Home / Berita / Menteri Bambang Paparkan Strategi Pembangunan Infrastruktur, Saat Joint Meeting dengan OMFIF di London

Menteri Bambang Paparkan Strategi Pembangunan Infrastruktur, Saat Joint Meeting dengan OMFIF di London

Memulai Kunjungan Kerja di Inggris dan Paris pada 2-4 Juli 2019 dalam rangka menjadi pembicara kunci pada Indonesia Infrastructure Investment Forum (IIIF) 2019, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menghadiri Joint Meeting dengan Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) di London, Inggris (1/7).

Pertemuan yang turut dihadiri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo tersebut membahas strategi pembangunan infrastruktur dan stabilitas moneter di Indonesia. “Pendapatan domestik Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan sejak 2018, mencapai Rp 1.943,7 T atau sebesar 13,1 persen dari PDB akibat reformasi kebijakan dan fiskal. Hingga saat ini, pendapatan dari pajak masih menjadi sumber utama pendapatan negara,” ujar Menteri Bambang.

Ke depan, Indonesia mengandalkan pada intensifikasi pajak seperti tarif progresif, kerja sama bilateral, dan terobosan insentif pajak serta ekstensifikasi pajak seperti perjanjian pajak dan bilateral untuk perdagangan antar perbatasan dan transaksi digital.

Selain itu, indikator baiknya anggaran Indonesia juga tercermin dari alokasi anggaran yang berkontribusi terhadap pembangunan nasional dan memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan inklusif. Peningkatan transfer ke daerah dan dana desa juga turut berkontribusi untuk akses layanan publik yang lebih baik, pengembangan sumber daya manusia, dan daya saing lokal. Di masa mendatang, kebijakan berprinsip Tematik, Holistik, Integratif dan Spasial (THIS) juga terus diimplementasikan untuk pembangunan yang lebih baik.

Pemerintah Indonesia juga terus menjaga profil utang sebagai upaya untuk meminimalkan risiko. Di Mei 2019, rasio utang berada di posisi 29,7 persen PDB, sementara realisasi utang pada Januari hingga Mei 2019 mencapai US$ 108,1 miliar. Mayoritas utang didominasi Surat Berharga Negara sebesar US$ 209,71 miliar atau sebesar 82,60 persen dari total utang.

Membandingkan rasio utang ke defisit adalah cara yang paling proporsional untuk menghitung beban utang suatu Negara.

“Dibandingkan negara lain, kebijakan fiskal Indonesia jauh lebih prudent. Di 2018, rasio utang Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara lainnya, yakni sebesar hampir 30 persen. Dengan defisit yang relatif sama, Italia dan Meksiko misalnya, memiliki rasio utang lebih dari dua kali lipat dibanding Indonesia,” tegas Menteri Bambang.

Kondisi makro pun terbilang cukup stabil, dengan kebijakan fiskal dan moneter yang berkontribusi terhadap inflasi yang rendah dan stabil. Di akhir 2018, inflasi Indeks Harga Konsumen tercatat 3,13 persen (year on year), masih berada dalam target. Di 2019, rupiah pun diprediksi terus menguat akibat kontribusi dari outlook ekonomi yang positif, sinyal The Fed untuk memotong tingkat suku bunga, dan perbaikan peringkat investasi Indonesia oleh S&P Ratings,” tegas Menteri Bambang.

Sumber Bappenas, edit koranbumn

 

Check Also

Menteri Erick Thohir Berencana Merger 85 Hotel Milik BUMN

Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMN Erick Thohir berencana menggabungkan usaha milik BUMN di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *