Home / Berita / Perhutani Fokus Kembangkan Unit Bisnis Industri Biomassa Sebagai Bahan Baku Bioenergi

Perhutani Fokus Kembangkan Unit Bisnis Industri Biomassa Sebagai Bahan Baku Bioenergi

Perum Perhutani pada tahun ini mulai memfokuskan pengembangan unit bisnis industri tanaman biomassa sebagai bahan baku penghasil bioenergi. Bisnis tersebut diprioritaskan sebagai basis perluasan ekspor komoditas dan diyakini akan menjadi kontributor utama terhadap pendapatan perseroan mulai 2025 mendatang.

Direktur Utama Perhutani, Denaldy Mulino Mauna, mengatakan, area pertanaman tumbuhan biomassa bakal dilakukan lahan milik Perhutani seluas 122 ribu hektare. Lahan yang kosong dan tidak produktif diprioritaskan untuk menjadi kawasan tanaman biomassa.

“Pemain biomassa di dunia saat ini masih kecil. Lima tahun ke depan kita akan fokus mengembangan bisnis ini,” kata Denaldy kepada wartawan di Jakarta, Selasa (9/7).

Ia menyampaikan, pada tahun 2019, Perhutani telah memulai penanaman tumbuhan biomassa di lahan seluas 20 ribu hektare dari total target 122 ribu hektare. Dari luas tanam itu, produksi kayu biomassa diprediksi sebesar 52.500 ton. Namun, pada tahun pertama penanaman diakui belum dapat menghasilkan wood pellet yang menjadi bahan baku pembuatan bioenergi.

Meski begitu, Denaldy mengatakan, produksi kayu biomassa tersebut sudah dapat di eskpor ke Korea dan Jepang dengan perkiraan pendapatan sebesar Rp 1,6 miliar. Dua negara itu menjadi pasar utama kayu biomassa karena dibutuhkan sebagai bahan baku pembangkit energi baru terbarukan. Sebagai catatan, wood pellet dapat digunakan untuk substitusi batu bara sebagai penghasil listrik.

Denaldy menegaskan, Perhutani fokus pada pencapaian target di tahun 2025. Pada tahun tersebut, dari luas pertanaman 122 ribu hektare akan dihasilkan 3,05 juta kayu biomassa yang akan dikonversi menjadi 2,03 juta ton wood pellet.

“Kita harapkan dalam waktu lima tahun ke depan klaster tanaman biomassa dapat terbangun sesuai rencana. Dengan begitu, tercipta tambahan pendapatan sebesar Rp 3,5 triliun. Sekitar 85 persen dari pendapatan itu disumbang dari ekspor wood pellet,” kata Denaldy.

Selain memberikan tambahan pendapatan, Denaldy mengatakan bisnis biomassa sebagai partisipasi aktif Perhutani mendorong penggunaan energi baru terbarukan di dunia. Hal itu sejalan dengan visi perseoran pengelola hutan kelas dunia.

Di sisi lain, penanaman tanaman biomassa membantu menyerap gas karbondioksida sekaligus membantu mengurangi emisi CO2 berkat adanya substitusi dari penggunaan batu bara ke wood pellet.

Sementara itu, Project Management Unit Biomassa Perhutani, Citasari, mengatakan, industri biomassa bakal menjadi unit bisnis yang bisa menghasilkan pendapatan dalam waktu cepat. Sebab, untuk tanaman biomassa sejatinya hanya membutuhkan waktu dua tahun untuk siap diolah menjadi wood pellet. Adapun jenis tanaman biomassa yang digunakan Perhutani yakni Gamal dan Kaliandra.

Ia menjelaskan, keuntungan lainnya dari tanam biomassa yakni, pascadilakukan penebangan tidak lagi diperlukan penanaman bibit. “Istilahnya short rotation coppice. Setelah dia ditebang, maka akan tumbuh lagi dan menjadi lebih luas tanpa kita menanam bibit baru,” katanya.

Mengenai kebutuhan investasi Citasari mengatakan, setidaknya bakal menghabiskan dana sebesar Rp 800 miliar untuk pengembangan 122 hekatera lahan tanaman biomassa. Angka itu mencakup biaya penanaman, bibit, dan panen.

Sementara kebutuhan pembangunan pabrik pabrik pengolah kayu biomassa menjadi wood pellet bakal, bakal menghabiskan investasi perseroan sekitar Rp 50 miliar. Pabrik tersebut direncanakan berkapasitas 100 ribu ton wood pellet per tahun dan akan didirikan di Semarang serta mulai beroperasi pada 2021 mendatang.

Namun, ia mengatakan, satu pabrik saja belum cukup. Karena itu, Perhutani tengah menjajaki kerja sama dengan investasi asing maupun dalam negeri untuk pembangunan pabrik wood pellet lainnya dengan kapasitas 70 ribu ton per tahun. “Untuk pabrik yang ini kita butuh investasi 30 miliar. Kita akan joint investmentuntuk pembangunannya,” ujar dia.

Sumber Republika, edit koranbumn

Check Also

Holding Pelindo Jadi Solusi Tingkatkan Standarisasi Pelabuhan RI

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, Elvyn G Masassya menyebutkan saat ini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *