Home / Berita / Obligasi BUMN Konstruksi (4) : Obligasi Waskita Karya Terkini, Rating A- dan Penerbitan Emisi Obligasi 2019

Obligasi BUMN Konstruksi (4) : Obligasi Waskita Karya Terkini, Rating A- dan Penerbitan Emisi Obligasi 2019

Pefindo Berikan Peringkat Waskita Karya jadi A-

Peringkat PT Waskita Karya (Persero) Tbk tetap di “idA-”, outlook direvisi menjadi stabil PEFINDO telah menegaskan peringkat “idA-” untuk PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), Obligasi PUB I/2015, Obligasi PUB II 2016 fase II, dan Obligasi PUB II 2017.

Kami juga telah menegaskan peringkat “idA-” untuk Obligasi PUB II 2016 fase I sebesar Rp2 triliun yang akan jatuh tempo pada 10 Juni 2019. WSKT berencana menggunakan kas internal dari pembayaran kontrak turnkey untuk melunasi obligasi yang akan jatuh tempo tersebut.

WSKT dijadwalkan menerima sekitar Rp26 triliun dari pembayaran kontrak turnkey di 2019, yang berasal dari proyek seperti light rail transit Sumatra Selatan serta jalan tol Jakarta-Cikampek dan Terbanggi BesarPematang Panggang. Perusahaan menerima arus kas masuk sebesar Rp13,8 triliun dari pembayaran kontrak turnkey di 2018.

Outlook untuk peringkat Perusahaan direvisi menjadi “stabil” dari “positif”, yang mencerminkan ekspektasi kami bahwa leverage Perusahaan, yang diukur dengan rasio utang bersih terhadap EBITDA, akan tetap tinggi dalam jangka waktu dekat hingga menengah, mengingat simpanan kontrak yang tinggi, yakni sekitar Rp68 triliun pada akhir 2018, dimana beberapa di antaranya merupakan proyek turnkey yang membutuhkan modal kerja yang signifikan.

Rasio utang terhadap ekuitas sebesar 2,4x pada 31 Desember 2018 juga mendekati batasan 3,0x sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian bank dan obligasi. Posisi utang WSKT yang tinggi juga dapat memberi tekanan pada perlindungan bunga di tengah tingkat suku bunga yang lebih tinggi dikarenakan 76% dari struktur utangnya terdiri dari pinjaman bank, 43% di antaranya bersifat jangka pendek.

Obligor dengan peringkat idA memiliki kemampuan yang kuat dibanding obligor Indonesia lainnya untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya. Walaupun demikian, kemampuan obligor mungkin akan terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi dibandingkan obligor dengan peringkat lebih tinggi.

Tanda Kurang (-) menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif lemah dan di bawah rata-rata kategori yang bersangkutan.

Peringkat tersebut mencerminkan posisi pasar Perusahaan yang kuat di industri konstruksi domestik, marjin keuntungan yang baik karena segmen proyek yang beragam, dan keuntungan sebagai perusahaan konstruksi milik Negara.

Namun, peringkat tersebut dibatasi oleh tingginya leverage keuangan Perusahaan, lingkungan bisnis yang cukup fluktuatif pada industri konstruksi, dan risiko yang berkaitan dengan ekspansi agresif Perusahaan di bisnis jalan tol dan rencana divestasi. Peringkat dapat dinaikkan jika WSKT berhasil melakukan divestasi aset jalan tolnya tepat waktu sesuai kisaran harga yang diharapkan, sekaligus memperbaiki profil kreditnya sampai pada tingkat yang kami pandang setara dengan peringkat idA, secara berkelanjutan.

Ini juga harus diiringi dengan profitabilitas yang baik di atas peer untuk mengkompensasi risiko yang lebih tinggi dari proyek turnkey yang dikerjakan oleh Perusahaan. Peringkat dapat diturunkan jika WSKT gagal meraih target pendapatannya dan jika nilai tambahan utang melebihi dari yang diproyeksikan, yang mengakibatkan pemburukan pada profil kredit.

Peringkat juga dapat diturunkan bila investasi di jalan tol berkinerja lebih buruk dari yang diharapkan, termasuk rencana untuk melakukan divestasi tidak terealisasi, dan mengakibatkan pemburukan pada profil kredit. WSKT adalah salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia.

Bisnis utama dari Perusahaan adalah menyediakan pekerjaan konstruksi, yang memberikan kontribusi 97% terhadap total pendapatan Perusahaan pada tahun 2018. Usaha lainnya meliputi beton pracetak, jalan tol, properti, dan energi. Perusahaan memiliki jaringan pemasaran dalam negeri yang luas dengan 33 kantor pemasaran di dalam negeri. Struktur pemegang saham pada 31 Desember 2018 terdiri dari Pemerintah Indonesia dengan kepemilikan saham sebesar 66% dan sisanya dimiliki oleh publik.

Penerbitan Obligasi Waskita Karya Tahun 2019

PT Waskita Karya Tbk (WSKT) berencana menerbitan Obligasi Berkelanjutan lll Tahap lV Tahun 2019 dengan target penerbitan Rp 1,84 triliun.

Penerbitan obligasi ini merupakan bagian dari penawaran umum berkelanjutan obligasi III dengan target dana sebesar Rp 10 triliun.

Senior Vice President Corporate Secretary PT Waskita Karya Tbk Shastia Hadiarti mengungkapkan, Obligasi berkelanjutan III Waskita tahap IV ini diterbitkan tanpa warkat, kecuali sertifikat jumbo obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan atas nama Kustodia Sentra Efek Indonesia (KSEI).

“Ini sebagai bukti utang untuk kepentingan pemegang obligasi melalui pemegang rekening dan didaftarkan pada tanggal diserahkannya sertifikat jumbo obligasi oleh perusahaan kepada KSEI,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, Senin (29/4).

Obligasi ini ditawarkan dengan nilai 100% dari jumlah pokok obligasi dan akan dibayarkan setiap tiga bulan sesuai dengan tanggal pembayaran bunga obligasi. Adapun pembayaran pertama bunga obligasi akan dilakukan pada tanggal 16 Agustus 2019.

“Jumlah pokok pinjaman perusahaan kepada pemegang obligasi sebesar Rp 1,84 triliun yang terdiri atas saham seri A dan Seri B,” kata dia.

Jumlah tersebut terdiri dari obligasi Seri A yang akan jatuh tempo pada 16 Mei 2022, dengan jumlah pokok sebesar Rp 484 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 9% per tahun dan berjangka waktu 3 tahun sejak tanggal Emisi.

Selanjutnya ada juga obligasi Seri B yang akan jatuh tempo pada 16 Mei 2024, dengan jumlah pokok sebesar Rp 1,36 triliun, dengan tingkat bunga tetap sebesar 9,75% per tahun dan berjangka waktu 5 tahun sejak tanggal emisi.

“Jumlah pokok obligasi tersebut dapat berkurang sehubungan dengan pelunasan pokok obligasi dari masing-masing seri obligasi dan pelaksanaan pembelian kembali sebagai pelunasan obligasi sebagaimana dibuktikan dengan sertifilkat jumbo obligasi, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 5 Perjanjian Perwaliamanatan,” paparnya.

Masa penawaran akan berlangsung pada tanggal 13 Mei 2019. Kemudian tanggal penjatahan akan dilakukan pada 14 Mei 2019. Tanggal distribusi obligasi secara elektronik akan dilakukan pada 16 Mei nanti, sehingga pada 17 Mei 2019 akan dilakukan pencatatan di BEI.

Adapun susunan dan jumlah porsi serta persentase dari penjamin pelaksana emisi obligasi serta penjamin emisi obligasi adalah sebagai berikut:

  1. Bahana Sekuritas, untuk obligasi Seri A sebesar Rp 90 miliar. Seri B sebesar Rp 216 miliar, dengan total penjaminan sebesar Rp 306 miliar atau setara 16,58%.
  2. BNI Sekuritas, untuk obligasi Seri A sebesar Rp 35 miliar. Seri B sebesar Rp 294,75 miliar, dengan total penjaminan sebesar Rp 329,75 miliar atau setara 17,87%.
  3. DBS Vickers Sekuritas Indonesia, untuk obligasi Seri A sebesar Rp 160 miliar. Seri B sebesar Rp 105 miliar, dengan total penjaminan sebesar Rp 265 miliar atau setara 14,36%.
  4. Danareksa Sekuritas, untuk obligasi Seri A sebesar Rp 58 miliar. Seri B sebesar Rp 161 miliar, dengan total penjaminan sebesar Rp 219 miliar atau setara 11,87%.
  5. Indo Premier Sekuritas, untuk obligasi Seri A sebesar Rp 30 miliar. Seri B sebesar Rp 353 miliar, dengan total penjaminan sebesar Rp 383 miliar atau setara 20,75%.
  6. Mandiri Sekuritas, untuk obligasi Seri A sebesar Rp 111 miliar. Seri B sebesar Rp 232 miliar, dengan total penjaminan sebesar Rp 343 miliar atau setara 18,58%.

Sumber Bisnis, edit koranbumn

 

 

Check Also

Digitalisasi Pembayaran, BNI Fasilitasi Hak Tanggungan Secara Online

Kini proses pengurusan Hak Tanggungan dapat dilakukan secara online. Kemudahan proses tersebut dibarengi dengan digitalisasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *