Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan akselerasi fungsi intermediasi Bank Mandiri di tengah tekanan global yang masih berlangsung, sekaligus mempertegas posisinya sebagai salah satu pendorong utama pembiayaan sektor riil.
Riduan menyebut ekspansi kredit didorong oleh strategi sinergi yang fokus pada sektor produktif, termasuk UMKM dan ekonomi kreatif, serta diperkuat oleh pengembangan ekosistem digital.
“Bank Mandiri mengedepankan semangat sinergi untuk mendorong sektor-sektor produktif. Pertumbuhan kredit yang kami capai mencerminkan efektivitas strategi tersebut dalam menjangkau berbagai lapisan ekonomi,” ujar Riduan dalam konferensi pers paparan kinerja Bank Mandiri, Selasa (21/4/2026).
Sejalan dengan ekspansi kredit, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga mencatatkan kinerja kuat dengan pertumbuhan 21,1% YoY menjadi Rp1.675 triliun. Struktur pendanaan turut semakin solid, tercermin dari dana murah (CASA) yang mencapai Rp1.201 triliun atau tumbuh 12,7% YoY.
Di sisi kualitas aset, Bank Mandiri tetap menjaga risiko kredit pada level rendah. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross tercatat 0,98%, lebih baik dibandingkan rata-rata industri sebesar 2,17%, dengan tingkat pencadangan (coverage ratio) mencapai 245%.
Kinerja kredit tersebut juga ditopang oleh penyaluran ke berbagai program prioritas pemerintah, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah mencapai Rp11 triliun kepada lebih dari 87 ribu pelaku UMKM, dukungan pembiayaan Program 3 Juta Rumah (FLPP), serta penguatan ekosistem ekonomi desa melalui Koperasi Desa Merah Putih.
Adapun, Bank Mandiri juga mencatatkan laba bersih sebesar Rp15,4 triliun pada kuartal I/2026, tumbuh 16,6% secara tahunan, dengan tingkat profitabilitas yang tetap terjaga.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















