Home / Berita / Literasi PTPN VIII : Tokoh Nasionalisasi Perkebunan Jawa Barat

Literasi PTPN VIII : Tokoh Nasionalisasi Perkebunan Jawa Barat

Sehari sebelum nasionalisasi, tak ada kabar yang berhembus bahwa esok hari akan terjadi pengambilalihan. Hanya saja, situasi politik antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda saat itu semakin panas dan tegang. Ini terjadi karena Pemerintah Belanda tidak mau menyerahkan kedaulatan atas Irian Barat kepada Pemerintah Indonesia. Indonesia pun dalam kondisi mencekam, TNI siap siaga dan negara di tetapkan dalam keadaan darurat perang.

Ada empat tim yang dipercaya mengambil alih seluruh kebun di Jawa Barat. Setiap tim dipimpin oleh seorang staf senior Indonesia dari salah satu kebun. Empat tokoh tersebut adalah M.I. Salhuteru, H.A. Djuhana Sastrawinata, R.H. Pandji Natadikara, dan Kurnadi Syarif Iskandar.

Sekitar pukul 6 pagi 10 Desember 1957, Kurnadi dan rekan-rekan secara mendadak diperintah untuk mengikuti apel besar di Halaman Resimen X, Tegallega, Bandung. Para pelaku nasionalisasi diberikan enam carik kertas Surat
Penetapan Pelaksana Kuasa Militer Daerah Reseimen Infanteri 10.

Mereka diperintahkan oleh Menteri Pertahanan/Penguasa Militer dan Menteri Pertanian yang tercantum dalam SK. No. 1063/PMT/1957 dan SK No. 229/UM/1957 untuk mengambil alih semua perkebunan milik Belanda. Sesuai
perintah, Kurnadi melakukan pengambilalihan di daerah Pengalengan yang terdiri 13 perkebunan, Djuhana di daerah Cikalongwetan yang terdiri dari 6 perkebunan, Salhuteru di daerah Patuha terdiri dari 7 perkebunan, sedangkan Pandji di daerah Garut terdiri dari 9 perkebunan.

Setelah menerima surat, pada hari itu juga, Kurnadi menginstruksikan administratur Belanda untuk berkumpul di Malabar. Pertemuan berlangsung cukup alot, pihak Belanda tidak mau menyerahkan kebun begitu saja. Namun, kurnadi bersikap tegas dengan nada tinggi. Mereka para administratur Belanda pada akhgirnya berunding terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Tak lama kemudian, Administratur-administratur Belanda memutuskan bersedia menandatangani berita acara pengambilalihan perkebunan dengan catatan Vi Coactus yang artinya di bawah tekanan.

Sumber PTPN VIII, edit koranbumn

Check Also

Holding Pelindo Jadi Solusi Tingkatkan Standarisasi Pelabuhan RI

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, Elvyn G Masassya menyebutkan saat ini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *