Harga pokok produksi yang dihasilkan lebih mahal US$82 per ton jika dibandingkan dengan harga pasar.

“Jika produksi 1,1 juta ton per tahun, potensi kerugian Krakatau Steel Rp1,3 triliun per tahun,” sebut Roy.

Roy diangkat sebagai Komisaris Independen Krakatau Steel dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 4 April 2016. Sebelum bergabung ke produsen baja pelat merah itu, dia bergelut di dunia konsultan keuangan dan investasi selama 26 tahun.

Beberapa posisi yang pernah Roy isi di antaranya Penasihat Keuangan atau Investor Relation PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. pada 2008—2010, Konsultan Investor Relation PT Bank Bukopin Tbk. pada 2010—2011, dan konsultan Investor Relation PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. pada 2014.

Dalam catatan Bisnis, emiten berkode saham KRAS itu membukukan kerugian beruntun sejak 2012 hingga 2018. Rugi yang dibukukan sepanjang periode itu yakni US$20,43 juta (2012), US$13,98 juta (2013), US$147,11 juta (2014), US$320 juta (2015), US$171,69 juta (2016), US$81,74 (2017), dan US$74,82 (2018).

Oleh karena itu, manajemen KRAS tengah melancarkan serangkaian langkah restrukturisasi, mulai dari upaya restrukturisasi utang senilai US$2,2 miliar, penjualan aset-aset non-core atau non-inti perseroan, hingga spin off divisi usaha.

Bahkan, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim sempat mengungkapkan ingin bergabung dengan Holding BUMN Industri Pertambangan. Strategi itu dipandang dapat mempercepat proses transformasi dan restrukturisasi perseroan.

Sumber Bisnis, edit koranbumn

 

Check Also

PP Presisi Perkirakan Hanya Bisa Belanjakan Modal Sebesar 70 Persen dari yang Dianggarkan

PT PP Presisi Tbk. konservatif dalam menggunakan dana belanja modal atau capital expenditure. Dari dana yang disiapkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *