Home / Berita / Telkom Siap Implementasi Layanan 5G untuk Pelanggan Korporat

Telkom Siap Implementasi Layanan 5G untuk Pelanggan Korporat

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) mengklaim siap mengimplementasikan 5G dengan skema Business to Business (B2B) atau untuk pelanggan korporasi.

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah menilai kemungkinan teknologi 5G di Indonesia baru dapat diterapkan di indutri dengan skema B2B.

Ririek melihat sulit untuk memasarkan generasi ke lima secara komersial kepada konsumen mengingat, besarnya nilai investasi yang harus digelontorkan untuk mengembangankan jaringan dan harga layanan yang mahal.

Dia menyampaikan bahwa Telkom sudah siap untuk mengimplematasikan 5G dari segi B2B, jika regulasi dan spektrum telah tersedia.

Telkom telah menjalin pembicaraan dengan salah perusahaan yang begerak di industri kertas di salah satu pulau mengenai pemanfaatan 5G, dalam bentuk joint innovation center.

“Kami siap, meskipun pengembangan jaringan dan layanan 5G ini harus dilakukan secara terukur,” kata Ririek kepada Bisnis.com, Selasa (17/7/2019).

Di samping itu, sambungnya, Telkom juga telah berkerja sama dengan tiga vendor dalam pengembangan pemanfaatan 5G sekaligus uji coba untuk B2B.

Adapun, untuk frekuensi yang digunakan untuk B2B dan B2C menurutnya tidak ada perbedaan.

“Kerja sama yang ada dengan beberapa vendor lebih untuk mengembangkan use case [di industri] termasuk trial,” kata Ririek.

Hingga saat ini implementasi 5G di Indonesia masih terhambat oleh alokasi frekuensi dan regulasi yang belum rampung.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sempat membuka peluang pemanfaatan frekuensi 3,5 Ghz untuk 5G lewat skenario berbagi atau share frekuensi dengan satelit.

Salah satu skenarionya adalah dengan membagi wilayah operasional frekuensi. Implementasi 5G yang membutukan kapasitas besar dari serat optik dapat digelar di perkotaan, sedangkan satelit dengan cakupan yang luas tanpa harus menggelar kabel, dapat memberi pelayanan di daerah rural atau pedesaan.

Namun, wacana tersebut ditentang oleh Asosiasi Satelit Indonesia (Assi). Assi menilai saat ini pemanfaatan satelit di Indonesia masih masif dan prospek bisnis satelit cerah.

Di samping itu, dikhawatirkan terjadi gangguan atau interferensi jika diterapkan sharing frekuensi.

Sumber Bisnis, edit koranbumn

Check Also

IPC Gelar FGD Profesional Auditor Forum

Bekerja sama dengan The Institute of Internal Auditors Indonesia (IIA), dan Associations of Certified Fraud …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *