PLN Enjiniring menginisiasi, memfasilitasi, dan mengoordinasikan pelaksanaan Masterclass “Integrating Fish Passage into Sustainable Hydropower Development” bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 11–14 Agustus 2026 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Nota Kesepahaman PLN Enjiniring–BRIN di bidang riset dan inovasi serta pemanfaatannya dalam ekosistem ketenagalistrikan, sekaligus menghadirkan pendekatan lintas disiplin dalam mengintegrasikan aspek keanekaragaman hayati pada pengembangan pembangkit listrik tenaga air.
Pengembangan hydropower memiliki peran strategis dalam mendukung penyediaan energi terbarukan yang andal. Namun, pembangunan infrastruktur seperti bendung, bendungan, dan fasilitas pembangkit juga perlu mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem sungai, termasuk konektivitas habitat serta pergerakan dan migrasi ikan yang dapat terdampak oleh keberadaan infrastruktur tersebut.
Salah satu pendekatan yang dibahas dalam masterclass adalah fish passage, yakni upaya untuk menjaga konektivitas sungai serta mendukung pergerakan ikan melalui atau di sekitar infrastruktur yang menjadi penghalang aliran sungai. Penerapan fish passage menjadi bagian dari konsep sustainable hydropower, yang mengintegrasikan kebutuhan pengembangan energi terbarukan dengan perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan dampak terhadap ekosistem perairan, serta penguatan environmental safeguards.
Direktur Utama PLN Enjiniring, Handy Wihartady, menyampaikan bahwa aspek keberlanjutan lingkungan perlu menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses perencanaan dan desain infrastruktur ketenagalistrikan.
“Pengembangan hydropower tidak hanya berbicara mengenai bagaimana menghasilkan energi bersih dan andal, tetapi juga bagaimana setiap infrastrukturnya direncanakan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem. Melalui kolaborasi bersama BRIN dan para ahli dalam masterclass ini, kami ingin agar aspek biodiversitas, termasuk fish passage, dapat semakin terintegrasi sejak tahap perencanaan dan desain sehingga pengembangan energi terbarukan dapat berjalan selaras dengan perlindungan lingkungan,” ujar Handy.
Masterclass ini secara khusus menggunakan PLTA Masang-2 berkapasitas 44 MW sebagai studi kasus utama, dimana PLN Enjiniring berperan sebagai tim counterpart di sisi PLN dalam pekerjaan DED PLTA Masang-2. Proyek tersebut saat ini berada dalam tahap update Feasibility Study dan Detailed Engineering Design (DED).
Penggunaan PLTA Masang-2 sebagai studi kasus membuat pembahasan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga diarahkan pada kondisi aktual proyek. Melalui pendekatan tersebut, berbagai perspektif dan masukan teknis dapat dikembangkan untuk mendukung penyusunan konsep fish passage yang mempertimbangkan karakteristik sungai, kondisi hidrologi dan hidraulika, kebutuhan engineering, serta aspek lingkungan dan sosial proyek.
Dalam pelaksanaannya, PLN Enjiniring turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari PLN Pusat, PLN Unit Induk Pembangunan, BRIN, para ahli dari Charles Sturt University (CSU), hingga konsultan yang terlibat langsung dalam pengembangan PLTA Masang-2, termasuk Artelia sebagai konsultan DED dan Haskoning sebagai konsultan Environmental and Social Impact Assessment (ESIA).
Kolaborasi lintas disiplin tersebut memungkinkan pembahasan mengenai ekologi, hidrologi dan hidraulika, engineering, serta environmental & social dilakukan secara terintegrasi. Pendekatan ini penting karena perencanaan fish passage tidak hanya berkaitan dengan desain struktur, tetapi juga memerlukan pemahaman terhadap karakteristik aliran sungai, habitat dan perilaku ikan, serta kondisi lingkungan di sekitar proyek.
Melalui masterclass ini, PLN Enjiniring juga berupaya meningkatkan pemahaman dan kapasitas para engineer serta stakeholder PLN dalam mengintegrasikan aspek biodiversitas dan fish passage sejak tahap awal pengembangan proyek. Hasil pembahasan diharapkan dapat memberikan kontribusi konkret bagi perencanaan PLTA Masang-2 yang semakin berkelanjutan.
Secara lebih luas, pembelajaran dari PLTA Masang-2 diharapkan dapat menjadi knowledge dan referensi bagi pengembangan proyek-proyek hydropower PLN lainnya. Dengan demikian, pembangunan pembangkit energi terbarukan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas dan keandalan sistem ketenagalistrikan, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem sebagai bagian dari komitmen PLN Group dalam menjalankan transisi energi dan pembangunan ketenagalistrikan yang berkelanjutan.
Sumber PLN Enjiniring
































