Home / Berita / Penurunan Pendapatan Jasa Marga Dampak dari Pencatatan Akuntansi

Penurunan Pendapatan Jasa Marga Dampak dari Pencatatan Akuntansi

PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) mengungkapkan penurunan pendapatan 26% di semester I-2019 merupakan dampak teknis dari pencatatan akuntansi.

Corporate Finance Group Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk Eka Setya Adrianto mengungkapkan sejak tahun 2012 JSMR menganut pencatatan sesuai dengan ISAK 16.

Pria yang akrab disapa Adri itu mengatakan ISAK 16 mengatur pencatatan konsesi terdiri dari dua aktivitas yaitu pembangunan dan operasi. “Sehingga dalam hal ini kami act like kontraktor dalam setiap ruas yang kami garap,” ujar Adri, Rabu (24/7).

Sehingga mau tidak mau, JSMR harus mengakui nilai proyek tersebut sebagai pendapatan. Meski begitu, tak berdiri sendiri sebagai pendapatan, JSMR juga mencatatkannya sebagai beban konstruksi.

Di sisi lain, JSMR tetap bisa mengklaim sekitar tak lebih dari 1% margin antara pendapatan konstruksi dan beban konstruksi ke dalam hitungan bottom line-nya. “Bersama konsultan keuangan, kami diperbolehkan (mengakui) sekian persen pendapatan konstruksi lantaran dalam proses pembangunan itu kami juga tanggungjawab meski kontraktornya bukan kami,” terang Adri.

Bila ditilik lebih lanjut, pendapatan konstruksi JSMR di semester I-2019 sebesar Rp 8,67 triliun. Sedangkan untuk beban konstruksi sebesar Rp 8,62 triliun. Ada selisih sekitar 0,9% antara kedua pos tersebut.

Sedangkan dari pendapatan operasional tol dan usaha lainnya, JSMR mencatatkan pertumbuhan kinerja sebesar 7,74%.

Pada semester I-2019 JSMR mencatatkan pendapatan operasional sebesar Rp 5,15 triliun. Sedangkan di semester I-2018, pos pendapatan tersebut hanya sebesar Rp 4,78 triliun.

Lantas mengapa pendapatan konstruksi JSMR di semester I-2019 berkurang dibanding periode yang sama di tahun lalu? Adri bilang hal itu wajar seiring dengan rampungnya beberapa ruas tol JSMR, sebagaimana dicatatkan pada semester satu tahun lalu. “Akhir tahun 2018 Trans Jawa sudah mulai beroperasi. Sedangkan di semester I-2018, Trans Jawa masih beberapa dibangun. Wajar kalau akhirnya pendapatan konstruksi kami turun,” jelasnya.

Adri mengatakan dengan model bisnis sedemikian rupa, JSMR lebih memilih untuk menjaga EBITDA perusahaan. Menurutnya wajar bila net income JSMR yang kini sedang cukup banyak berinvestasi akan tertekan. “Karena beban bunga kami pasti naik,” aku Adri.

Dari segi EBITDA naik sebesar 15,4% yakni sebesar Rp 3,34 triliun. Di sisi lain, margin EBITDA JSMR juga tercatat lebih besar 64,9% secara year on year. Pada semester I-2018, margin EBITDA JSMR hanya sebesar 60,5%.

Adri mengatakan ke depan pihaknya memastikan masih akan menjaga keuangan perusahaan.

Ia tidak menampik, penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia beberapa waktu lalu akan dimanfaatkan oleh JSMR untuk melakukan refinancing. Utamanya bagi utang-utang lama yang memiliki kupon besar agar beban bunga perusahaan menjadi lebih ringan. Hingga semester satu, beban bunga JSMR mencapai Rp 1,1 triliun.

Catatan Adri menyebut hingga saat ini rerata besaran kupon pinjaman perbankan berkisar antara 9,25% hingga 9,75% untuk level anak usaha. “Sementara untuk induk di kisaran 8,5%,” ungkap Andri.

Adri mengatakan pihaknya masih akan melanjutkan pola-pola pembiayaan alternatif seperti penerbitan KIK-Dinfra dan RDPT, disamping juga akan menguatkan penambahan aset kepada entitas anak.

Adri membeberkan pihaknya juga sedang mempersiapkan Sub-Holding Trans Jawa untuk melakukan penawaran publik perdana alias IPO. “Namun itu masih lama. Kita masih tunggu ruas di situ mature dan stabil. Mungkin masih dua tahun hingga tiga tahun lagi,” tutupnya

Sumber Kontan, edit koranbumn

Check Also

Digitalisasi Pembayaran, BNI Fasilitasi Hak Tanggungan Secara Online

Kini proses pengurusan Hak Tanggungan dapat dilakukan secara online. Kemudahan proses tersebut dibarengi dengan digitalisasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *