Home / Berita / Obligasi BUMN Konstruksi (1) : Total Obligasi Outstanding Emiten Karya Tembus Rp 24 T

Obligasi BUMN Konstruksi (1) : Total Obligasi Outstanding Emiten Karya Tembus Rp 24 T

Obligasi merupakan salah satu instrumen favorit yang diterbitkan baik oleh perusahaan terbuka (emiten) maupun perusahaan tertutup untuk menggalang dana eksternal di pasar modal dan menjadi alternatif utama selain sumber pendanaan utang perbankan.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Juni 2019, nilai obligasi yang beredar (oustanding) di Indonesia mencapai Rp 436,49 triliun, naik 5,35% year-on-year (YoY) dari capaian tahun lalu yang ada di Rp 414,34 triliun.

Penerbitan obligasi, terutama obligasi korporasi, sepertinya akan kembali deras tahun ini didorong sentimen peringkat utang Indonesia yang naik dan nada kalem dari Bank Indonesia yang tampaknya tidak akan menaikkan suku bunga acuan.

Jika suku bunga acuan stagnan, bahkan berpeluang turun, maka cost of fund atau beban bunga atau kupon yang harus dibayarkan oleh perusahaan menjadi lebih kecil.

Selain itu, ramainya penerbitan juga berkaitan dengan upaya refinancingatau pembiayaan ulang untuk menutupi obligasi yang bakal jatuh tempo.

Dari data KSEI, industri yang rajin menerbitkan obligasi korporasi, salah satunya adalah industri konstruksi selain sektor jasa keuangan yang dominan merilis obligasi.

Banyaknya penerbitan surat utang di sektor konstruksi mengingat proyek-proyek perusahaan ini umumnya berskema turnkey project yang memaksa perusahaan untuk menanggung beban pembangunan.

Turnkey project
 adalah pembayaran dari developer atau pemilik proyek kepada kontraktor dilakukan saat pekerjaan telah selesai seluruhnya atau pada saat proyek serah terima dari pelaksana ke pemilik.

Alhasil, perusahaan harus mencari dana eksternal untuk menanggung biaya pembangunan di awal yang jumlahnya tidak sedikit.

Melansir data KSEI, tercatat ada sekitar Rp 24,38 triliun obligasi outstanding (beredar) milik emiten karya (konstruksi), di mana sekitar 22,11% atau Rp 5,39 triliun akan jatuh tempo dalam waktu dekat (2020). Perhitungan ini memasukkan Hutama Karya yang belum menjadi perusahaan publik.

Perusahaan
Seri
Jumlah (Miliar Rp)
Jatuh Tempo
PT Jasa Marga Tbk (JSMR)
Obligasi Bekelanjutan I Jasa Marga Tahap II 2014 Seri T 1,000 19-Sep-2019
PT PP Tbk (PTPP) Obligasi Bekelanjutan I PP Tahap II 2015 300 24-Feb-2020
PT Adhi Karya Tbk (ADHI) Obligasi Bekelanjutan I Adhi Karya Tahap II 2013 Seri B 500 15-Mar-2020
PT Hutama Karya Obligasi I Hutama Karya 2013 Seri C 325 28-Jun-2020
PT Waskita Karya Tbk (WSKT) Obligasi Bekelanjutan II Waskita Karya Tahap III 2017 Seri A 747 21-Feb-2020
PT Waskita Karya Tbk (WSKT) Obligasi Bekelanjutan III Waskita Karya Tahap I 2017 Seri A 1,369 06-Okt-2020
PT Waskita Karya Tbk (WSKT) Obligasi Bekelanjutan I Waskita Karya Tahap II 2015 Seri B 1,150 16-Okt-2020

Sumber:KSEI, diolah oleh Dwi Ayuningtyas

Berdasarkan data di atas, terlihat PT Waskita Karya Tbk (WSJT) memiliki obligasi korporasi dengan jumlah terbesar yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat (2020). Nilainya mencapai Rp 3,27 triliun.

Melansir laporan arus kas WSKT kuartal I-2019, jumlah kas dan setara arus kas yang dimiliki perusahaan tercatat sebesar Rp 6,33 triliun, lebih besar dibandingkan dengan nilai obligasi yang harus dilunasi.

Pemegang obligasi korporasi WSKT bisa merasa aman karena perusahaan punya kas yang cukup. Namun, perlu dicatat bahwa mayoritas kas tersebut didapat dari aktivitas pendanaan (pinjaman bank), sehingga memerlukan waktu untuk dicairkan.

Data ini tentu saja belum memperhitungkan penerbitan obligasi syariah (sukuk) dan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN).

Sumber CNBC, edit koranbumn

Check Also

PTPN IV Menerima Penghargaan sebagai Responden Liaison Terbaik 2019

PT Perkebunan Nusantara IV menerima penghargaan sebagai Responden Liaison Terbaik 2019 pada Pertemuan Tahunan Bank …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *